Summer Camp di Sigogor Butuh Kesabaran Ekstra

Share

Saat malam tiba, para peserta Summer Camp lebih memilih untuk berkumpul bersama. Tak terbesit kelelahan sedikitpun di wajah mereka, yang tampak hanya gembira dan tertawa bersama.

Candaan sering terselip diantara mereka saat menceritakan kegiatan hari itu. Beberapa hari bersama selama Summer Camp, membuat mereka semakin akrab dan lebih mengenal satu sama lainnya.

Itu yang terlihat saat Kepala Seksi Konservasi Wilayah (SKW) ll, Andik Sumarsono mengunjungi Camp l di Blok Ngesep, 17 September 2018. Bersama Gunawan dari Yayasan Konservasi Elang Indonesia (YKEI) Andik ingin mengetahui keadaan peserta setelah 2 hari melakukan identifikasi flora dan fauna di Cagar Alam (CA) Gunung Sigogor, Ponorogo.

Beberapa fauna berhasil diidentifikasi seperti Elang Jawa, Elang Ular Bido, Takur, Cucak, Kutilang, Pipit, Julang, Ayam Hutan Hijau, Bubut, Kijang, Landak, Ular Bandotan, Ular Cobra, Ular Luwuk, dan jejak yang di duga kucing besar. Namun beberapa jenis aves belum teridentifikasi, karena suara yang tidak jelas dan kerapatan tajuk yang membuat sulit proses identifikasi atau dokumentasikannya.

Untuk tim flora Camp l, dijumpai pada grid 144 jenis Jurang menguasai vegetasi, dan hanya menyisakan sebuah Pohon Suren. Tim flora hanya mengidentifikasi tumbuhan jenis tiang atau pancang dan anggrek saja, karena keterbatasan waktu.

Menurut Agus Sugianto, peserta Summer Camp dari Lumajang, kendala utama yang dirasakannya adalah faktor medan Sigogor.

“Topografi yang rapat, dan kerapatan vegetasinya, memerlukan kesabaran yang ekstra,” ujar pria berkumis ini.

Gunawan menyarankan untuk pengamatan burung dilakukan di daerah peralihan hutan dengan daerah terbuka, sekitar pohon yang roboh, tempat yang memiliki paling tinggi dibandingkan daerah sekitarnya. Tak perlu ada dokumentasi untuk meyakinkan suatu jenis burung.

“Jika sudah yakin, ya masukkan saja dalam data,” imbuhnya.

Saat berjalan bersama, ia sarankan agar tim aves sedikit menjauh dari tim yang lain. Ini untuk menghindari keriuhan yang disebabkan oleh proses identifikasi oleh tim lainnya.

Dengan dijumpainya Elang Jawa di areal grid milik Camp l, membuat pembahasan range burung ini disekitar cagar alam menjadi lebih berkembang. Beberapa lokasi yang masih belum terpantau, perlu dilakukan monitoring kedepannya.

Semakin malam, diskusi semakin menghangat terkait hasil temuan 2 hari eksplorasi ini. (Agus Irwanto)