Mengantisipasi Ledakan Wisata Lebaran di Kawah Ijen
Banyuwangi – Libur panjang menjelang Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri tahun ini diperkirakan memicu lonjakan wisatawan ke Taman Wisata Alam Kawah Ijen, salah satu destinasi unggulan di ujung timur Pulau Jawa. Mengantisipasi situasi tersebut, pengelola kawasan bersama aparat keamanan dan pemerintah daerah mulai menyiapkan langkah pengendalian sejak awal Maret.
Pada 9 Maret 2026, Kepala Resort Konservasi Wilayah (RKW) 14 Kawah Ijen mewakili Balai Besar KSDA Jawa Timur menghadiri rapat koordinasi lintas sektoral yang digelar di Mapolresta Banyuwangi. Pertemuan itu merupakan bagian dari persiapan Operasi Ketupat Semeru 1447 H/2026, operasi pengamanan terpadu yang digelar setiap musim mudik Lebaran.
Rapat dipimpin oleh Wakapolresta Banyuwangi bersama Wakil Bupati Banyuwangi serta Kasdim 0825 Banyuwangi. Sejumlah instansi yang terlibat dalam pengelolaan destinasi wisata dan pengamanan wilayah turut hadir dalam pertemuan tersebut.
Salah satu perhatian utama dalam rapat itu adalah potensi lonjakan wisatawan ke Kawah Ijen. Tahun ini, jarak waktu antara Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri relatif berdekatan, sehingga periode libur diperkirakan berlangsung lebih panjang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Untuk mengantisipasi situasi tersebut, pemerintah daerah dan aparat keamanan akan membuka posko terpadu Operasi Ketupat Semeru mulai 13 Maret hingga 25 Maret 2026, atau selama 13 hari.
Bagi pengelola kawasan konservasi, lonjakan kunjungan wisata selalu membawa dua konsekuensi sekaligus: peluang ekonomi bagi masyarakat sekitar, namun juga risiko terhadap keselamatan pengunjung serta kelestarian ekosistem.
Untuk itu, sejumlah langkah pengendalian mulai dipersiapkan. Salah satunya adalah pengaturan area parkir, guna mencegah kendaraan wisatawan menumpuk hingga ke badan jalan menuju kawasan Ijen, situasi yang kerap terjadi pada musim liburan. Selain itu, pengelola juga diminta memastikan sistem pelayanan tiket berjalan lancar agar tidak memicu antrean panjang di pintu masuk kawasan.
Langkah lain yang menjadi perhatian adalah pengaturan kuota pengunjung. Pembatasan ini dianggap penting untuk menghindari membludaknya wisatawan di jalur pendakian menuju kawah, yang memiliki kapasitas ruang terbatas dan kondisi medan yang cukup menantang.
Di sisi lain, pengamanan kawasan selama periode libur juga akan diperkuat. Pengelola Taman Wisata Alam (TWA) Kawah Ijen berencana melibatkan masyarakat setempat, serta unsur TNI dan Polri, untuk membantu pengawasan dan pengamanan di lapangan. Jumlah personel yang dilibatkan akan disesuaikan dengan kebutuhan operasional serta dukungan anggaran yang tersedia.
Kawah Ijen selama ini dikenal sebagai salah satu magnet wisata alam Indonesia, terutama karena fenomena api biru (blue fire) yang hanya terdapat di dua tempat di dunia. Popularitas tersebut membuat kawasan ini hampir selalu mengalami lonjakan pengunjung pada musim liburan.
Namun bagi pengelola kawasan konservasi, tantangan sesungguhnya bukan sekadar mengelola arus wisata, melainkan memastikan bahwa meningkatnya jumlah pengunjung tidak mengorbankan keselamatan manusia dan kelestarian ekosistem vulkanik yang rapuh.
Penulis : Fajar Dwi Nur Aji – PEH Ahli Muda BBKSDA Jatim
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Bidang KSDA Wilayah III Jember