Type to search

Berita

Patroli di Cagar Alam Gua Nglirip, Petugas Jumpai Ini !

Share

Di balik dinding karst dan kanopi pepohonan yang menaungi kawasan kecil seluas 2,05 hektare, kehidupan masih berdenyut tenang. Patroli kawasan konservasi yang dilakukan tim Resort Konservasi Wilayah (RKW) 03 Bojonegoro di Cagar Alam Gua Nglirip kembali menegaskan satu hal penting, bahwa kawasan yang terjaga adalah kawasan yang memberi ruang bagi keanekaragaman hayati untuk bertahan.

Patroli yang berlangsung pada 28 Januari 2026 yang lalu ini dilakukan dengan menyusuri batas kawasan, memastikan kejelasan pal batas antara cagar alam dan hutan produksi Perum Perhutani KPH. Parengan, sekaligus memeriksa kondisi tanaman pengkayaan dan pemeliharaan tahun berjalan. Tanaman hasil hibah tahun 2024 dan penanaman jenis ficus tahun 2025 menjadi perhatian khusus, mengingat perannya sebagai penyedia pakan dan penyangga ekosistem.

Di tengah semak yang dibersihkan dan rumput yang disiangi, tim mencatat keberadaan sejumlah satwa liar yang menjadi indikator kesehatan ekosistem. Mulai dari Cobra Jawa (Naja sputatrix), Elang Tikus (Elanus caeruleus), hingga burung-burung penetap seperti Kutilang, Perkutut, Prenjak Jawa, dan Tekukur. Temuan ini menegaskan meski kecil dan terfragmentasi, Gua Nglirip masih menjadi ruang hidup yang penting bagi fauna lokal.

Tak hanya satwa, komposisi vegetasi di kawasan ini juga menunjukkan peran ekologis yang vital. Jenis-jenis seperti Randu Alas, Pule, Kepuh, Kedondong Hutan, Sukun, hingga berbagai Ficus tumbuh sebagai penopang mikrohabitat, memberi naungan, pakan, sekaligus menjaga keseimbangan tanah dan air di lanskap karst.

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya berkelanjutan Balai Besar KSDA Jawa Timur dalam memastikan kawasan konservasi tetap berfungsi sebagaimana mestinya. Patroli tidak sekadar mencatat, tetapi juga merawat, membersihkan, menyiangi, dan mendokumentasikan setiap temuan sebagai dasar pengelolaan yang adaptif.

Di Gua Nglirip, patroli bukan hanya soal berjalan mengelilingi kawasan. Ia adalah ikhtiar untuk menjaga yang tersisa, agar di tengah tekanan ruang dan waktu, kehidupan masih punya tempat untuk berlanjut.

Penulis : Fajar Dwi Nur Aji – PEH Ahli Muda BBKSDA Jatim
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Bidang KSDA Wilayah I Madiun

Tags:

You Might also Like