Berita

29 Sanca Kembang Diselamatkan, Menyibak Cerita di Balik Konflik Satwa dan Manusia

Tuban – Di tengah ritme kehidupan warga yang berjalan seperti biasa, kehadiran seekor ular di dalam rumah sering kali menjadi kepanikan. Namun di Kabupaten Tuban, yang terjadi bukan hanya satu atau dua kemunculan. Sebanyak 29 ekor Sanca Kembang (Malayopython reticulatus) ditemukan dan dievakuasi dari berbagai sudut permukiman warga, sebuah angka yang mengisyaratkan lebih dari sekadar kebetulan.

Pada Rabu, 13 Mei 2026, tim gabungan dari Resort Konservasi Wilayah (RKW) 03 Bojonegoro, Seksi KSDA Wilayah Bojonegoro, dan Unit Penyelamata Satwa (UPS) BBKSDA JawaTimur menerima penyerahan satwa liar tersebut dari Pemadam Kebakaran Kabupaten Tuban. Sebelumnya, ular-ular ini diamankan oleh petugas Damkar dari dalam rumah warga dan lingkungan sekitarnya, mulai dari dapur, kamar mandi, hingga pekarangan yang berbatasan langsung dengan vegetasi.

Bagi sebagian orang, sanca kembang mungkin hanya dipandang sebagai ancaman. Tubuhnya yang besar, lilitan yang kuat, dan kemampuannya beradaptasi di berbagai habitat membuatnya sering kali ditakuti. Namun di balik itu, spesies ini memegang peran penting sebagai pengendali populasi satwa kecil seperti tikus, yang justru dapat menjadi hama bagi manusia.

Seluruh individu sanca yang berhasil diamankan kemudian diangkut ke fasilitas UPS di Sidoarjountuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Di sana, satwa-satwa tersebut menjalani proses observasi kondisi kesehatan dan perilaku, sebagai dasar untuk menentukan langkah berikutnya, apakah memungkinkan untuk dilepasliarkan kembali ke habitat alaminya atau memerlukan penanganan khusus.

Fenomena kemunculan puluhan sanca di kawasan permukiman bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri. Ia merupakan potret dari lanskap yang terus berubah. Alih fungsi lahan, fragmentasi habitat, serta meningkatnya tekanan aktivitas manusia di sekitar ruang alami mendorong satwa liar keluar dari habitatnya. Dalam situasi seperti ini, batas antara ruang hidup manusia dan satwa menjadi semakin kabur.

Melalui kegiatan Matawali (Penyelamatan Satwa Liar), Balai Besar KSDA Jawa Timur menunjukkan respons cepat dalam menangani interaksi antara manusia dan satwa liar. Namun lebih jauh, upaya ini juga menjadi refleksi bahwa konflik semacam ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan evakuasi. Diperlukan pendekatan yang lebih menyeluruh, mulai dari edukasi masyarakat, pengelolaan habitat, hingga perencanaan tata ruang yang mempertimbangkan keberadaan satwa liar.

Di Tuban, 29 ekor Sanca Kembang telah diselamatkan dari ruang hidup yang tidak semestinya. Tetapi kisah ini belum benar-benar usai. Ia menyisakan pertanyaan penting bagi kita semua: ketika satwa liar semakin sering ditemukan di dalam rumah manusia, siapa sebenarnya yang sedang memasuki wilayah siapa?

Penulis : Fajar Dwi Nur Aji – PEH Ahli Muda
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Bidang KSDA Wilayah I Madiun