Antara Angka, Alam, dan Harapan, Mengungkap Realitas Pengelolaan Cagar Alam Janggangan Rogojampi I
Banyuwangi – Di tengah lanskap hijau Songgon – Banyuwangi, berdiri salah satu benteng terakhir perlindungan keanekaragaman hayati, Cagar Alam (CA) Janggangan Rogojampi I. Namun, seperti banyak kawasan konservasi lainnya, menjaga ekosistem bukan sekadar soal menjaga batas wilayah, melainkan tentang memastikan sistem pengelolaan berjalan efektif di tengah berbagai keterbatasan.
Pada Senin, 25 Mei 2026, Balai Besar KSDA Jawa Timur melalui Seksi KSDA Wilayah V melaksanakan Penilaian Efektivitas Pengelolaan Kawasan Konservasi (Management Effectiveness Tracking Tool / METT) di kawasan tersebut. Kegiatan ini berlangsung di Balai Desa Songgon dan melibatkan berbagai pemangku kepentingan lintas sektor, mulai dari unsur pemerintah daerah, aparat keamanan, pengelola kehutanan, hingga kelompok masyarakat setempat.
Forum ini bukan sekadar pertemuan formal, melainkan ruang refleksi bersama, tempat di mana kondisi riil pengelolaan kawasan diuji secara terbuka, berbasis data, dan melalui diskusi kolektif.
Penilaian dilakukan menggunakan METT versi 4.4, sebuah instrumen yang diakui secara internasional untuk mengukur efektivitas pengelolaan kawasan konservasi. Versi terbaru ini memperluas cakupan evaluasi dengan memasukkan delapan indikator penting, termasuk aspek keselamatan petugas, perubahan iklim, potensi tangkapan karbon, jasa ekosistem, hingga kondisi habitat dan spesies kunci.
Melalui 62 butir penilaian ancaman dan 38 pertanyaan evaluatif, seluruh peserta diajak untuk menilai secara objektif berbagai aspek pengelolaan, mulai dari perencanaan, sumber daya, proses implementasi, hingga capaian hasil di lapangan. Hasilnya kemudian ditetapkan sebagai baseline (T0), yang akan menjadi titik awal untuk mengukur perkembangan pengelolaan di masa mendatang.
Angka Yang Bicara
Dari total skor maksimum 108, CA. Janggangan Rogojampi I memperoleh nilai 55, atau setara dengan 50,93 persen. Angka ini menempatkan pengelolaan kawasan dalam kategori kurang efektif. Namun di balik angka tersebut, tersimpan cerita yang lebih kompleks.
Evaluasi menunjukkan bahwa tantangan utama terletak pada aspek sumber daya (inputs), terutama keterbatasan jumlah personel, dukungan anggaran, serta ketersediaan data dasar yang memadai. Di sisi lain, pada aspek proses (processes), masih terdapat hambatan dalam penegakan hukum, minimnya kegiatan riset, serta belum optimalnya pengelolaan potensi karbon dan jasa lingkungan.
Lebih jauh, belum tersusunnya program edukasi penyadartahuan dan terbatasnya kolaborasi dengan para pihak turut memengaruhi capaian output dan outcome pengelolaan kawasan.
Konservasi Dalam Realitas Lapangan
Temuan ini menegaskan bahwa pengelolaan kawasan konservasi bukanlah pekerjaan yang sederhana. Ia berada di persimpangan antara kebutuhan ekologis, keterbatasan sumber daya, dan dinamika sosial di sekitarnya.
Cagar Alam Janggangan Rogojampi I, dengan luas sekitar 5,002 Ha, bukan hanya ruang bagi flora dan fauna untuk bertahan hidup, tetapi juga ruang interaksi antara manusia dan alam yang membutuhkan pendekatan pengelolaan yang adaptif dan kolaboratif. Kegiatan penilaian METT ini menjadi cermin, bukan untuk menunjukkan kelemahan, tetapi untuk mengidentifikasi ruang perbaikan secara jujur dan terukur.
Dari Evaluasi Menuju Perbaikan
Penandatanganan Berita Acara Penilaian METT menandai berakhirnya kegiatan, namun sekaligus menjadi awal dari langkah yang lebih besar. Data yang dihasilkan bukan sekadar arsip, melainkan fondasi bagi perencanaan strategis ke depan.
Dengan baseline yang telah ditetapkan, upaya penguatan pengelolaan dapat diarahkan secara lebih fokus, mulai dari peningkatan kapasitas sumber daya manusia, penguatan kolaborasi lintas sektor, hingga pengembangan program berbasis riset dan jasa lingkungan.
Di balik segala keterbatasan, harapan tetap tumbuh. Sebab konservasi pada dasarnya adalah tentang komitmen jangka panjang, tentang menjaga yang tersisa, memulihkan yang terdegradasi, dan memastikan bahwa generasi mendatang masih dapat mewarisi kekayaan hayati yang sama.
Cagar Alam Janggangan Rogojampi I mungkin baru berada di “setengah jalan” menuju pengelolaan yang efektif. Namun justru dari titik inilah, arah perubahan dapat mulai ditentukan. Dan di tengah senyap hutan, kerja-kerja kecil yang dilakukan hari ini akan menjadi penentu keberlanjutan esok hari.
Di Banyuwangi, sebuah evaluasi membuka potret nyata pengelolaan kawasan konservasi yang masih berjuang menemukan titik keseimbangannya.
Penulis : Fajar Dwi Nur Aji – PEH Ahli Muda
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Bidang KSDA Wilayah III Jember