Populasi banteng jawa di TN Baluran mengkhawatirkan

Share

Taman Nasional Baluran, Situbondo, Jawa Timur bekerjasama dengan Taman Safari Indonesia (TSI) Prigen, Rabu, mencanangkan program pembiakan semialami Banteng Jawa (bos javanicus), dengan membuat kandang alam di dalam area konservasi taman nasional setempat seluas 8.000 meter persegi.

 

Prosesi pencanangan dipimpin langsung oleh Dirjen Konservasi dan Keanekaragaman Hayati (KKH) Kementrian Kehutanan RI, Novianto Bambang dengan disaksikan oleh Kepala Taman Nasional Baluran, Emi Endah Suwarni serta Direktur Taman Safari Indonesia (TSI) Prigen, Tony Sumampaw.

“Program ini merupakan salah satu upaya pemerintah untuk meningkatkan kembali populasi genetis asli Banteng Jawa di Indonesia, khususnya yang ada di Taman Nasional Baluran,” terang Novianto Bambang usai pencanangan program konservasi dan pembiakan semialami Banteng Jawa di Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I Bekol, TN Baluran.

Dijelaskan, tahapan program pembiakan Banteng Jawa telah dimulai sejak 2010 dan direncanakan berakhir pada 2014, dengan nilai anggaran konservasi mencapai sekitar Rp1 miliar.

Program dimungkinkan kembali dilanjutkan setelah mengevaluasi hasil pembiakan sebelumnya, dengan proyeksi peningkatan populasi Banteng Jawa sekitar tiga (3) persen.

“Saat ini ada tiga ekor Banteng Jawa, terdiri dari satu pejantan dan dua betina yang kami tangkarkan di kandang alam Taman Nasional Baluran. Target tiga persen peningkatan populasi tentu diukur secara nasional, baik hasil pebiakan semialami di Baluran maupun di taman nasional lain seperti di TN Merubetiri, Ujungkulon, Taman Safari maupun di tempat-tempat penangkaraan lainnya,” terang Novianto.

Jumlah Banteng Jawa yang hidup di alam, menurut data survei TN Baluran tahun 2012 terdeteksi sebanyak 26 ekor.

Populasi satwa liar dilindungi yang menjadi ikon Taman Nasional Baluran ini dari tahun ke tahun ditengarai memang terus mengalami penurunan.


Kepala Taman Nasional Baluran, Emi Endah Suwarni menyebut, pada tahun 2002 survei yang mereka lakukan hanya berhasil mengidentifikasi Banteng Jawa sebanyak 15 ekor. 

Populasi selanjutnya cenderung fluktuatif, diduga akibat kerusakan ekosistem savana yang menjadi habitat asli Banteng Jawa, perburuan liar, serangan binatang buas anjing liar (disebut `ajag`), konflik dengan manusia, hingga penetrasi sapi liar (diyakini sapi piaraan penduduk sekitar yang dilepasliarkan) yang jumlahnya mencapai ribuan.

Pada tahun 2009, jumlah Banteng Jawa liar di Taman Nasional Baluran maupun Merubetiri sempat naik menjadi 40 ekor, namun hasil survei selanjutnya kembali menurun dan hanya mendeteksi sebanyak 20-an ekor pada 2011, dan berubah lagi menjadi 26 ekor pada 2012.

“Ini berdasar hasil pendataan yang dilakukan tim survei kami di beberapa spot yang kami temukan jejak Banteng Jawa, dengan memasang kamera pengintai (camera trap),” jelas Emi saat memberikan paparan di hadapan puluhan tamu undangan dari perwakilan sejumlah taman nasional, BKSDA, Perhutani, Forpimda Situbondo, serta TNI AL

Dikatakan Emi, hitungan riil jumlah Banteng Jawa (hasil survei) mungkin saja tidak sama persis dengan eksistensinya di alam liar, karena alasan luasan wilayah dan perpindahan (migrasi). 

Tetapi dengan semakin sulitnya dalam melakukan pengidentifikasian jumlah Banteng Jawa yang ada di alam liar ini sudah cukup memberi gambaran bahwa populasi satwa ini sudah pada tahap mengkhawatirkan.

 

Sumber : www.antaranews.com