Rimba Bawean Menguji 3 Mahasiswa Sarjana Terapan Pengelolaan Hutan – UGM
Share
Di sebuah pulau yang dijaga sang endemik rusa bawean, tak pernah benar-benar sunyi, tiga mahasiswa Sarjana Terapan Pengelolaan Hutan Universitas Gadjah Mada menutup perjalanan magang mereka dengan membawa pulang catatan yang tak pernah tercantum di modul perkuliahan. Selama hampir bulan, Arlina Widiastuti, Shalmiah Aegesti dan Tiara Nathania hidup bersama rimba bawean. Memetakan tapak satwa, mengolah data, dan merasakan bagaimana konservasi bekerja bukan sebagai teori, tetapi sebagai denyut yang nyata.
Presentasi lapangan yang berlangsung pada Rabu, 26 November 2025, menjadi panggung kecil bagi pengalaman besar yang mereka kumpulkan di Resort Konservasi Wilayah (RKW) 10 Pulau Bawean. Sebuah kawasan strategis yang menggabungkan hutan, pesisir, dan budaya setempat dalam satu sistem ekologi pulau kecil yang rapuh sekaligus tangguh.
Fokus utama mereka adalah implementasi SMART Patrol, kebijakan penguatan fungsi kawasan konservasi berdasarkan SK Dirjen KSDAE Nomor 74 Tahun 2025. Mereka menguraikan bagaimana patroli dilakukan, bagaimana setiap temuan dicatat, hingga bagaimana data dianalisis untuk membaca ancaman dan peluang menjaga Bawean. Lebih dari sekadar metode, SMART menjadi mata yang memetakan perubahan lanskap dan langkah awal memahami pola-pola yang menentukan masa depan pulau ini.
Namun Bawean tak hanya menguji mereka lewat jalur patroli. Mahasiswa terlibat aktif dalam monitoring pemanfaatan sumber air, mencatat pengetahuan tradisional masyarakat, hingga mengikuti bioprospeksi vegetasi.
Mereka melihat bagaimana spesies penting seperti Prunus javanica dan Prunus arborea mempertahankan keberadaannya di pulau yang terpencil ini. Mereka juga berkolaborasi dengan peneliti BRIN, menelusuri sungai-sungai kecil yang tersembunyi guna mengambil sampel crustacea air tawar, bagian penting dari upaya mengungkap keragaman hayati akuatik Bawean.
Pada malam-malam tertentu, mereka bergabung dalam herping, menyusuri hutan dengan cahaya senter di antara daun basah dan tanah yang menyimpan cerita spesies malam. Bersama Tim Seksi KSDA Wilayah III Surabaya dan MMP Bawean Lestari, mereka juga belajar preservasi spesimen, memahami bahwa dokumentasi biodiversitas adalah langkah penting sebelum sebuah spesies menghilang tanpa jejak.
Evaluasi lapangan dari Tim RKW 10 Pulau Bawean disampaikan dengan jernih dan membangun, perlunya perbaikan dalam detail persebaran vegetasi, peningkatan struktur presentasi, serta penyempurnaan dokumentasi visual. Semua itu bukan koreksi, tetapi bagian dari pendidikan di lapangan, karena konservasi bukan hanya tentang menjaga alam, tetapi juga tentang menyampaikan cerita alam secara akurat.
Sabtu, 29 November, ketiga mahasiswa dijadwalkan kembali ke Surabaya dan Gresik untuk menyelesaikan tahap akhir magang hingga 22 Desember 2025. Laporan komprehensif akan mereka presentasikan di kantor Bidang KSDA Wilayah II sebagai penutup perjalanan akademik dan pengalaman lapangan yang mereka jalani.
Bawean telah menguji mereka, dengan medan, cuaca, data, dan realitas konservasi sesungguhnya. Dan seperti hutan yang diam namun mengajarkan banyak hal, pulau ini meninggalkan jejak mendalam pada mereka: bahwa kerja konservasi adalah pertemuan antara ketekunan, sains, dan penghormatan terhadap alam yang menjadi rumah kita bersama. (dna)
Sumber: Bidang KSDA Wilayah 2 Gresik – Balai Besar KSDA Jawa Timur

