Nyaris Dibunuh Karena Mitos: Detik-Detik Penyelamatan Trenggiling Jawa dari Amukan Ketakutan Warga Kediri
Kediri – Di balik kepercayaan lama yang masih hidup di tengah masyarakat, seekor satwa langka nyaris menjadi korban. Tim konservasi bergerak cepat, menyelamatkan, memulihkan, dan mengembalikannya ke habitat alaminya.
Di sebuah sudut desa yang tenang di Kecamatan Ngancar, ketegangan sempat memuncak ketika seekor Trenggiling Jawa ditemukan merayap di sekitar permukiman warga. Bukan rasa kagum yang muncul pertama kali, melainkan ketakutan, dibumbui bisikan kepercayaan lama yang menyebut satwa bersisik itu sebagai pertanda mistis.
Pada Selasa, 21 April 2026, laporan masyarakat yang masuk melalui call center Balai Besar KSDA Jawa Timur menjadi titik awal penyelamatan. Informasi tersebut segera ditindaklanjuti oleh Tim Matawali Resort Konservasi Wilayah (RKW) 01 Kediri, sebuah unit respons cepat yang bergerak di garis depan perlindungan satwa liar.
Warga setempat, yang pertama kali menemukan satwa tersebut, sempat menghadapi tekanan dari pihak-pihak tertentu untuk segera membunuhnya. Alasan yang mengemuka bukanlah ancaman nyata dari satwa itu sendiri, melainkan ketakutan akan mitos, bahwa kemunculan Trenggiling berkaitan dengan praktik pesugihan atau hal-hal gaib lain yang tak berdasar secara ilmiah.
Namun waktu tidak berpihak pada keraguan. Sehari berselang, Rabu, 22 April 2026, tim Matawali tiba di lokasi. Mereka mendapati satwa dalam kondisi fisik yang baik, aktif, responsif, dan menunjukkan perilaku alami yang kuat. Hasil asesmen awal memperlihatkan bahwa individu tersebut masih memiliki insting liar yang utuh, sebuah indikator penting bahwa ia layak untuk segera dikembalikan ke habitat alaminya.
Koordinasi cepat dilakukan dengan petugas di kawasan Cagar Alam Manggis Gadungan—sebuah bentang alam yang masih menyediakan ruang aman bagi spesies ini untuk bertahan hidup. Tanpa menunda waktu, proses translokasi dan pelepasliaran dilakukan pada hari yang sama.
Di bawah naungan vegetasi hutan yang rapat, Trenggiling Jawa itu akhirnya kembali ke alam, tempat di mana ia seharusnya berada, jauh dari bayang-bayang ketakutan manusia. Peristiwa ini kembali menegaskan satu hal penting: ancaman terbesar bagi satwa liar bukan hanya perburuan atau hilangnya habitat, tetapi juga persepsi keliru yang mengakar di masyarakat.
Sebagai salah satu mamalia paling terancam di dunia, trenggiling menghadapi tekanan berat akibat perdagangan ilegal dan minimnya pemahaman publik. Di Indonesia, spesies ini telah dilindungi secara hukum, namun perlindungan tersebut belum sepenuhnya sejalan dengan kesadaran di tingkat akar rumput.
Upaya penyelamatan di Kediri menjadi cerminan bahwa konservasi tidak hanya tentang menjaga hutan dan satwa, tetapi juga tentang membangun pemahaman, mengikis mitos, dan menggantinya dengan pengetahuan. Balai Besar KSDA Jawa Timur menilai bahwa kejadian ini menjadi momentum penting untuk memperkuat edukasi konservasi, baik melalui pendekatan langsung ke masyarakat maupun melalui media digital yang lebih luas jangkauannya.
Karena pada akhirnya, masa depan satwa liar seperti Trenggiling Jawa tidak hanya ditentukan oleh keberadaan hutan, tetapi juga oleh cara manusia memandang dan memperlakukan mereka. Dan di Kediri, setidaknya untuk satu individu, harapan itu masih ada.
Penulis : Fajar Dwi Nur Aji – PEH Ahli Muda BBKSDA Jatim
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Bidang KSDA Wilayah I Madiun