Smart Patrol, Mengungkap Ancaman dan Memperkuat Pengawasan Cagar Alam Pulau Saobi
Sumenep – Upaya pengamanan kawasan konservasi kembali diperkuat melalui pelaksanaan SMART Patrol di Cagar Alam (CA) Pulau Saobi pada 31 Maret hingga 5 April 2026. Patroli yang menyasar 46 grid prioritas ini difokuskan pada area rawan gangguan, khususnya potensi pencurian kayu, sekaligus memastikan kondisi keanekaragaman hayati tetap terjaga.
Hasil patroli menunjukkan adanya indikasi aktivitas ilegal berupa penemuan 25 tonggak kayu dengan diameter rata-rata sekitar 14 cm, yang diduga berasal dari jenis kayu lokal seperti bire-birean, perreng, dan labban. Temuan ini mengindikasikan adanya tekanan terhadap kawasan, terutama pada titik-titik yang selama ini teridentifikasi rentan terhadap aktivitas penebangan liar.
Namun di tengah tekanan tersebut, kawasan CA Saobi masih memperlihatkan daya lenting ekologis yang kuat. Tim patroli mencatat 23 titik jejak rusa, yang menjadi indikator penting keberadaan satwa liar dan fungsi habitat yang masih berjalan. Tidak hanya itu, keberadaan burung Gosong Kaki Merah juga terkonfirmasi melalui perjumpaan langsung maupun tidak langsung, dengan temuan 13 sarang aktif. Data ini menunjukkan bahwa proses reproduksi satwa kunci masih berlangsung, menandakan ekosistem yang belum kehilangan keseimbangannya.
Selain itu, tim juga mengidentifikasi dua lokasi genangan air alami yang dimanfaatkan satwa sebagai sumber air minum. Fitur ekologis ini menjadi elemen penting dalam mendukung keberlangsungan hidup satwa liar, terutama di tengah tekanan lingkungan yang terus meningkat.
Seluruh hasil temuan lapangan telah didokumentasikan dan diinput ke dalam sistem SMART Mobile, sebagai bagian dari upaya penguatan basis data dan pengambilan keputusan berbasis bukti (evidence-based management) dalam pengelolaan kawasan konservasi.
Sebagai tindak lanjut atas temuan tonggak kayu, petugas melakukan penelusuran hingga ke masyarakat di Dusun Lao’anna. Pemeriksaan dilakukan terhadap dua warga yang diketahui tengah membuat perahu, dengan fokus pada bagian tulang dan pasak untuk mencocokkan jenis kayu yang digunakan. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa material perahu tidak berasal dari dalam kawasan konservasi, khususnya bukan dari jenis kayu labban yang ditemukan di lokasi patroli.
Pendekatan ini tidak hanya bersifat represif, tetapi juga edukatif. Petugas turut menyampaikan secara langsung kepada masyarakat terkait larangan pengambilan kayu di dalam kawasan konservasi, sekaligus membangun kesadaran akan pentingnya menjaga keberlanjutan sumber daya alam.
Pelaksanaan SMART Patrol di CA Saobi menegaskan bahwa pengelolaan kawasan konservasi tidak hanya berfokus pada penindakan terhadap pelanggaran, tetapi juga pada perlindungan sistem kehidupan yang ada di dalamnya. Di satu sisi, patroli mengungkap ancaman nyata terhadap kawasan. Di sisi lain, data lapangan juga memperlihatkan bahwa kehidupan liar masih bertahan, bahkan terus berkembang di tengah berbagai tekanan.
Ke depan, penguatan patroli berbasis teknologi, peningkatan partisipasi masyarakat, serta konsistensi dalam pengawasan menjadi kunci dalam menjaga integritas kawasan CA Saobi. Sebab pada akhirnya, keberhasilan konservasi tidak hanya diukur dari berkurangnya ancaman, tetapi juga dari kemampuan ekosistem untuk terus hidup, tumbuh, dan beregenerasi.
Penulis : Asep Hawim Sudrajat dan Fajar Dwi Nur Aji
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik