Saat Satwa Liar Mencari Ruang, Edukasi dan Mitigasi Jadi Kunci di Tengah Permukiman
Gresik – Di sebuah sudut permukiman padat di Kecamatan Menganti, Kabupaten Gresik, kehadiran dua individu Monyet Ekor Panjang menjadi penanda bahwa batas antara ruang manusia dan habitat alami kian menipis. Laporan warga yang masuk pada Jumat, 10 April 2026, segera ditindaklanjuti oleh Tim Matawali Seksi KSDA Wilayah III Surabaya melalui kegiatan orientasi lapangan.
Dalam pengamatan, satwa teridentifikasi sebanyak dua ekor, lebih banyak dari laporan awal masyarakat. Namun, tidak ditemukan perilaku agresif. Satwa terlihat tenang, bertahan di kanopi pohon kepuh di area pemakaman, seolah hanya singgah di ruang yang bukan miliknya.
Di balik kemunculan ini, muncul dugaan yang tak bisa diabaikan. Satwa tersebut kemungkinan merupakan hasil interaksi panjang dengan manusia, bahkan berpotensi pernah dipelihara. Indikasi ini menguat dari pola kemunculan di area permukiman, keberanian berada dekat aktivitas manusia, serta minimnya respons defensif yang umumnya dimiliki satwa liar murni.
Fenomena ini membuka sebuah realitas yang kerap luput dari perhatian bahwa praktik pemeliharaan satwa liar yang tidak bertanggung jawab. Banyak individu Monyet Ekor Panjang dipelihara sejak kecil, dipisahkan dari habitat alaminya, lalu ketika tumbuh dan mulai menunjukkan perilaku alami, dianggap merepotkan, agresif, atau tidak lagi “jinak”, akhirnya dilepaskan begitu saja.
Padahal, baik dipelihara maupun dilepaskan secara sembarangan, keduanya menyimpan konsekuensi serius. Saat dipelihara, satwa liar kehilangan insting alaminya, kemampuan mencari makan, mengenali predator, hingga berinteraksi dalam struktur sosialnya.
Mereka juga berpotensi mengalami stres, malnutrisi, bahkan menjadi vektor penyakit zoonosis. Sementara itu, ketika dilepasliarkan tanpa proses rehabilitasi yang tepat, satwa menghadapi risiko kematian tinggi karena tidak mampu beradaptasi kembali di alam. Lebih jauh lagi, satwa dapat memasuki permukiman, memicu konflik, merusak ekosistem lokal, atau bahkan berinteraksi tidak sehat dengan populasi liar lainnya.
Hingga sore hari, satwa tidak lagi terpantau di area permukiman. Keberadaannya yang fluktuatif mengindikasikan bahwa lokasi tersebut kemungkinan hanya menjadi jalur lintasan. Namun, jika dugaan sebagai satwa peliharaan benar, maka pergerakan ini justru menjadi sinyal risiko yang lebih kompleks, baik bagi manusia maupun bagi satwa itu sendiri.
Dalam konteks ini, pendekatan konservasi menempatkan masyarakat sebagai garda terdepan. Warga diimbau untuk tidak memberikan pakan, menjaga jarak aman, serta mengamankan sumber makanan terbuka yang dapat menarik satwa kembali.
Lebih dari itu, masyarakat juga dihimbau untuk tidak memelihara satwa liar, serta tidak melakukan pelepasliaran tanpa koordinasi dengan otoritas berwenang. Karena melepas satwa liar ke alam tanpa kesiapan bukanlah bentuk kasih sayang, melainkan awal dari potensi penderitaan yang baru.
Langkah sederhana seperti edukasi, pelaporan cepat, dan kesadaran kolektif menjadi kunci dalam mencegah konflik yang lebih besar. Pemantauan berbasis masyarakat pun menjadi strategi penting untuk memahami pola pergerakan satwa sekaligus membangun hubungan yang lebih bijak antara manusia dan alam.
Ketika satwa liar mulai mencari ruang di tengah permukiman, sesungguhnya yang sedang diuji bukan hanya daya adaptasi satwa, tetapi juga kebijaksanaan manusia dalam memperlakukan alam. Karena pada akhirnya, konservasi bukan sekadar menjaga satwa tetap hidup, tetapi memastikan mereka tetap liar, di tempat yang semestinya.
Penulis : Fajar Dwi Nur Aji – PEH Ahli Muda
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik