Berita

Menguji Efektivitas Pengelolaan Dua Cagar Alam Kecil Di Laut Jawa

Gresik – Di tepian Pulau Bawean, ombak datang silih berganti, tenang di permukaan, namun menyimpan cerita panjang tentang perubahan yang tak selalu kasatmata. Di tengah lanskap pesisir Desa Daun, Kecamatan Sangkapura, sebuah pertemuan digelar selama tiga hari, dari 30 April hingga 2 Mei 2026. Bukan sekadar forum diskusi, melainkan upaya bersama membaca ulang masa depan dua cagar alam kecil, Pulau Noko dan Pulau Nusa.

Penilaian efektivitas pengelolaan kawasan menggunakan Management Effectiveness Tracking Tool (METT) menjadi inti kegiatan ini. Hasilnya menunjukkan perbedaan tipis namun bermakna. Cagar Alam Pulau Noko memperoleh nilai 66,67 persen, masih berada di bawah ambang efektivitas. Sementara itu, Cagar Alam Pulau Nusa mencatat 69,30 persen, menandakan pengelolaan yang telah berjalan relatif efektif.

Di balik angka-angka tersebut, tersimpan dinamika yang lebih kompleks. Kedua kawasan sama-sama memiliki kekuatan pada aspek perencanaan, dengan skor mencapai 90,48 persen. Ini menunjukkan bahwa kerangka kebijakan dan strategi pengelolaan telah tersusun dengan baik. Namun, tantangan muncul saat rencana itu dihadapkan pada realitas lapangan. Nilai output yang hanya berada di angka 50 % di kedua kawasan menjadi penanda bahwa implementasi belum sepenuhnya optimal.

Pulau Noko menghadapi tekanan yang lebih nyata. Selain menjadi lokasi labuh sementara bagi kapal nelayan, pulau ini juga kerap dimanfaatkan sebagai ruang rekreasi oleh masyarakat sekitar. Aktivitas tersebut, meski bersifat sporadis, perlahan membentuk tekanan terhadap ekosistem. Di saat yang sama, ancaman yang lebih besar datang dari proses alami: kenaikan muka air laut yang terus mengikis daratan pulau. Sebuah ancaman senyap yang tidak mengenal kompromi.

Berbeda dengan itu, Pulau Nusa relatif berada dalam kondisi lebih terkendali. Minimnya gangguan langsung menjadikan kawasan ini mampu menunjukkan capaian yang lebih baik, terutama pada aspek outcome yang mencapai 83,33 %. Angka ini mencerminkan bahwa manfaat pengelolaan mulai dirasakan, baik dari sisi ekologi maupun keberlanjutan kawasan.

Namun, efektivitas pengelolaan kawasan konservasi tidak hanya ditentukan oleh kondisi biofisik semata. Dalam forum yang melibatkan berbagai pihak, mulai dari Muspika Kecamatan Sangkapura dan Tambak, pemerintah desa, kelompok tani hutan, hingga akademisi dan LSM lokal, muncul kesadaran bersama bahwa keterlibatan masyarakat menjadi kunci.

Sejumlah masukan mengemuka, perlunya peningkatan sosialisasi kepada desa penyangga, pemasangan tanda batas kawasan yang jelas, serta keterbukaan akses terhadap hasil penelitian. Lebih dari itu, dorongan untuk memperkuat sinergi antar pihak menjadi benang merah yang mengikat seluruh diskusi.

Evaluasi ini pada akhirnya bukanlah titik akhir, melainkan titik tolak. Rencana aksi yang akan disusun menjadi langkah strategis untuk memperbaiki indikator yang masih lemah. Namun, keberhasilan rencana tersebut sangat bergantung pada satu hal yang tak bisa diukur dengan angka: komitmen.

Di tengah bentangan Laut Jawa, Pulau Noko dan Pulau Nusa berdiri sebagai pengingat bahwa kawasan konservasi, sekecil apa pun, menyimpan tanggung jawab besar. Ombak akan terus datang, membawa perubahan yang tak terelakkan. Pertanyaannya bukan lagi apakah perubahan itu bisa dihentikan, melainkan apakah manusia cukup berkomitmen untuk menjaga yang tersisa.

Karena pada akhirnya, konservasi adalah tentang pilihan, untuk bertahan, atau perlahan kehilangan.

Penulis : Fajar Dwi Nur Aji – PEH Ahli Muda
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik