Summer Camp Dibuka Di Pupus

Share

PT. PERTAMINA Persero TBBM Surabaya Grup dan Balai Besar KSDA Jawa Timur bekerja sama dengan Yayasan Konservasi Elang Indonesia melakukan kajian keanekaragaman hayati bertajuk Summer Camp 2018. Kegiatan ini diikuti tak kurang 50 peserta dari berbagai kalangan : masyarakat desa penyangga, pecinta alam, kelompok pemerhati lingkungan dan satwa, serta peniliti.

Summer Camp yang dilaksanakan 13-19 September 2018 di Desa Pupus menjadi model kolaborasi dan pelibatan masyarakat secara aktif. Kegiatan dilakukan melalui pembelajaran serta praktek langsung dalam mengumpulkan potensi keanekaragaman hayati di Cagar Alam (CA) Gunung Picis dan CA Gunung Sigogor.

Dalam sambutannya, Kepala BBKSDA Jawa Timur, Nandang Prihadi menyampaikan bahwa masyarakat perlu diberi kesempatan untuk ikut berperan dalam melakukan kajian di kawasan-kawasan konservasi tanpa melanggar aturan yang berlaku. Hasil kajian tersebut akan sangat bermanfaat bagi pengelola kawasan dalam menentukan langkah kebijakannya.

“Berat apabila semua harus kami lakukan sendiri. Dukungan dan peran serta masyarakat sangat diperlukan agar kami dapat melakukan pengelolaan kawasan konservasi dengan lebih baik,” imbuhnya.

Nandang juga mengingatkan agar peserta tidak membuat api sembarangan dan membawa turun kembali sampah.

Sedangkan HSE PT. PERTAMINA Persero TBBM Surabaya Grup, Saiful Hamzah mengatakan bahwa dukungan Pertamina selama 3 tahun ini adalah salah satu bentuk peran aktif mereka dalam ikut pelestarian satwa di Indonesia.

“Kami telah mendukung upaya konservasi Elang Jawa sejak tahun 2016. Ke depannya kami akan tetap berupaya untuk bisa terus berperan dalam upaya konservasi keanekaragaman hayati di Indonesia, khususnya di wilayah Jawa Timur,” ujar Hamzah.

Kawasan konservasi CA Gunung Picis dan CA Gunung Sigogor adalah habitat bagi Elang jawa (Nisaetus bartelsi) di wilayah Kabupaten Ponorogo. kawasan ini dipilih menjadi lokasi pelepasliaran Elang Jawa hasil sitaan/penyerahan yang telah menjalani proses rehabilitasi. Pelepasliaran pertama di kawasan tersebut dilakukan pada akhir tahun 2016 sebanyak 1 ekor dan September 2017 juga seekor.

Menurut Gunawan dari Yayasan Konservasi Elang Indonesia, model kegiatan ini adalah yang pertama dilakukan di Indonesia dimana masyarakat langsung dilatih dan dilibatkan dalam melakukan kajian ilmiah di kawasan konservasi.

“Dari kegiatan ini diharapkan para peserta memperoleh ilmu yang bermanfaat, sedangkan pengelola kawasan juga mendapatkan data yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah,” tambah pria lulusan Biologi UGM 2004 ini.

Diharapkan kegiatan Summer Camp dapat memberikan data potensi keanekaragaman hayati flora dan fauna di kedua cagar alam ini. Sehingga dapat memberikan dukungan terhadap kelestarian Elang Jawa yang menjadi salah satu spesies prioritas terancam punah. (Agus Irwanto)