Respons Cepat, Partisipasi Warga, Dan Harapan Baru Bagi Satwa Liar Untuk Kembali Ke Alam
Share
Awal tahun sering datang bersama harapan. Bagi Tim Matawali Seksi KSDA Wilayah VI Probolinggo, harapan itu hadir dalam bentuk penyerahan sukarela satwa liar oleh masyarakat. Di balik kandang-kandang sederhana, ada kisah tentang satwa yang pernah dijauhkan dari habitatnya dan kini mendapat kesempatan pulang ke alam.
Pada 6 Januari 2026, Tim Matawali bergerak cepat merehabilitasi satwa hasil penyerahan masyarakat ke Unit Penyelamatan Satwa BBKSDA Jawa Timur di Sidoarjo. Satwa tersebut terdiri atas seekor elang Paria (Milvus migrans) yang berstatus dilindungi, beserta dua ekor Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) dan satu ekor Musang Pandan (Paradoxurus hermaphroditus), yang berstatus tidak dilindungi.
Bagi sebagian orang, empat satwa mungkin terlihat biasa. Namun bagi konservasi, setiap individu berarti satu kesempatan kembali memulihkan fungsi ekologis, satu potensi konflik manusia–satwa yang bisa dicegah, dan satu cerita tentang kesadaran yang mulai tumbuh.
Monyet ekor panjang, misalnya, adalah satwa cerdas dengan struktur sosial yang kompleks. Di alam, mereka membantu menyebarkan biji-bijian dan menjaga dinamika hutan.
Sayangnya, sifat adaptifnya justru membuatnya sering dipelihara. Ketika lama hidup di kandang, naluri liarnya melemah, pola makan berubah, dan risiko konflik meningkat bila dilepas tanpa rehabilitasi. Karena itu, setiap individu perlu dipulihkan secara bertahap.
Musang Pandan memiliki kisah berbeda. Satwa nokturnal ini dikenal sebagai “penjaga aroma malam”. Dengan pencernaan yang unik, ia membantu menyebarkan biji buah dan mengendalikan populasi serangga serta hewan kecil. Namun di ruang sempit, stres bisa muncul, dan perilakunya berubah. Rehabilitasi dibutuhkan untuk mengembalikan kemampuan berburu dan jelajah alaminya.
Sedangkan Elang Paria berperan sebagai pembersih alam, yang mampu menjaga kebersihan lanskap. Karena statusnya dilindungi, peredarannya dikontrol ketat.
Saat dipelihara, otot sayap dan kemampuan terbang menjadi menurun. Program pemulihan biasanya meliputi latihan terbang bertahap, penguatan stamina, dan uji kemampuan berburu sebelum diputuskan layak dilepasliarkan.
Di kandang rehabilitasi unit penyelamatan satwa BBKSDA Jawa Timur, tim medis dan paramedis satwa melakukan pemeriksaan kesehatan, observasi perilaku, hingga menyusun rencana rehabilitasi yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing.
Tidak semua satwa bisa langsung kembali ke hutan. Beberapa harus “belajar ulang” untuk mengenali pakan alami, mengurangi ketergantungan pada manusia, hingga mengembalikan kewaspadaan. Tahapan ini penting, bukan hanya demi keselamatan satwa, tetapi juga demi keselamatan masyarakat di sekitar habitat.
Di balik kerja teknis tersebut, edukasi menjadi kunci. Melalui komunikasi yang santun, warga dijelaskan bahwa satwa liar, apalagi yang dilindungi memiliki peran penting di alam dan tidak layak dijadikan peliharaan. Ketika dilepas melalui prosedur yang benar, mereka akan kembali menjalankan fungsinya, menyeimbangkan rantai makanan, menjaga regenerasi hutan, dan memperkuat ketahanan ekosistem.
Penyerahan sukarela ini menunjukkan perubahan yang menggembirakan. Kepercayaan masyarakat tumbuh, dan negara hadir untuk memastikan bahwa setiap satwa mendapatkan perlindungan terbaik.
Kegiatan evakuasi kali ini bisa jadi terlihat sederhana. Namun di baliknya ada makna besar dibalik kolaborasi antara warga dan pemerintah, kerja sunyi para petugas di lapangan, serta harapan bahwa alam Jawa Timur tetap terjaga, satu individu satwa demi satu individu lainnya. Langkah kecil, namun berdampak panjang bagi masa depan konservasi.
Penulis : Fajar Dwi Nur Aji – PEH Ahli Muda BBKSDA Jatim
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Bidang KSDA Wilayah 3 Jember

