Berita

Saat Kesadaran Datang Terlambat, Harapan Seekor Monyet Dari Surabaya Masih Ada

Surabaya – Di sebuah sudut kota Surabaya, jauh dari rimbun kanopi hutan tropis yang seharusnya menjadi rumahnya, seekor primata betina menghabiskan sebagian besar hidupnya dalam ruang terbatas. Selama delapan tahun, ia hidup dalam dunia yang dibentuk manusia, tanpa kelompok sosialnya, tanpa kebebasan menjelajah, tanpa kesempatan menjadi dirinya yang liar.

Namun pada Senin, 18 Mei 2026, kisah itu perlahan berubah arah. Tim Matawali Seksi KSDA Wilayah III Surabaya menerima penyerahan satu individu Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) dari seorang mahasiswa, Wisnu Samudera, di kawasan Universitas Hang Tuah Surabaya. Penyerahan ini bukan sekadar proses administratif, melainkan sebuah titik balik, sebuah pengakuan bahwa ada batas antara merawat dan menguasai, antara kepedulian dan kekeliruan.

Tanpa menunda dari informasi diterima, tim yang terdiri dari Polisi Kehutanan Terampil Hartono dan operator Kukuh Iswahyudi bergerak menuju lokasi dengan membawa perlengkapan evakuasi. Di sana, mereka tidak hanya menemukan seekor satwa, tetapi juga sebuah cerita panjang tentang relasi manusia dan alam yang tidak selalu berjalan semestinya.

Berdasarkan keterangan pelapor, monyet tersebut awalnya dibeli oleh seorang mahasiswa lain dan kemudian dipelihara selama bertahun-tahun. Waktu berjalan, dan realitas pun tak bisa dihindari. Satwa liar, betapapun tampak jinak, tetap memiliki kebutuhan biologis dan perilaku yang tidak dapat dipenuhi dalam lingkungan domestik. Ketika kemampuan untuk merawat tak lagi sebanding dengan kebutuhan satwa, keputusan untuk menyerahkan menjadi satu-satunya jalan yang tersisa.

Hasil pemeriksaan menunjukkan satu individu betina dalam kondisi hidup dan relatif sehat. Spesies ini memang tidak termasuk dalam daftar satwa dilindungi nasional, namun tercatat dalam Appendix II CITES. Sebuah pengingat bahwa tekanan terhadap populasi di alam nyata adanya, dan setiap individu memiliki arti penting dalam upaya konservasi.

Proses evakuasi berlangsung tenang. Tim menggunakan kandang angkut standar, memastikan keselamatan sekaligus meminimalkan stres pada satwa. Tidak ada sorak-sorai, tidak ada kegaduhan, hanya kesenyapan yang sarat makna. Dalam diam, satu kehidupan sedang dipindahkan menuju kemungkinan baru.

Perjalanan kemudian berlanjut ke kandang transit Unit Penyelamatan Satwa BBKSDA Jawa Timur di Sidoarjo. Di tempat itulah tahapan berikutnya dimulai, dari observasi medis, pemulihan kondisi, dan rehabilitasi perilaku. Jalan menuju kembali ke alam tidaklah singkat, bahkan mungkin tidak selalu berujung pelepasliaran. Namun setiap langkah tetap berarti, karena setiap upaya adalah bentuk tanggung jawab.

Kisah ini bukan sekadar tentang seekor monyet.

Ia adalah potret dari banyak cerita serupa yang tersembunyi di balik tembok rumah, kandang sempit, atau ruang-ruang yang tidak pernah dimaksudkan untuk kehidupan liar. Ia berbicara tentang ketidaktahuan yang perlahan berubah menjadi kesadaran, tentang keputusan yang mungkin datang terlambat, namun tetap membawa harapan.

Di tengah dinamika hubungan manusia dan satwa liar, satu hal menjadi jelas, bahwa kebebasan bukan sekadar ruang, melainkan hak dasar setiap makhluk hidup. Dan ketika kesadaran itu akhirnya tiba, meski terlambat, selalu ada satu kemungkinan yang tersisa, yaitu harapan.

Penulis : Fajar Dwi Nur Aji – PEH Ahli Muda
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik