Saat Malam Membawa Sanca Ke Dalam Rumah, Misi Tim Matawali Menyelamatkan Predator Yang Disalahpahami Di Bawean
Bawean – Malam yang seharusnya menjadi waktu beristirahat berubah menjadi kepanikan di Dusun Menara, Desa Gunung Teguh, Kecamatan Sangkapura, Pulau Bawean, Gresik. Seekor ular tiba-tiba ditemukan di dalam kamar warga. Namun, alih-alih berujung pada kematian satwa seperti yang kerap terjadi, peristiwa ini justru menjadi contoh bagaimana respons cepat dan pendekatan konservasi mampu mengubah konflik menjadi penyelamatan.
Kamis, 14 Mei 2026 sekitar pukul 20.00 WIB, Tim Matawali RKW 09 Gresik–Bawean menerima laporan dari seorang warga bernama Maswar. Ular tersebut pertama kali ditemukan oleh anaknya saat hendak beristirahat. Keberadaan satwa liar di ruang privat ini menimbulkan kekhawatiran serius, terutama terkait keselamatan keluarga.
Menindaklanjuti laporan tersebut, tim segera bergerak menuju lokasi. Terdiri dari unsur penyuluh kehutanan dan mitra masyarakat konservasi, kehadiran Tim Matawali tidak hanya untuk mengevakuasi, tetapi juga memastikan bahwa proses penanganan dilakukan secara aman, baik bagi manusia maupun satwa.
Setibanya di lokasi, tim tidak langsung melakukan penangkapan. Pendekatan diawali dengan komunikasi kepada pelapor, menggali kronologi kejadian, serta melakukan observasi kondisi lingkungan sekitar. Dari hasil wawancara, diketahui bahwa kemunculan ular di kawasan permukiman tersebut bukanlah kejadian pertama. Interaksi serupa bahkan cukup sering terjadi.
Yang menarik, masyarakat mulai menunjukkan perubahan sikap. Jika sebelumnya kemunculan satwa liar kerap direspons dengan tindakan pembunuhan, kali ini pelapor memilih meminta bantuan evakuasi. Sebuah indikasi tumbuhnya kesadaran bahwa keberadaan satwa liar merupakan bagian dari sistem ekologis yang lebih besar.
Hasil identifikasi menunjukkan bahwa satwa tersebut adalah Sanca Kembang (Malayopython reticulatus), seekor anakan yang masih berada pada fase awal kehidupannya. Meski tidak termasuk satwa dilindungi, spesies ini memiliki peran ekologis penting sebagai pengendali populasi hewan kecil di alam.
Dengan teknik penanganan yang terukur dan hati-hati, tim berhasil mengevakuasi satwa dalam kondisi hidup. Proses berlangsung tanpa insiden, mencerminkan kesiapan tim dalam menangani situasi konflik manusia dan satwa liar di tingkat tapak.
Antara Habitat dan Permukiman
Fenomena kemunculan sanca di permukiman tidak terjadi tanpa sebab. Secara ekologis, Pulau Bawean merupakan lanskap yang mempertemukan kawasan alami dengan ruang hidup manusia. Kedekatan Dusun Menara dengan Suaka Margasatwa Pulau Bawean menciptakan potensi interaksi yang tinggi.
Sanca Kembang dikenal sebagai spesies dengan daya adaptasi tinggi. Mereka mampu memanfaatkan lingkungan yang telah mengalami perubahan, terutama jika tersedia sumber pakan seperti tikus atau hewan ternak kecil. Perubahan tutupan lahan dan aktivitas manusia turut memperbesar peluang pertemuan ini.
Dalam konteks ini, konflik bukan semata persoalan keberadaan satwa, melainkan refleksi dari dinamika ekosistem yang terus berubah.
Mitigasi, Bukan Eliminasi
Pendekatan yang dilakukan Tim Matawali menunjukkan bahwa solusi terhadap konflik manusia dan satwa liar bukanlah eliminasi, melainkan mitigasi. Penanganan yang cepat dan tepat tidak hanya melindungi masyarakat dari potensi risiko, tetapi juga menjaga keberlangsungan fungsi ekologis satwa.
Satwa hasil evakuasi kemudian diamankan sementara di kandang transit Pos Riset Bawean untuk selanjutnya dilepasliarkan ke habitat alaminya yang lebih representatif.
Ke depan, upaya yang lebih sistematis diperlukan, termasuk edukasi kepada masyarakat, penguatan peran mitra konservasi, serta penyusunan strategi mitigasi berbasis komunitas di wilayah rawan interaksi.
Peristiwa di Dusun Menara menjadi pengingat bahwa batas antara manusia dan alam tidak selalu tegas. Dalam banyak kasus, keduanya saling bersinggungan, dan di situlah pilihan menjadi penting.
Memilih untuk memahami, bukan membasmi. Memilih untuk melindungi, bukan menghakimi.
Di Bawean, malam itu, seekor sanca berhasil diselamatkan. Namun lebih dari itu, yang terjaga adalah satu hal yang jauh lebih besar: keseimbangan antara manusia dan alam.
Penulis : Fajar Dwi Nur Aji – PEH Ahli Muda
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik