Type to search

Berita

Pal Batas dan Biodiversitas Direkam, Monitoring Satwa Kunci Diperkuat

Share

Tim Resort Konservasi Wilayah (RKW) 09 Gresik–Bawean – Balai Besar KSDA Jawa Timur melaksanakan patroli kawasan di Blok Kumalasa, Suaka Margasatwa Pulau Bawean yang masuk dalam wilayah Desa Lebak, Kecamatan Sangkapura (21/01/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya penguatan pengelolaan kawasan, sekaligus merekam dinamika keanekaragaman hayati serta memperkuat monitoring satwa kunci, khususnya Rusa Bawean yang endemik dan bernilai konservasi tinggi.

Dalam patroli tersebut, tim menemukan dua Pal Batas Beton dalam kondisi rusak. Dan, tim segera mengambil titik koordinat berbasis peta SMART Patrol untuk memastikan posisi temuan di lapangan terekam akurat sebagai bahan penguatan data spasial.

Namun, di balik catatan batas kawasan, patroli ini juga menghadirkan “rekaman hidup” tentang Bawean yang masih bergerak, bernapas, dan menyimpan sinyal-sinyal penting kehidupan liar.

Selama menyusuri jalur patroli, tim menjumpai sejumlah jenis satwa, baik secara langsung maupun melalui indikasi kehadiran. Beberapa satwa yang terpantau antara lain, Monyet ekor panjang dan Elang Ular Bawean yang terdeteksi melalui indikasi suaranya. Serta, burung-burung kecil penanda sehatnya habitat, seperti Raja udang punggung merah, Cinenen kelabu, serta Merbah belukar yang terlihat terbang melintasi vegetasi.

Rangkaian perjumpaan ini menjadi indikator bahwa Blok Kumalasa masih menyimpan struktur habitat yang mendukung berbagai kelompok satwa, mulai dari primata hingga burung pemangsa dan burung bawah tajuk.

Tak hanya satwa, tim juga menjumpai tumbuhan Anggrek tanah Peristylus goodyeroides. Temuan ini memperkaya catatan keanekaragaman flora di jalur patroli dan menjadi sinyal penting bahwa mikrohabitat tertentu di kawasan tersebut masih layak bagi spesies-spesies yang sensitif terhadap perubahan lingkungan.

Salah satu catatan paling penting dari patroli ini adalah ditemukannya bekas gesekan serta bekas pakan yang diduga kuat merupakan aktivitas Rusa Bawean. Rusa Bawean menjadi satwa kunci yang tidak hanya kebanggaan Pulau Bawean, namun juga indikator penting kesehatan ekosistem. Ketika jejaknya masih ditemukan, itu berarti habitat masih menyediakan ruang jelajah, sumber pakan, dan rasa aman, tiga hal yang menentukan keberlanjutan populasi satwa liar di pulau kecil.

Bagi tim patroli, tanda-tanda ini bukan sekadar jejak di tanah, melainkan data awal yang perlu ditindaklanjuti secara ilmiah dan konsisten agar dapat menjadi dasar penguatan perlindungan populasi dan habitat. Hasil patroli ini mendorong kebutuhan monitoring lanjutan di lokasi temuan tanda aktivitas Rusa Bawean, melalui pendekatan monitoring berkala seperti jalur tetap (fixed route monitoring) dan point monitoring di titik-titik strategis.

Monitoring ini penting untuk memastikan apakah area tersebut merupakan lintasan aktif, area pakan, area istirahat, atau bahkan ruang penting lain yang digunakan rusa dalam siklus hariannya. Data yang terkumpul akan menjadi pijakan untuk menyusun langkah perlindungan yang lebih presisi, sekaligus memperkuat sistem deteksi dini terhadap potensi gangguan seperti perburuan maupun aktivitas ilegal lain.

Selain satwa kunci, kedepan juga akan dilakukan inventarisasi mikrohabitat anggrek tanah dan dokumentasi populasinya. Tujuannya adalah memperkaya basis data biodiversitas, termasuk potensi genetik, yang dapat menjadi bagian penting dari penguatan pengelolaan kawasan berbasis sains.

Ke depan, intensitas patroli di Blok Kumalasa perlu ditingkatkan, terutama pada titik rawan dan area dengan indikasi aktivitas satwa kunci. Patroli bukan hanya menjadi langkah perlindungan, tetapi juga cara paling nyata untuk memastikan kawasan tetap berada dalam kendali pengelolaan, sambil terus memantau kondisi ekologisnya.

Dengan temuan ini, Blok Kumalasa kembali menunjukkan bahwa Bawean tidak hanya menyimpan batas kawasan di peta, tetapi juga menyimpan kehidupan liar yang sedang bertahan. Ketika data biodiversitas terekam dan monitoring satwa kunci diperkuat, maka peluang menjaga harmoni pulau kecil ini, antara kawasan, habitat, dan satwa endemiknya, menjadi semakin nyata.

Penulis : Fajar Dwi Nur Aji – PEH Ahli Muda BBKSDA Jatim
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik

Tags:

You Might also Like