Mahasiswa Biologi ITS Belajar Konservasi dari Seekor Nuri Bayan

Gresik - Di sebuah ruang penetasan di Gresik, mahasiswa Biologi ITS menemukan bahwa konservasi tidak hanya berlangsung di dalam hutan. Di balik lahirnya seekor Nuri Bayan hasil penangkaran, tersimpan praktik ilmiah, teknologi, dan sistem pengawasan yang menjadi bagian penting dari upaya menjaga keberlanjutan keanekaragaman hayati.
Mesin tetas bekerja tanpa henti di salah satu sudut Penangkaran CV. Berdikari Bird Farm, Kabupaten Gresik, Rabu (8/7/2026). Di dalamnya, telur-telur Nuri Bayan (Eclectus roratus) berkembang dalam suhu dan kelembapan yang dikendalikan secara cermat. Pemandangan tersebut menjadi pengalaman berbeda bagi mahasiswa Program Studi Biologi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya yang tengah melaksanakan Kerja Praktik di Balai Besar KSDA Jawa Timur.
Didampingi Polisi Kehutanan Pemula Seksi KSDA Wilayah III Surabaya, Deswara Hergo, para mahasiswa mengikuti pemeriksaan teknis terhadap proses penetasan burung hasil penangkaran. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari pembelajaran mengenai penyelenggaraan konservasi ex situ, yakni upaya pelestarian tumbuhan dan satwa liar yang dilakukan di luar habitat alaminya melalui sistem pengelolaan yang terencana dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Pada penangkaran ini, proses penetasan dilakukan menggunakan mesin tetas, bukan melalui pengeraman alami oleh induknya. Penggunaan teknologi tersebut menjadi bagian dari manajemen reproduksi untuk menciptakan kondisi inkubasi yang stabil, meningkatkan keberhasilan penetasan, serta mendukung pengelolaan indukan secara lebih optimal. Bagi mahasiswa, praktik tersebut memperlihatkan bahwa konservasi modern tidak hanya mengandalkan pengalaman lapangan, tetapi juga bertumpu pada penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Pembelajaran kemudian berlanjut pada salah satu aspek yang jarang diketahui masyarakat, yaitu penandaan satwa menggunakan microchip. Teknologi ini menjadi identitas permanen bagi setiap individu satwa hasil penangkaran. Melalui perangkat berukuran kecil yang ditanam pada tubuh satwa, setiap individu memiliki nomor identitas yang dapat dibaca kembali menggunakan alat pemindai sehingga riwayat satwa dapat ditelusuri sejak menetas hingga dipindahtangankan sesuai ketentuan.
Dalam pengelolaan penangkaran, penandaan menggunakan microchip bukan sekadar prosedur administratif. Sistem tersebut merupakan instrumen penting untuk menjamin ketertelusuran (traceability) setiap individu satwa, memastikan asal-usulnya berasal dari hasil penangkaran yang sah, serta mendukung pengawasan terhadap peredaran tumbuhan dan satwa liar.
Melalui identitas yang melekat pada setiap individu, proses pengawasan menjadi lebih akurat sekaligus memperkecil peluang penyalahgunaan penangkaran sebagai sarana memasukkan satwa hasil tangkapan dari alam ke dalam jalur perdagangan yang legal.
Mahasiswa juga diperkenalkan pada keterkaitan antara data reproduksi, pencatatan individu, dan pemenuhan kewajiban pengelola penangkaran. Setiap keberhasilan penetasan, pertumbuhan anakan, hingga penandaan satwa merupakan bagian dari rangkaian pengelolaan yang terdokumentasi sebagai dasar evaluasi populasi serta bentuk pertanggungjawaban dalam penyelenggaraan konservasi ex situ.
Kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa ilmu biologi memiliki peran yang sangat mendasar dalam konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Pengetahuan mengenai reproduksi satwa, embriologi, genetika, fisiologi, perilaku, kesehatan satwa, hingga teknik identifikasi individu menjadi landasan ilmiah dalam memastikan setiap proses pengelolaan berjalan secara tepat. Di sisi lain, kemampuan mengidentifikasi spesies dan memahami karakter biologinya menjadi dasar dalam menentukan metode pemeliharaan, pencatatan populasi, serta pengambilan keputusan pengelolaan yang berbasis sains.
Di tengah meningkatnya tantangan terhadap kelestarian satwa liar, konservasi tidak lagi dipahami sebatas menjaga kawasan atau menyelamatkan satwa di habitat alaminya. Pengelolaan populasi hasil penangkaran, penerapan teknologi penetasan, penandaan individu melalui microchip, hingga dokumentasi setiap tahapan kehidupan satwa merupakan bagian dari sistem konservasi yang saling melengkapi.
Melalui kegiatan Kerja Praktik ini, Balai Besar KSDA Jawa Timur memperkenalkan kepada mahasiswa bahwa keberhasilan konservasi dibangun dari banyak disiplin ilmu yang bekerja secara bersamaan. Di balik seekor Nuri Bayan yang baru menetas, terdapat proses ilmiah, tata kelola, dan pengawasan yang memastikan setiap individu memiliki identitas, asal-usul yang jelas, serta berkontribusi pada tujuan yang lebih besar untuk menjaga keberlanjutan keanekaragaman hayati Indonesia bagi generasi mendatang.
Penulis : Fajar Dwi Nur Aji - PEH Ahli Muda
Editor : Agus Irwanto
Komentar (0)
Tinggalkan Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!



