Jejak Kakatua Kecil Jambul Kuning di Pulau Masakambing
Masalembu – Di Pulau Masakambing, suara parau nan khas memecah sunyi pagi. Di pucuk-pucuk pohon tinggi Pulau Masakambing, sebanyak 32 individu Kakatua Kecil Jambul Kuning terpantau bertahan. Sebuah angka yang bukan sekadar data, melainkan penanda rapuhnya harapan akan kelangsungan salah satu burung paling langka di Indonesia.
Temuan ini merupakan bagian dari kegiatan Smart Patrol Chapter Tiga yang dilaksanakan oleh tim Seksi KSDA Wilayah IV Pamekasan bersama Masyarakat Mitra Polhut (MMP) Madura Kepulauan pada 4–15 Mei 2026. Dengan menggunakan metode pengamatan point count, tim mencatat keberadaan populasi kakatua endemik tersebut di habitat alaminya, sebuah lanskap yang kini semakin menyempit oleh tekanan ekologis dan aktivitas manusia.
Namun di balik angka 32, tersimpan cerita yang lebih dalam, tentang keterbatasan metode, tantangan medan, hingga kebutuhan mendesak akan pendekatan pemantauan yang lebih adaptif. Pengamatan tunggal di lapangan mengungkap bahwa metode point count belum sepenuhnya efektif untuk menggambarkan perilaku dan distribusi burung yang sangat sensitif ini. Tim merekomendasikan pergeseran metode menuju pengamatan di pohon tidur (roosting site monitoring), yang dinilai lebih akurat untuk individu dengan pola hidup sosial dan lokasi istirahat yang spesifik.
Pulau Masakambing bukan sekadar habitat, ia adalah benteng terakhir. Subspesies abbotti dari Kakatua Kecil Jambul Kuning hanya ditemukan di titik ini, menjadikannya salah satu burung dengan sebaran paling terbatas di dunia. Setiap individu yang bertahan adalah representasi langsung dari keberhasilan atau kegagalan upaya konservasi yang dilakukan.
Lebih dari itu, keberadaan mereka juga menjadi indikator kesehatan ekosistem pulau kecil. Hilangnya satu spesies kunci seperti kakatua dapat memicu efek domino terhadap dinamika hutan, mulai dari penyebaran biji hingga struktur vegetasi.
Di tengah ancaman yang terus mengintai, dari degradasi habitat, gangguan manusia, hingga risiko genetik akibat populasi kecil, harapan masih menyala melalui kolaborasi. Keterlibatan Masyarakat Mitra Polhut menjadi bukti bahwa konservasi tidak bisa berjalan sendiri. Ia membutuhkan kehadiran manusia sebagai penjaga, bukan perusak.
Kini, Pulau Masakambing berdiri sebagai saksi, bahwa konservasi bukan hanya tentang melindungi yang tersisa, tetapi juga tentang memastikan mereka tetap hidup, berkembang, dan kembali memenuhi langit dengan kepakan yang pernah menjadi simbol kelimpahan.
Karena ketika hanya 32 yang tersisa, setiap detak kehidupan menjadi sangat berarti.
Penulis : Fajar Dwi Nur Aji – PEH Ahli Muda
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik