Tiga Lutung Jawa Kembali ke Rimba Nusa Barung
Share
Tiga individu lutung Jawa (Trachypithecus auratus) akhirnya kembali menjejak rumahnya, Rabu (26/11/2025), dalam sebuah momen yang menandai lembaran baru upaya pemulihan populasi primata endemik Jawa. Di bawah tajuk pepohonan Blok Cambah, Suaka Margasatwa Pulau Nusa Barung, tiga sosok itu, satu jantan bernama Deni, dan dua betina Sofia serta Princess, melompat keluar dari kandang angkut, lenyap dalam gerak gesit yang hanya menyisakan daun-daun bergetar.
Pelepasliaran ini merupakan kolaborasi penuh antara Balai Besar KSDA Jawa Timur, Javan Langur Centre (JLC), dan Pokmas Pura Lestari, menggunakan metode hard release, sebuah pendekatan yang memungkinkan satwa langsung beradaptasi dengan lingkungan alaminya setelah melalui proses rehabilitasi yang ketat.
Lutung Jawa adalah penjaga kanopi hutan, primata folivora yang menghabiskan hidupnya di strata atas rimbun pepohonan. Populasinya di alam terus tergerus oleh fragmentasi habitat, perburuan, dan perdagangan ilegal. Mengembalikan tiga individu ini berarti menghadirkan kembali tiga denyut kehidupan untuk sebuah ekosistem yang bertahun-tahun terus menuntut perhatian.
Masing-masing lutung tersebut memiliki rekam jejak penanganan yang jelas, lengkap dengan identitas mikrochip dan asal usul penitipan, sebagai bagian dari prinsip akuntabilitas konservasi modern. Sofia dan Princess merupakan satwa titipan BBKSDA Jawa Timur pada 2024 dan 2025, sementara Deni diserahkan pada Februari 2025 dan menjalani perawatan di bawah supervisi JLC sebelum dinyatakan siap kembali ke alam.
Saat pintu kandang terbuka, tidak ada yang tergesa. Sofia sempat menatap rimbunnya pepohonan sebelum akhirnya melompat, seolah memastikan bahwa dunia yang pernah hilang kini benar-benar kembali. Princess menyusul dengan lompatan ringan, sementara Deni, jantan dewasa dengan tubuh lebih kekar, menetapkan jejak terakhir sebelum memimpin arah menuju bukit kecil di sisi utara blok pelepasliaran.
Nusa Barung, kembali menerima tiga penghuni lamanya. Vegetasi padat dan minim gangguan manusia menjadikan blok Cambah sebagai salah satu habitat terbaik untuk pelepasliaran primata endemik.
Di balik momen dramatis itu, terdapat kerja panjang yang dilakukan banyak pihak. Para ahli primata JLC menilai kondisi fisik, perilaku alami, hingga kemampuan mencari pakan sebelum memastikan ketiganya memenuhi syarat survival di alam liar. Pokmas Pura Lestari, yang selama ini aktif menjaga kawasan Nusa Barung, turut memastikan keamanan lokasi dan meminimalkan interaksi manusia.
Pelepasliaran bukan akhir perjalanan, melainkan awal dari fase yang lebih kritis, monitoring pasca-lepasliar. Tim akan memantau pergerakan, perilaku, serta kemampuan adaptasi ketiga lutung untuk memastikan mereka dapat bertahan dan berkontribusi pada keberlanjutan populasi di pulau tersebut.
Di tengah isu hilangnya habitat dan krisis satwa liar yang terus menghantui Jawa, momen pelepasliaran ini menjadi pengingat bahwa harapan masih tumbuh, pelan namun pasti. Setiap individu yang kembali ke alam adalah investasi masa depan, bukan hanya bagi spesiesnya, tetapi bagi seluruh ekosistem yang terhubung di dalamnya.
Dan hari ini, di Pulau Nusa Barung, tiga lutung telah kembali. Mereka membawa serta peluang baru bagi kelestarian kehidupan, menguatkan kembali komitmen bahwa konservasi bukan sekadar tugas, tetapi sebuah janji antar-generasi. (dna)
Sumber: Bidang KSDA Wilayah 3 Jember – Balai Besar KSDA Jawa Timur

