Pemulihan Ekosistem Bukan Sekadar Menanam, BBKSDA Jatim Ingin Pastikan Hutan Bawean Bangkit Kembali
Share
Di hutan Pulau Bawean, pemulihan ekosistem bukan sekadar cerita tentang bibit yang ditanam, melainkan tentang masa depan habitat yang sedang dipulihkan. Untuk memastikan proses itu benar-benar berjalan, Balai Besar KSDA Jawa Timur (BBKSDA Jatim) melalui Tim RKW 09 Gresik–Bawean melaksanakan ground check pemulihan ekosistem di kawasan Batu Lintang dan Blok Gunung Besar, Suaka Margasatwa (SM) Pulau Bawean, Kamis (22/1/2026).
Kegiatan yang dilaksanakan menjadi bagian dari upaya memastikan kawasan suaka margasatwa tetap terjaga, sekaligus memperkuat pemantauan pemulihan yang berbasis data dan temuan faktual di tapak. Fokus utama kegiatan adalah mengevaluasi tanaman Pemulihan Ekosistem (PE) Tahun 2023, yang terdiri dari Nyamplung (Calophyllum inophyllum), Pangopa (Eugenia epidocarpa), Sentul (Sandoricum koetjape), Gondang (Ficus variegata), dan lainnya.
Dari hasil pengecekan, kondisi tanaman secara umum menunjukkan tingkat kelangsungan hidup sekitar ±60%, sebuah angka yang mencerminkan kemajuan sekaligus kebutuhan penguatan agar pemulihan semakin optimal.
Di sela langkah patroli, tim menjumpai bekas sorsoran Babi Kutil, serta mencatat keberadaan beberapa jenis burung seperti Merbah Belukar dan Cinenen Kelabu, juga Monyet Ekor Panjang. Temuan lain yang tak kalah penting adalah Anggrek Bulan (Phalaenopsis amabilis), flora bernilai konservasi yang menjadi pengingat bahwa Pulau Bawean menyimpan titik-titik genetik penting yang perlu dijaga.
Seluruh hasil patroli dicatat dan diinput ke dalam SMART Mobile, untuk memastikan pemulihan ekosistem tidak berjalan berdasarkan perkiraan, melainkan berbasis data yang dapat dievaluasi. Dalam konteks pengelolaan kawasan suaka, pemulihan ekosistem dipahami sebagai proses yang mencakup evaluasi habitat, penanganan faktor penghambat tumbuh (naungan, kompetisi vegetasi, hingga gangguan), serta upaya berkelanjutan agar kawasan dapat kembali berfungsi sebagai rumah bagi biodiversitas.
Sebagai tindak lanjut, tim merekomendasikan evaluasi titik tanam dan penyulaman pada lokasi gagal tumbuh untuk meningkatkan survival hingga >80%. Selanjutnya memperkuat monitoring satwa kunci melalui pencatatan indikator lapangan, serta melengkapi data biodiversitas dengan koordinat, habitat, dan dokumentasi foto.
BBKSDA Jawa Timur mengajak masyarakat turut mendukung pemulihan ekosistem dengan tidak merusak vegetasi pemulihan, tidak mengambil tumbuhan dan satwa liar, serta melaporkan setiap indikasi perburuan, penebangan liar, maupun gangguan kawasan kepada petugas.
Penulis : Fajar Dwi Nur Aji – PEH Ahli Muda BBKSDA Jatim
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik

