32 Ekor Tersisa di Ujung Kepunahan, Populasi Kakatua Jambul Kuning dari Masakambing
Masalembu – Di sebuah pulau kecil yang nyaris luput dari perhatian peta besar konservasi, suara parau yang khas terdengar memecah pagi. Itu bukan sekadar suara burung, melainkan gema terakhir dari spesies yang berada di ambang hilang.
Di Pulau Masakambing, tim patroli Balai Besar KSDA Jawa Timur mencatat keberadaan sekitar 32 individu Kakatua Kecil Jambul Kuning, subspesies endemik Cacatua sulphurea abbotti yang kini menjadi salah satu burung paling langka di Indonesia.
Pemantauan dilakukan pada awal April 2026 menggunakan metode point count, sebuah teknik yang mengandalkan ketelitian pendengaran dan pengamatan visual dari satu titik. Namun di lapangan, metode ini menghadapi tantangan. Vegetasi rapat dan pergerakan burung yang dinamis membuat deteksi tidak selalu optimal, menyisakan kemungkinan bahwa angka yang tercatat bisa jadi lebih kecil dari kenyataan, atau justru sebaliknya.
Kakatua ini bukan sekadar burung. Ia adalah penanda kesehatan ekosistem pulau kecil. Ketika populasinya menurun, itu berarti ada sesuatu yang berubah, entah tekanan habitat, gangguan manusia, atau rantai ekologi yang mulai terganggu.
Selama beberapa dekade terakhir, subspesies ini terus menghadapi tekanan dari hilangnya habitat hingga perburuan ilegal di masa lalu. Kini, ketika jumlahnya hanya puluhan, setiap individu menjadi sangat berarti, bukan hanya untuk keberlangsungan spesies, tetapi juga sebagai simbol keberhasilan atau kegagalan konservasi.
Tim di lapangan merekomendasikan perubahan pendekatan. Metode pengamatan di pohon tidur (roosting site) dinilai lebih efektif, terutama jika dilakukan oleh satu pengamat. Di lokasi-lokasi tertentu, kakatua cenderung berkumpul saat senja dan fajar, memberikan peluang lebih akurat untuk menghitung populasi nyata.
Namun waktu tidak berpihak. Dengan hanya puluhan individu tersisa, kehilangan satu saja bukan lagi statistik, melainkan kemunduran besar.
Pulau Masakambing hari ini adalah garis depan terakhir. Dan di antara dahan-dahan tempat mereka bertengger, masa depan spesies ini sedang dipertaruhkan, dalam diam.
Jika suara itu berhenti suatu hari nanti, bukan karena alam yang memilih. Tapi karena kita terlambat mendengar.
Penulis : Fajar Dwi Nur Aji – PEH Ahli Muda
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik