Merawat Kepercayaan, Menjaga Batas Tepian Suaka Margasatwa Pulau Bawean

Gresik - Tidak semua batas kawasan konservasi berupa pagar, patok beton, atau garis pada peta. Di Pulau Bawean, sebagian batas Suaka Margasatwa justru bersentuhan langsung dengan jalan desa, kebun warga, dan ruang hidup masyarakat yang telah lama tumbuh berdampingan dengan hutan. Di ruang peralihan itulah konservasi diuji setiap hari, bukan semata melalui patroli, tetapi melalui kepercayaan yang dibangun antara manusia dan alam.
Kesadaran itulah yang menjadi landasan kegiatan Resort Konservasi Wilayah (RKW) 09 Gresik Bawean ketika melakukan pemeriksaan lapangan di Grid 194 Blok Teneden, Desa Sukaoneng, Kecamatan Tambak, pada 9 Juli 2026. Pemeriksaan dilakukan setelah petugas menemukan adanya perubahan kondisi vegetasi pada salah satu bagian tepian kawasan yang memerlukan verifikasi lebih lanjut.
Tim segera melakukan identifikasi lapangan melalui pengambilan titik koordinat, pendokumentasian lokasi, serta pencatatan jenis vegetasi yang mengalami perubahan. Langkah tersebut merupakan bagian dari prosedur perlindungan kawasan untuk memastikan setiap dinamika yang terjadi di dalam kawasan konservasi dipahami berdasarkan fakta lapangan, sehingga menjadi dasar dalam menentukan langkah pengelolaan yang tepat.
Pekerjaan tidak berhenti setelah data terkumpul. Menjaga kawasan berarti juga memahami manusia yang hidup di sekelilingnya.
Sehari berselang, tim melanjutkan kegiatan dengan berkoordinasi bersama Pemerintah Desa Sukaoneng dan Kepala Dusun Pasir Panjang. Pertemuan yang berlangsung sederhana di kediaman Kepala Desa itu menjadi ruang dialog untuk saling bertukar informasi sekaligus menyamakan pemahaman mengenai pengelolaan kawasan konservasi yang berbatasan langsung dengan aktivitas masyarakat.
Dalam diskusi tersebut terungkap bahwa sebagian pemahaman masyarakat masih dipengaruhi oleh praktik-praktik pengelolaan vegetasi yang pernah dikenal pada masa lalu. Sementara itu, kebijakan dan tata kelola kawasan konservasi terus berkembang mengikuti regulasi serta pendekatan pengelolaan yang semakin menempatkan kelestarian ekosistem sebagai prioritas utama.
Pemerintah Desa Sukaoneng menyambut baik koordinasi tersebut. Kepala Desa menyatakan komitmennya untuk terus mengingatkan masyarakat agar setiap aktivitas di sekitar kawasan konservasi memperhatikan ketentuan yang berlaku serta mengedepankan kelestarian lingkungan sebagai kepentingan bersama. Komitmen tersebut menjadi modal penting dalam membangun sinergi antara pemerintah desa, masyarakat, dan BBKSDA Jawa Timur.
Kawasan konservasi bukanlah ruang yang terpisah dari kehidupan masyarakat. Sebaliknya, kawasan ini merupakan bagian dari bentang alam yang keberlanjutannya sangat dipengaruhi oleh hubungan harmonis antara manusia dan alam. Karena itu, pendekatan perlindungan kawasan tidak hanya diwujudkan melalui patroli dan pengamanan, tetapi juga melalui edukasi, komunikasi, dan kemitraan yang berkelanjutan.
Suaka Margasatwa Pulau Bawean menyimpan kekayaan hayati yang menjadi identitas pulau, mulai dari vegetasi hutan dataran rendah hingga habitat berbagai satwa liar endemik dan dilindungi. Menjaga kawasan ini berarti menjaga fungsi ekologis yang menyediakan ruang hidup bagi keanekaragaman hayati sekaligus menjaga keseimbangan lingkungan yang menopang kehidupan masyarakat Bawean.
Melalui kegiatan pemeriksaan lapangan dan koordinasi bersama Pemerintah Desa Sukaoneng, BBKSDA Jawa Timur kembali menegaskan bahwa konservasi tidak hanya bertumpu pada perlindungan kawasan, tetapi juga pada pembangunan kesamaan persepsi dengan masyarakat. Patroli, sosialisasi, dan penguatan peran Masyarakat Mitra Polhut akan terus menjadi bagian dari strategi perlindungan kawasan, khususnya pada wilayah-wilayah yang berbatasan langsung dengan permukiman dan akses masyarakat.
Di tepian Suaka Margasatwa Pulau Bawean, batas kawasan bukan sekadar garis yang memisahkan hutan dari ruang kehidupan manusia. Batas itu adalah ruang untuk membangun dialog, menumbuhkan saling percaya, dan menguatkan tanggung jawab bersama. Sebab pada akhirnya, hutan yang lestari tidak hanya dijaga oleh petugas konservasi, tetapi juga oleh masyarakat yang percaya bahwa masa depan alam adalah masa depan mereka sendiri.
Penulis : Fajar Dwi Nur Aji - PEH Ahli Muda
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik
Komentar (0)
Tinggalkan Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!



