Berita

METT Cagar Alam Gua Nglirip, Perlu Sinergitas Pengelolaannya

Tuban – Pagi itu udara belum benar-benar hangat di Desa Guwoterus, namun suasana di balai desanya justru mulai menghangat. Beberapa perwakilan pemangku kepentingan satu persatu mulai berdatangan di Desa Guwoterus yang berjarak sekitar 27 kilometer dari pusat kota Tuban.

Kegiatan Penilaian Efektivitas Pengelolaan Kawasan (METT) Cagar Alam Gua Nglirip kali ini dilaksanakan di Kantor Desa Guwoterus, Kecamatan Montong, Kabupaten Tuban, 5 Mei 2026. Beberapa pemangku kepentingan yang hadir antara lain dari KPH. Parengan, CDK. Kab. Bojonegoro, Muspika Kec. Montong, Desa Guwoterus, Desa Tingkis, Masyarakat Mitra Polhut, KTH. Guwo Mulyo dan KTH. Lembu Suro.

Dalam forum itu, para peserta memaparkan dan menguji ulang kondisi nyata CA. Gua Nglirip berdasarkan 62 butir ancaman dan 38 pertanyaan penilaian. Sebuah proses yang menuntut ketelitian dan pemahaman mendalam terhadap dinamika yang ada.

Seperti ancaman perambahan kawasan, karena cagar alam ini dikepung oleh hutan produksi perhutani yang digarap petani. Pun demikian dengan perburuan satwa jenis Landak Jawa dengan menggunakan jerat. Serta pengambilan pakan ternak kambing di dalam kawasan cagar alam, mengingat tanaman ficus didalamnya disukai hewan ternak milik masyarakat.

Beberapa masukan dari peserta METT sempat mengemuka, seperti perlunya sosialisasi yang intensif di desa penyangga terkait aturan, potensi, dan rencana pengelolaan kawasan cagar alam, serta batas kawasan antara cagar alam dan hutan produksi. Juga, perlunya sinergitas antara BKSDA dengan para pihak terkait sehingga pengelolaan cagar alam dapat lebih optimal.

Dari hasil penilaian, disimpulkan bahwa pengelolaan Cagar Alam Gua Nglirip dimasukkan dalam kategori efektif.

Editor: Agus Irwanto
Sumber: Bidang KSDA Wilayah 1 Madiun