Berita

64 Monyet Ekor Panjang Kembali ke Alam Liar, Harapan Baru dari Nusa Barong

Jember – Ombak Samudera Hindia memecah sunyi pagi di pesisir selatan Jawa, saat satu per satu kandang terbuka dan 64 individu Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) menatap kembali dunia yang pernah mereka kenal, hutan liar. Pada 21 April 2026 yang lalu, Balai Besar KSDA Jawa Timur bersama Jaringan Satwa Indonesia (JSI) dan berbagai unsur lintas sektor melepasliarkan satwa hasil rehabilitasi ke kawasan Suaka Margasatwa Pulau Nusa Barong.

Pelepasliaran ini bukan sekadar seremoni, melainkan bagian dari proses panjang pemulihan satwa liar, dari kondisi tertekan akibat interaksi manusia menuju kembali menjalankan perannya sebagai bagian penting dalam ekosistem hutan tropis. Berdasarkan dokumen resmi serah terima, sebanyak 64 ekor Monyet Ekor Panjang (43 jantan dan 21 betina) dalam kondisi sehat telah melalui tahapan rehabilitasi sebelum dilepasliarkan.

Satwa-satwa ini kemudian didistribusikan ke beberapa blok habitat di Nusa Barong dengan pendekatan berbeda. Sebagian melalui metode soft release di kandang habituasi Blok Jeruk, dan sebagian lainnya melalui hard release di Blok Cedingan, Talok, dan Penjalinan.

Di Pantai Nyamplong Kobong, Kecamatan Gumukmas, kegiatan diawali dengan serah terima resmi antara BBKSDA Jawa Barat dan BBKSDA Jawa Timur. Dari titik ini, kelompok-kelompok monyet yang telah diklasifikasikan berdasarkan tanda kandang diberangkatkan menggunakan perahu menuju habitat barunya, menyusuri laut menuju pulau yang masih menyimpan keaslian ekosistem alaminya.

Kegiatan ini melibatkan berbagai pihak, mulai dari unsur Muspika Puger, aparat TNI-Polri, Satgas Pamputer Nusa Barong, POSAL Puger, hingga kelompok masyarakat dan relawan konservasi. Dalam sambutannya, para pemangku kepentingan menegaskan bahwa keberhasilan pelepasliaran tidak hanya bergantung pada kesiapan satwa, tetapi juga pada dukungan ekosistem sosial di sekitarnya.

Pendekatan ilmiah dalam pelepasliaran ini menjadi kunci. Metode habituasi memungkinkan satwa beradaptasi secara bertahap terhadap lingkungan baru, sementara pelepasliaran langsung mendorong individu yang lebih siap untuk segera berintegrasi dengan populasi liar.

Lebih dari sekadar angka, 64 individu ini adalah simbol harapan. Di dalam hutan Nusa Barong, mereka akan kembali menjalankan fungsi ekologisnya, menyebarkan biji, menjaga keseimbangan rantai makanan, dan menjadi bagian dari dinamika hutan yang hidup.

Namun, kisah ini juga menyimpan pesan yang lebih dalam: banyak dari satwa liar yang direhabilitasi berawal dari interaksi manusia, dipelihara, diperdagangkan, atau dipisahkan dari habitatnya. Pelepasliaran menjadi langkah akhir dari sebuah proses panjang yang seharusnya tidak perlu terjadi jika manusia mampu hidup berdampingan tanpa mengambil yang bukan miliknya.

Di bawah kanopi hutan Nusa Barong, langkah-langkah kecil itu kini menjauh—kembali ke tempat yang seharusnya mereka huni sejak awal.

Penulis : Fajar Dwi Nur Aji – PEH Ahli Muda
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Bidang KSDA Wilayah III Jember