Saat Penjaga Malam Menyapa Siang, Kisah dari Hutan Bawean yang Mengundang Kita untuk Peduli
Bawean – Pagi itu, hutan di Blok Gunung Besar tampak seperti biasa. Cahaya matahari jatuh perlahan di sela-sela kanopi, menyentuh tanah yang lembap dan sunyi.
Langkah Tim SMART Patrol RKW 09 Gresik–Bawean bersama Masyarakat Mitra Polhut (MMP) Bawean Lestari hari itu (12/04/2026), menyusuri jalur hutan dengan ritme yang sudah mereka hafal, mengamati, mencatat, memastikan setiap sudut kawasan tetap dalam kondisi aman.
Tak ada yang benar-benar istimewa, hingga hutan memutuskan untuk membuka satu rahasianya.Di atas kanopi, sepasang mata menatap. Terbuka lebar. Bukan di malam hari, melainkan di bawah terang siang.
Sepasang Burung Hantu Kayu Bawean (Strix seloputo baweana) satwa endemik yang selama ini dikenal sebagai penjaga sunyi malam, tiba-tiba hadir dalam cahaya.
Gerakan itu pertama kali disadari oleh Tifan Nur Rizal. Ia berhenti, menengadah, memastikan apa yang dilihatnya bukan sekadar bayangan dedaunan. Beberapa detik yang sunyi berubah menjadi rasa takjub yang sulit ditahan.
“Wah… luar biasa. Dari 2023 kita jalan patroli, baru hari ini dapat lihat langsung di alam dan mengabadikannya. Rasanya semua usaha itu nggak sia-sia,” ujarnya setengah memekik.
Ia segera mengangkat kamera. Dalam waktu singkat, foto dan video berhasil diabadikan, sebelum dua burung itu kembali diam, menyatu dengan warna hutan.
Namun bagi Tifan, momen itu belum selesai. Ia masih menatap, mencoba mengenali lebih dalam.
“Saya sempat kepikiran, jangan-jangan ini burung yang dulu sempat kita selamatkan dan lepasliarkan pada Juli 2025. Kalau benar, berarti dia masih bertahan di hutan ini,” tambahnya.
Pertanyaan itu tidak membutuhkan jawaban segera. Karena justru disitulah letak maknanya.
Antara Ingatan, Harapan, dan Kemungkinan
Pada 19 Juli 2025, seekor burung hantu endemik Bawean pernah ditemukan dalam kondisi terjerat benang layangan. Satwa tersebut sempat beredar sebelum akhirnya diamankan, direhabilitasi, dan dilepasliarkan kembali ke habitatnya.
Hari ini, di lokasi yang masih dalam bentang ekosistem yang sama, sepasang burung hantu kembali muncul. Apakah itu individu yang sama? Tidak ada kepastian.
Namun kemungkinan itu cukup untuk menumbuhkan harapan, bahwa hutan Bawean masih mampu menerima kembali penghuninya. Burung Hantu Kayu Bawean bukan sekadar satwa liar. Ia adalah bagian dari identitas pulau.
Hanya hidup di Bawean, spesies ini menjalankan perannya sebagai predator alami yang menjaga keseimbangan ekosistem. Ia berburu saat malam, bergerak dalam diam, dan hampir tak pernah terlihat oleh manusia.
Itulah sebabnya, kemunculan di siang hari menjadi peristiwa yang jarang—sebuah potongan kecil dari kehidupan liar yang biasanya tersembunyi. Namun di balik keunikan itu, tersimpan pesan yang lebih besar, bahwa keberadaan satwa ini sepenuhnya bergantung pada keberadaan hutan yang masih utuh.
Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur, Nur Patria Kurniawan, menegaskan bahwa setiap perjumpaan seperti ini memiliki arti penting.
“Setiap dokumentasi satwa endemik di habitat alaminya adalah bukti bahwa upaya konservasi yang kita lakukan bersama masyarakat masih berjalan di jalur yang benar. Ini bukan hanya tentang satwa, tetapi tentang masa depan ekosistem Bawean yang harus kita jaga bersama,” ujarnya.
Pernyataan itu memperjelas bahwa keberhasilan konservasi tidak lahir dari satu pihak saja, melainkan dari kolaborasi, antara petugas, masyarakat, dan kesadaran bersama untuk menjaga ruang hidup.
Di tengah segala keterbatasannya, Bawean menyimpan kekayaan yang tidak dimiliki banyak tempat lain. Bukan hanya lanskapnya, tetapi kehidupan yang tumbuh dan bertahan di dalamnya.
Burung hantu yang muncul di siang hari itu mungkin hanya terlihat beberapa menit. Namun maknanya jauh lebih panjang. Ia adalah pengingat, bahwa di tanah yang sama tempat masyarakat hidup dan beraktivitas, ada kehidupan lain yang juga bergantung pada keseimbangan yang sama.
Konservasi sering kali terasa jauh, seolah hanya milik petugas atau institusi. Padahal, ia tumbuh dari hal-hal sederhana, tidak menangkap satwa liar, tidak merusak habitat, dan tidak memperlakukan alam sebagai sesuatu yang bisa dieksploitasi tanpa batas. Bawean sudah memiliki segalanya untuk dibanggakan. Yang dibutuhkan hanyalah kesadaran untuk menjaganya.
Di atas sana, dua burung hantu kembali diam. Seolah tak pernah tahu bahwa kehadiran mereka telah mengubah cara manusia memandang hutan hari itu.
Namun bagi yang menyaksikan, momen itu akan tinggal lebih lama. Bahwa yang kita jaga bukan hanya satwa, melainkan cerita tentang rumah yang kita tinggali bersama.
Penulis : Fajar Dwi Nur Aji – PEH Ahli Muda
Foto : Tifan Nur Rizal
Editor : Agus Irwanto