Berita

94 Jenis Tumbuhan, Jejak Rusa, Dan Sarang Gosong Yang Menunggu Diselamatkan Di Cagar Alam Pulau Saobi

Sumenep – Di sebuah pulau kecil di Timur Madura, kehidupan tumbuh dalam diam, rapuh, namun bertahan. Cagar Alam Pulau Saobi bukan sekadar bentang alam yang terisolasi, melainkan lanskap hidup yang menyimpan jejak keanekaragaman hayati yang luar biasa. Dari 94 jenis tumbuhan yang tercatat, hingga jejak rusa timor dan sarang burung gosong kaki merah, semuanya menjadi penanda bahwa pulau ini masih menyimpan denyut kehidupan liar yang autentik.

Inventarisasi lapangan yang dilakukan Balai Besar KSDA Jawa Timur pada 14 – 19 April 2026 menjadi pintu masuk untuk membaca ulang arti penting Pulau Saobi. Kegiatan ini merupakan bagian dari penyusunan Rencana Pengelolaan Jangka Panjang (RPJP), yang bertujuan memastikan keberlanjutan ekosistem di tengah berbagai tekanan yang terus mengintai.

Tim yang dipimpin oleh Asep Hawim Sudrajat, Kepala Seksi KSDA Wilayah IV, bersama Usgiantoro, Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda, menemukan bahwa Pulau Saobi adalah ekosistem yang utuh dalam skala kecil. Hutan tropis dataran rendah mendominasi daratan, menyimpan puluhan jenis flora yang menjadi fondasi kehidupan. Di sisi pesisir, mangrove seluas 27,76 hektare berdiri sebagai benteng alami, menahan abrasi sekaligus menjadi habitat berbagai biota.

Namun salah satu lanskap paling menarik justru terletak pada hamparan savana seluas 5,73 hektare. Di ruang terbuka ini, kehidupan satwa liar bergerak lebih leluasa. Jejak rusa timor ditemukan dalam 84 tanda perjumpaan tidak langsung, sebuah indikasi populasi yang masih aktif. Sementara itu, burung gosong kaki merah, spesies unik yang menggantungkan reproduksinya pada panas alami tanah, tercatat memiliki 104 sarang yang tersebar di kawasan tersebut.

Data ini bukan sekadar angka. Ia adalah narasi tentang kelangsungan hidup.

Namun, seperti banyak kawasan konservasi lainnya, Pulau Saobi tidak steril dari tekanan. Di musim kemarau, ketika vegetasi pakan menipis, ternak milik masyarakat dilepas bebas ke dalam kawasan. Penggembalaan liar ini secara perlahan mengubah struktur vegetasi dan berpotensi mengganggu habitat satwa.

Tekanan lain datang dari aktivitas ilegal yang masih tersisa. Sepanjang tahun 2025, tercatat 52 gangguan kawasan dengan sembilan jenis pelanggaran, termasuk pencurian kayu. Meski intensitasnya menurun seiring berkurangnya ketergantungan masyarakat terhadap hutan, ancaman ini tetap menjadi catatan penting dalam pengelolaan kawasan.

Akses jalan yang membelah kawasan juga menjadi dilema tersendiri. Jalur ini digunakan masyarakat untuk mobilitas hasil panen sekaligus penghubung dua dusun, Pajennasem dan Lao’anna. Di satu sisi, ia menjadi kebutuhan sosial-ekonomi, namun di sisi lain membuka fragmentasi ruang alami.

Sementara itu, savana yang menjadi ruang vital bagi satwa liar perlahan menyusut. Proses suksesi alami menyebabkan munculnya semak dan anakan pohon, mengubah karakter lanskap terbuka menjadi lebih tertutup. Di wilayah pesisir, aktivitas pengambilan pasir untuk kebutuhan pembangunan rumah turut memberikan tekanan tambahan, terutama di sekitar ekosistem mangrove.

Di tengah berbagai tantangan tersebut, masyarakat justru merasakan manfaat nyata dari keberadaan kawasan ini. Sumber air tanah tetap tersedia sepanjang tahun, tidak pernah kering bahkan di puncak musim kemarau. Air yang dihasilkan pun cenderung tawar, sebuah fenomena penting bagi pulau kecil yang dikelilingi laut. Selain itu, kawasan ini juga berperan dalam menjaga stabilitas air bagi lahan pertanian, terutama saat musim hujan.

Fakta ini menegaskan satu hal, bahwa Pulau Saobi bukan hanya penting bagi satwa liar, tetapi juga bagi keberlangsungan hidup manusia. Kesadaran ini mulai menemukan bentuknya dalam diskusi bersama Pemerintah Desa Saobi.

Sejumlah langkah strategis mulai dirumuskan, mulai dari peningkatan sosialisasi nilai konservasi kepada masyarakat, hingga rencana penyediaan jalur alternatif di luar kawasan untuk mengurangi tekanan langsung terhadap cagar alam. Lebih jauh, semangat kolaborasi antara pengelola kawasan dan masyarakat menjadi kunci yang mulai dibangun.

Pulau Saobi adalah potret kecil dari wajah konservasi Indonesia, di mana kekayaan hayati bertemu dengan realitas sosial. Ia mengajarkan bahwa konservasi tidak bisa berdiri sendiri. Ia harus tumbuh bersama masyarakat, beradaptasi dengan kebutuhan, dan tetap menjaga batas agar alam tidak kehilangan jati dirinya.

Kini, di tengah sunyi pulau yang jarang disebut, 94 jenis tumbuhan tetap tumbuh, rusa masih meninggalkan jejak, dan burung gosong terus menanam harapan melalui sarangnya. Pertanyaannya bukan lagi apakah Pulau Saobi layak diselamatkan. Tetapi, seberapa cepat kita bergerak sebelum semuanya tinggal cerita.

Penulis : Fajar Dwi Nur Aji – PEH Ahli Muda 
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik