Bunga Edelweiss Terancam Kelestariannya

Share

Sumber Foto : florafaunaofindonesia.wordpress.com

Edelweiss (Anaphalis Javanica) atau yang populer disebut oleh kaum pendaki sebagai Bunga Abadi ini nasibnya di ujung tanduk. Pasalnya, Edelweiss sering digunakan oleh masyarakat Tengger sebagai sesaji ritual adat.

Maka dari itu, sejak 2006 Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BBTNBTS) terus mengembangkan budidaya Bunga Edelweiss. Hal ini diungkapkan oleh M Wahyudi, Kepala Bidang Teknis Konservasi BBTNBTS. Dia mengatakan, semakin tahun, Bunga Edelweiss keberadaaannya semakin memprihatinkan. Sejak saat itu, budidaya Bunga Edelweis dicoba untuk ditanam di luar kawasan konservasi.

“Sudah sejak lama kami terus mengembangkan penanaman Edelweiss. Karena setiap ada upacara adat Suku Tengger, mereka meminta Bunga edelweiss. Takutnya akan berkurang dan habis. Sejak 2007 kami coba menanam di Desa Wonotoro dan Ranu Regulo. Tapi belum berhasil,” papar Wahyudi, Selasa (31/1/2017).

Baru tahun 2014 konsep taman Edelweiss berhasil ditanam di tujuh SD dan satu SMP di Desa Ngadisari dan Desa Sukapura. Dari situ, bibit Edelweiss mulai diproduksi. Nantinya, masyarakat bisa memanfaatkan Edelweiss sebagai sumber ekonomi. Percobaan menanam Edelweiss di luar kawasan konservasi ini tidak mudah. Namun hal ini harus dilakukan untuk upaya pelestarian Edelweiss.

“Tak hanya pelestarian, tetapi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dalam kawasan TNBTS. Ekonomi yang dihasilkan oleh Edelweiss ini sangat tinggi.”

Sementara itu, kepala BBTNBTS, John Kenedie, menambahkan bibit Edelweiss harus tersebar di seluruh desa kawasan TNBTS.

“Apalagi banyak masyarakat yang mengambil di pinggir jalan. Lama-lama nanti habis. Nah ini kalau dibiarkan, dua sampai tiga tahun lagi habis. Makanya penanaman di luar konservasi harus berhasil,” tegasnya.

Sumber : suryamalang.tribunnews.com