Berita

Catatan Lapangan dari Jantung Pulau Bawean

Bawean – Pagi di Bawean tidak pernah benar-benar sunyi. Di balik kabut tipis yang menggantung di antara lereng dan tajuk pohon, suara burung bersahutan, membentuk orkestrasi alami yang hanya dimiliki hutan tropis yang masih hidup. Aroma tanah basah bercampur daun gugur menguar pelan, seolah menjadi penanda bahwa ekosistem ini masih bernafas, masih bekerja, masih bertahan.

Namun, bagi mereka yang berjalan lebih dalam, hutan ini tidak hanya menyuguhkan keindahan. Ia juga menyimpan cerita lain, tentang tekanan, tentang batas yang mulai tergerus, dan tentang keseimbangan yang tidak lagi sepenuhnya utuh.

Selama tujuh hari, dari 8 hingga 14 Mei 2026, tim gabungan dari Resort Konservasi Wilayah 09 Gresik–Bawean bersama Masyarakat Mitra Polhut (MMP) Bawean Lestari memasuki jantung kawasan konservasi. Mereka tidak sekadar berjalan. Mereka membaca lanskap, menerjemahkan jejak, suara, dan perubahan kecil yang kerap luput dari perhatian.

Sebanyak 15 grid patroli disisir, membentang di blok Gunung Besar dan Payung-payung dengan cakupan area sekitar 70 Ha. Jalur yang ditempuh bukan hanya jalur lama yang telah dikenal, tetapi juga jalur baru yang dibuka menyesuaikan kondisi topografi dan tingkat kerawanan kawasan. Setiap langkah adalah upaya memahami, di mana kehidupan masih kuat bertahan, dan di mana ia mulai melemah.

Dengan perangkat GPS, kamera, dan aplikasi Smart Mobile, setiap temuan dicatat secara sistematis. Data dikumpulkan bukan hanya sebagai arsip, tetapi sebagai dasar pengambilan keputusan, karena di dunia konservasi, setiap detail memiliki arti.

Di kanopi hutan, siluet Elang Ular Bawean (Spilornis cheela baweanus) terlihat berputar perlahan, memanfaatkan arus udara hangat untuk mengawasi wilayahnya. Kehadirannya bukan sekadar simbol keindahan, tetapi indikator penting bahwa rantai makanan masih berfungsi. Di bawahnya, burung-burung seperti pergam hijau, cekakak sungai, hingga cabai jawa bergerak di antara strata vegetasi, mengisi relung ekologisnya masing-masing.

Lebih dekat ke tanah, kehidupan terasa lebih sunyi namun tak kalah dinamis. Jejak kaki Babi Kutil Bawean (Sus blouchi) tercetak samar di tanah lembap, sementara kelompok Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) terlihat berpindah di antara pepohonan, menjaga jarak dari kehadiran manusia. Di senja hari, kelelawar besar (Pteropus vampyrus) keluar dari tempat bertenggernya, memulai perannya sebagai penyebar biji yang tak terlihat namun vital.

Di sela-sela batu dan serasah, katak sawah dan katak tegalan menjadi penanda bahwa siklus air masih berjalan. Sementara itu, kupu-kupu raja (Troides helena) yang melintas dengan sayapnya yang mencolok menjadi simbol rapuhnya keindahan, indah, namun sensitif terhadap perubahan habitat.

Vegetasi Bawean memperlihatkan struktur yang kaya dan berlapis. Pohon pangopa, gondang, hingga badung membentuk kanopi yang menaungi kehidupan di bawahnya. Akar-akar mereka mencengkeram tanah, menahan erosi, sekaligus menjadi fondasi bagi keberlanjutan ekosistem.

Namun, mungkin yang paling memikat adalah kehidupan yang menempel diam di batang-batang pohon: anggrek. Jenis-jenis seperti Phalaenopsis amabilis, Rhynchostylis retusa, hingga Cymbidium bicolor tumbuh sebagai epifit, menggantung di antara cahaya dan bayangan. Di antara mereka, tim menemukan sesuatu yang lebih dari sekadar keindahan, sebuah individu Dendrobium sp. yang diduga sebagai catatan baru bagi kawasan ini. Sebuah penemuan kecil yang membawa arti besar dalam dunia botani.

Namun, seperti halnya banyak lanskap liar lainnya, Bawean tidak sepenuhnya tanpa luka. Di beberapa grid, tim menemukan bekas perambahan, lahan yang telah dibuka, meskipun dalam skala kecil, dan kini ditanami rumput gajah serta ilalang. Luasnya mungkin hanya sepersekian hektar, tetapi dalam perspektif ekologi, ini adalah tanda awal dari tekanan yang bisa meluas jika tidak ditangani.

Interaksi manusia juga terlihat dari aktivitas pengambilan kayu kering dan pemasangan sarang lebah madu. Bagi masyarakat, ini adalah bagian dari strategi bertahan hidup. Namun bagi ekosistem, aktivitas ini perlu dikelola agar tidak berkembang menjadi ancaman yang lebih besar.

Salah satu momen yang paling menggugah adalah ketika tim menemukan bangkai Babi Kutil Bawean dalam kondisi membusuk. Tidak ada tanda yang jelas mengenai penyebab kematiannya. Namun, dalam dunia konservasi, satu kematian pun tidak pernah dianggap sepele. Ia bisa menjadi petunjuk, tentang penyakit, tekanan lingkungan, atau interaksi yang tidak terlihat.

Di sisi lain, keberadaan sumber air alami yang dimanfaatkan melalui instalasi pipa oleh masyarakat menunjukkan keterhubungan yang tidak terpisahkan antara kawasan konservasi dan kehidupan manusia. Hutan ini bukan hanya habitat satwa liar, tetapi juga penopang kehidupan bagi desa-desa di sekitarnya.

Di titik inilah konservasi diuji, bukan hanya sebagai upaya perlindungan, tetapi sebagai proses negosiasi antara kebutuhan ekologis dan sosial.

Tim patroli merespons situasi ini dengan pendekatan yang tidak semata represif. Edukasi langsung dilakukan kepada masyarakat yang dijumpai, menjelaskan pentingnya menjaga kawasan serta batasan dalam pemanfaatan sumber daya. Koordinasi dengan pemerintah desa juga diperkuat, membangun fondasi kolaborasi yang menjadi kunci keberhasilan konservasi jangka panjang.

Langkah ke depan menjadi semakin jelas. Area bekas perambahan perlu dimonitor secara berkala untuk mencegah perluasan. Aktivitas pemanfaatan hasil hutan bukan kayu, khususnya madu, perlu diawasi agar tetap berada dalam prinsip keberlanjutan. Dan yang tak kalah penting, kesadaran kolektif masyarakat harus terus dibangun, karena konservasi tidak akan berhasil tanpa keterlibatan mereka.

Bawean masih hidup. Jejak satwa masih bisa ditemukan, suara burung masih memenuhi pagi, dan anggrek masih mekar di batang-batang tua. Namun, di antara semua itu, terdapat luka-luka kecil yang mengingatkan bahwa keseimbangan ini rapuh.

Hutan ini tidak meminta banyak. Ia hanya membutuhkan ruang untuk tetap menjadi dirinya sendiri. Dan mungkin, tugas kitalah untuk memastikan ruang itu tidak hilang.

Penulis : Fajar Dwi Nur Aji – PEH Ahli Muda
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik