Mahasiswa ITS Belajar Asesmen Konservasi di Maharani Zoo

Lamongan - Tidak semua satwa liar yang berada di lembaga konservasi dapat dikembalikan ke habitat alaminya. Sebelum keputusan itu diambil, terdapat serangkaian penilaian yang harus dilakukan, mulai dari pemeriksaan kesehatan hingga pengamatan perilaku.
Bagi pengelola lembaga konservasi, cara seekor satwa merespons lingkungan, mencari pakan, atau berinteraksi dengan manusia dapat menjadi petunjuk penting dalam menentukan masa depannya.
Pemahaman tersebut diperoleh empat mahasiswa Program Studi Biologi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya yang sedang melaksanakan Kerja Praktik di Seksi Konservasi Wilayah III Surabaya, Balai Besar KSDA Jawa Timur. Pada Jumat (10/7/2026), mereka mengikuti pembelajaran lapangan di Lembaga Konservasi Maharani Zoo dan Goa, Kabupaten Lamongan, bersama tim teknis Balai Besar KSDA Jawa Timur.
Kegiatan tersebut memperkenalkan salah satu tahapan penting dalam pengelolaan satwa liar di lembaga konservasi, yakni penilaian perilaku satwa (behavioural assessment). Penilaian ini menjadi bagian dari proses evaluasi teknis terhadap satwa yang diajukan sebagai satwa koleksi, sekaligus menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan bentuk pengelolaan yang paling sesuai bagi setiap individu satwa.
Selama kegiatan, mahasiswa melakukan pengamatan terhadap berbagai aspek perilaku satwa, antara lain respons terhadap keberadaan manusia, kemampuan mencari pakan secara mandiri, pola aktivitas harian, interaksi dengan lingkungan maupun sesama jenis, serta kecenderungan mempertahankan perilaku alaminya. Seluruh hasil pengamatan dicatat sebagai bagian dari data ilmiah yang mendukung proses evaluasi konservasi.
Dalam praktik pengelolaan satwa liar, penilaian perilaku tidak berdiri sendiri. Aspek tersebut dipadukan dengan hasil pemeriksaan medis yang dilakukan oleh dokter hewan, meliputi kondisi kesehatan, riwayat penyakit, kemampuan fisik, serta faktor lain yang memengaruhi peluang satwa untuk bertahan hidup apabila dilepasliarkan. Kombinasi antara data medis dan data perilaku menjadi dasar pertimbangan teknis dalam menentukan rekomendasi pengelolaan setiap individu satwa.
Satwa yang masih menunjukkan perilaku liar, mampu beradaptasi dengan lingkungan, memiliki kemampuan mencari pakan secara mandiri, serta didukung kondisi kesehatan yang baik berpotensi untuk dipertimbangkan dalam program pelepasliaran apabila memenuhi persyaratan teknis lainnya. Sebaliknya, satwa yang telah mengalami perubahan perilaku, menunjukkan ketergantungan tinggi terhadap manusia, atau memiliki keterbatasan tertentu dapat direkomendasikan untuk tetap dipelihara sebagai satwa koleksi di lembaga konservasi sehingga kesejahteraannya tetap terjamin.
Bagi mahasiswa Biologi ITS, kegiatan ini memberikan gambaran bahwa pengambilan keputusan dalam konservasi tidak hanya didasarkan pada kondisi fisik satwa. Ilmu biologi, khususnya etologi atau ilmu perilaku satwa, memiliki peran penting dalam menghasilkan rekomendasi pengelolaan yang objektif dan berbasis sains.
Kemampuan mengamati perilaku, memahami adaptasi satwa terhadap lingkungan, serta menginterpretasikan data biologis menjadi kompetensi yang dibutuhkan dalam mendukung pengelolaan konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya.
Melalui kegiatan Kerja Praktik ini, mahasiswa tidak hanya mempelajari teori mengenai perilaku satwa di ruang kuliah, tetapi juga menyaksikan bagaimana data biologis digunakan dalam proses pengambilan keputusan di lapangan. Setiap gerakan, respons, dan kebiasaan satwa menjadi informasi penting yang membantu menentukan bentuk pengelolaan terbaik bagi individu tersebut.
Kolaborasi antara Balai Besar KSDA Jawa Timur, Lembaga Konservasi Maharani Zoo dan Goa, serta Institut Teknologi Sepuluh Nopember menjadi bagian dari upaya membangun sumber daya manusia konservasi yang memiliki kemampuan akademik sekaligus pengalaman lapangan. Dengan demikian, calon biolog tidak hanya memahami satwa sebagai objek penelitian, tetapi juga mampu menerapkan ilmu pengetahuan untuk mendukung pengelolaan konservasi yang adaptif, bertanggung jawab, dan berorientasi pada kesejahteraan satwa serta kelestarian keanekaragaman hayati Indonesia.
Penulis : Deswara Hergo Pamadya - Polisi Kehutanan Pemula & Fajar Dwi Nur Aji - PEH Ahli Muda
Editor : Agus Irwanto
Komentar (0)
Tinggalkan Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!



