Upaya Jember Menjawab Lonjakan Konflik Manusia dan Satwa Liar
Jember – Di sebuah aula sederhana di Kabupaten Jember, percakapan tentang luka, bukan sekadar luka fisik, tetapi juga luka ekologis, mengemuka dengan serius. Senin, 20 April 2026, puluhan tenaga kesehatan, aparat, relawan, dan pengelola satwa berkumpul dalam satu ruang, menyatukan kegelisahan yang sama: meningkatnya konflik antara manusia dan satwa liar yang tak lagi bisa dianggap peristiwa sporadis.
Kegiatan sosialisasi penanganan luka akibat gigitan satwa liar dan pelatihan handling satwa ini menjadi respons nyata atas tren yang terus meningkat. Data menunjukkan, kasus gigitan satwa liar di Kabupaten Jember melonjak signifikan dalam tiga tahun terakhir, dari 34 kasus pada 2023 menjadi 89 kasus pada 2025, dan hingga April 2026 telah tercatat 23 kasus. Sebagian besar melibatkan gigitan kucing dan monyet, terutama monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), spesies yang kian sering beririsan dengan ruang hidup manusia.
Kegiatan ini diinisiasi oleh Yayasan Ben Sromben Indonesia bersama Relawan Ben Sromben Indonesia, dengan dukungan penuh dari Bidang KSDA Wilayah III Jember Balai Besar KSDA Jawa Timur, Bakorwil V Jember, serta Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Jember. Kolaborasi lintas sektor ini menjadi kunci dalam merespons persoalan yang kompleks, karena konflik satwa liar bukan hanya isu konservasi, tetapi juga kesehatan masyarakat, sosial, dan tata kelola ruang.
Sebanyak 91 peserta hadir, terdiri dari tenaga kesehatan, petugas pemadam kebakaran, BPBD, relawan, hingga aparat pengamanan wilayah. Mereka tidak hanya mendengarkan, tetapi juga berdiskusi aktif, berbagi pengalaman lapangan yang sering kali berada di antara batas tipis antara keselamatan manusia dan keberlangsungan satwa.
Materi yang disampaikan mencerminkan pendekatan komprehensif. Dari penanganan medis luka gigitan satwa liar oleh dr. Dandy Candra Satyawan, hingga pemahaman konflik manusia dengan satwa liar oleh Femke Den Haas, serta teknik handling satwa oleh drh. Deny Ramadani, semuanya mengarah pada satu tujuan, meningkatkan kesiapsiagaan dan kapasitas bersama dalam menghadapi konflik yang semakin kompleks.
Namun, di balik diskusi teknis dan angka-angka statistik, tersimpan realitas yang lebih dalam. Konflik ini sering kali berakar dari perubahan lanskap, perilaku manusia, dan praktik pemeliharaan satwa liar yang tidak sesuai. Apa yang berawal dari rasa iba atau keinginan memiliki, kerap berujung pada ketidaksanggupan merawat, dan pada akhirnya, risiko bagi manusia, satwa, dan lingkungan.
Sejumlah rekomendasi strategis pun mengemuka. Mulai dari usulan penerbitan surat edaran larangan praktik tertentu seperti eksploitasi primata, penguatan edukasi kepada masyarakat dan pedagang, pemasangan papan larangan penjualan satwa liar, hingga pendataan pemelihara satwa dengan sistem identifikasi seperti microchip. Langkah-langkah ini bukan sekadar administratif, tetapi bagian dari upaya membangun sistem pencegahan yang lebih terstruktur dan berkelanjutan.
Pada akhirnya, kegiatan ini bukan hanya tentang bagaimana menangani luka akibat gigitan satwa liar. Ia adalah cerminan dari upaya manusia memahami kembali batas-batas interaksi dengan alam. Sebab ketika satwa liar mulai menggigit, bisa jadi itu bukan sekadar serangan, melainkan sinyal bahwa keseimbangan sedang terganggu.
Dan dari Jember, sebuah pesan penting mengalir: menjaga jarak yang sehat dengan alam bukan berarti menjauh, melainkan memahami, agar manusia dan satwa tetap dapat hidup berdampingan tanpa saling melukai.
Penulis : Fajar Dwi Nur Aji – PEH Ahli Muda
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Bidang KSDA Wilayah III Jember