Type to search

Berita

Pelajaran Konservasi dari Penyelamatan Sanca Kembang Prambon

Share

Di sebuah lorong sempit permukiman padat di Prambon, sunyi menyelimuti rumah yang sedang berduka. Bukan hanya karena kepergian seorang anggota keluarga, tetapi juga karena nasib seekor satwa liar yang telah lebih dari satu dekade hidup terkurung di balik dinding beton, Sanca Kembang dengan tubuh raksasa, luka-luka, dan cahaya mata yang nyaris padam.

Peristiwa ini bukan sekadar laporan penyerahan satwa. Ia adalah cermin panjang tentang relasi manusia dengan alam, tentang cinta yang kehilangan arah, dan tentang tanggung jawab yang kerap datang terlambat.

Duka Manusia, Derita Satwa
Selama lebih dari 10 tahun, sanca kembang jantan ini hidup dalam kandang beton permanen tanpa akses cahaya matahari yang memadai. Ruang sempit itu bukan hanya membatasi geraknya, tetapi juga merampas siklus alaminya. Gagal ganti kulit, luka-luka di sekujur tubuh, dan stres kronis menjadi saksi bisu bahwa satwa liar sekuat apa pun, tidak pernah diciptakan untuk hidup dalam kurungan buatan manusia.

Ketika pemilik sekaligus perawatnya meninggal dunia, keluarga yang ditinggalkan—awam dan diliputi ketakutan, akhirnya mengambil keputusan penting, menyerahkan satwa tersebut kepada negara. Keputusan ini menjadi titik balik dari nestapa panjang sang sanca. Namun penyelamatan tidak selalu bisa dilakukan seketika.

Penyelamatan yang Berangkat dari Empati
Pada 14 Januari 2026 sore, tim MATAWALI Seksi KSDA Wilayah III Surabaya tiba di lokasi. Hasil identifikasi memastikan bahwa satwa tersebut adalah Malayopython reticulatus, dengan panjang tubuh sekitar 5–6 meter dan bobot lebih dari 100 kilogram. Kondisinya memprihatinkan, hidup, namun menyimpan jejak penderitaan panjang.

Di tengah suasana khusyuk persiapan pengajian tujuh hari wafatnya pemilik satwa, tim lapangan mengambil keputusan yang tidak populer namun beretika, menunda evakuasi. Pertimbangannya bukan hanya teknis, keterbatasan personel khusus, kandang angkut, dan akses lokasi, tetapi juga empati terhadap keluarga yang sedang berduka.

Dalam konservasi, keputusan untuk menunggu kadang sama pentingnya dengan keputusan untuk bertindak.

Kolaborasi sebagai Kunci
Selama dua pekan berikutnya, komunikasi terus dijaga. Di balik layar, koordinasi dilakukan untuk memastikan penanganan lanjutan berjalan aman, bagi satwa, petugas, dan warga sekitar. Tambahan personel berkapasitas khusus, kandang angkut yang sesuai, serta kesiapan kandang rehabilitasi menjadi prasyarat utama.

Pada akhir Januari 2026, tim gabungan yang melibatkan Balai Besar KSDA Jawa Timur, Unit Penyelamatan Satwa, dan PDTS Kebun Binatang Surabaya akhirnya kembali ke Prambon. Dengan peralatan memadai dan strategi yang matang, sanca kembang tersebut berhasil dievakuasi, mengakhiri satu bab penderitaan dan membuka lembar baru rehabilitasi.

Lebih dari Sekadar Evakuasi
Penyelamatan ini bukan hanya soal memindahkan satwa dari satu tempat ke tempat lain. Ia adalah pelajaran konservasi yang utuh.

Pertama, satwa liar bukan simbol status atau objek pemuas rasa “cinta” manusia. Tanpa pemahaman ekologi dan kesejahteraan satwa, cinta dapat berubah menjadi penjara.

Kedua, penanganan satwa liar menuntut kesabaran, empati, dan kolaborasi lintas pihak. Negara hadir bukan dengan kekerasan, tetapi dengan pendekatan komunikatif dan adaptif, menghormati manusia sekaligus memulihkan alam.

Ketiga, edukasi publik adalah tindak lanjut yang tak terpisahkan. Sosialisasi kepada warga sekitar menjadi langkah penting agar peristiwa serupa tidak terulang, dan agar masyarakat memahami batas antara memelihara dan melindungi.

Refleksi untuk Kita Semua
“Peristiwa ini menjadi pembelajaran bersama untuk bertanggung jawab memenuhi kebutuhan dan kenyamanan satwa liar setelah dipaksa terkurung hanya demi hasrat dan ego manusia,” ujar Ferdinan Sabastian, Penyuluh Kehutanan Seksi KSDA Wilayah III Surabaya yang terlibat langsung dalam evakuasi.

Kisah sanca kembang Prambon mengingatkan kita bahwa konservasi tidak selalu berawal dari hutan lebat atau kawasan lindung. Ia bisa dimulai dari lorong sempit di tengah kota, dari keberanian sebuah keluarga untuk melepaskan, dan dari negara yang hadir dengan nurani.

Di sanalah pelajaran konservasi itu bermula, pelan, manusiawi, dan penuh harapan.

Penulis : Fajar Dwi Nur Aji – PEH Ahli Muda BBKSDA Jatim
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik

Tags:

You Might also Like