Patroli di Cagar Alam Gunung Picis Blok Hargokiloso, Ini Catatannya
Share
Langit pagi di Hargokiloso masih tertahan kabut saat langkah-langkah kecil para petugas patroli menembus rimbunnya hutan Gunung Picis. Rabu, 28 Januari 2026, kawasan sunyi di perbatasan antara cagar alam, hutan lindung, dan hutan produksi ini kembali menjadi saksi hadirnya negara, bukan dengan suara keras, melainkan melalui patroli rutin untuk memastikan hutan tetap bernapas sebagaimana mestinya.
Patroli kawasan konservasi yang dilaksanakan oleh Resort Konservasi Wilayah (RKW) 05 ini difokuskan pada zona batas kawasan, sebuah garis imajiner yang kerap menjadi titik paling rentan terhadap tekanan aktivitas manusia. Hutan Gunung Picis berdiri dalam kondisi yang masih utuh, sebuah kabar baik di tengah tantangan pengelolaan kawasan konservasi di Jawa Timur.
Di sepanjang jalur patroli, lanskap hutan memperlihatkan kekayaan hayati yang menjadi alasan utama kawasan ini ditetapkan sebagai cagar alam. Paku-pakuan tumbuh rapat menutupi lantai hutan, sementara Puspa (Schima wallichii) menjulang sebagai penyangga kanopi. Kemaduh (Dendrocnide sp.) dengan karakter tajamnya, Nyampuh (Pygeum parviflorum), Pinus (Pinus merkusii), Sirih Hutan (Piper sp.), hingga Suren (Toona sureni) menyusun mosaik vegetasi pegunungan yang kompleks dan saling bergantung.
Tak hanya flora, tanda-tanda kehidupan satwa liar juga hadir jelas. Seekor Elang Jawa (Nisaetus bartelsi) melayang di atas tajuk, seolah mengawasi wilayah jelajahnya. Di bawahnya, Bajing melintas cepat di antara dahan, sementara Landak Jawa (Hystrix javanica) meninggalkan jejak keberadaannya di lantai hutan. Pertemuan singkat namun bermakna ini menjadi indikator penting bahwa ekosistem Gunung Picis masih bekerja sebagaimana mestinya.
Dari sisi pengelolaan kawasan, patroli juga mencatat keberadaan sarana batas yang vital. Satu pal batas bernomor 94 ditemukan dalam kondisi baik, utuh, dan terbaca jelas, penanda tegas sekaligus simbol kepastian hukum kawasan. Sebuah papan larangan juga terpasang, berfungsi sebagai pengingat bahwa kawasan ini dilindungi untuk kepentingan yang lebih besar dari sekadar hari ini.
Yang tak kalah penting, selama kegiatan patroli berlangsung tidak ditemukan indikasi gangguan terhadap keamanan, keutuhan, maupun kelestarian kawasan. Tidak ada aktivitas masyarakat di dalam kawasan cagar alam, tidak ada jejak perambahan, dan tidak ada tanda tekanan baru terhadap hutan. Dalam dunia konservasi, ketiadaan gangguan justru merupakan capaian yang patut dicatat.
Catatan patroli kali ini mungkin tampak sederhana, sekadar laporan lapangan tentang jalur, flora, fauna, dan pal batas. Namun di baliknya, tersimpan pesan kuat: bahwa konservasi adalah kerja konsisten, hadir berulang kali di tempat yang sama, memastikan alam tetap memiliki ruang untuk bertahan. Di Gunung Picis, patroli bukan sekadar rutinitas, melainkan ikrar sunyi bahwa hutan ini masih dijaga, hari ini dan seterusnya.
Penulis : Fajar Dwi Nur Aji – PEH Ahli Muda BBKSDA Jatim
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Bidang KSDA Wilayah I Madiun

