Berita

Merekam Bratang, Antara Tradisi, Pasar Sepi, dan Pesan Konservasi

Surabaya – Di tengah denyut kota Surabaya yang terus bergerak maju, Pasar Burung Bratang berdiri menjadi saksi bisu perjalanan panjang relasi manusia dengan satwa. Sejak berdiri pada 1935, ruang ini bukan sekadar tempat transaksi, melainkan lanskap budaya yang memelihara tradisi memelihara burung, sebuah praktik yang berakar dalam kehidupan masyarakat.

Namun pada Sabtu, 11 April 2026, suasana pasar menghadirkan perspektif berbeda. Bukan hanya aktivitas jual beli, melainkan upaya merekam, memahami, dan merefleksikan hubungan tersebut melalui lensa dokumenter internasional bertajuk “Protecting Wildlife Together – Melindungi Satwa Bersama.”

Kegiatan pengambilan gambar yang difasilitasi oleh Balai Besar KSDA Jawa Timur bersama PT. Mediaartha Pilar Raya ini tidak sekadar mendokumentasikan realitas, tetapi juga menyampaikan pesan penting bahwa konservasi tidak dapat dilepaskan dari konteks sosial, budaya, dan ekonomi masyarakat.

Tim dokumenter yang berkolaborasi dengan Copenhagen Filmcompany, Denmark, menyusuri lorong-lorong pasar, berbincang dengan pedagang, serta menangkap dinamika yang tersisa dari kejayaan masa lalu. Dalam proses tersebut, ditekankan akan pentingnya keseimbangan antara penyampaian fakta dan tanggung jawab etis, yang memperkuat edukasi konservasi.

Fakta di lapangan menunjukkan bahwa jenis satwa yang diperdagangkan saat ini didominasi oleh burung dan mamalia kecil yang tidak termasuk dalam kategori dilindungi. Meski demikian, pengawasan tetap menjadi kunci, terutama di tengah perubahan pola perdagangan akibat perkembangan teknologi digital yang menggeser transaksi dari ruang fisik ke platform daring.

Lebih dari sekadar dokumentasi visual, kegiatan ini menjadi ruang dialog. Balai Besar KSDA Jawa Timur bersama pengelola pasar dan komunitas pedagang mendorong peningkatan kesadartahuan terhadap prinsip-prinsip konservasi, perlindungan, pengawetan, dan pemanfaatan secara berkelanjutan.

Di sinilah narasi besar itu terbentuk, bahwa konservasi bukan hanya tentang melindungi satwa di habitat liar, tetapi juga tentang membangun kesadaran kolektif di ruang-ruang interaksi manusia. Pasar Burung Bratang, dengan segala dinamika dan tantangannya, menjadi cermin bagaimana tradisi dapat bertransformasi menuju praktik yang lebih bertanggung jawab terhadap keanekaragaman hayati.

Pada akhirnya, dari sudut-sudut pasar yang kian lengang, terselip harapan: bahwa suara kicau yang tersisa tidak hanya menjadi gema masa lalu, tetapi juga penanda masa depan. di mana manusia dan satwa dapat hidup berdampingan dalam harmoni yang lebih bijaksana.

Penulis : Fajar Dwi Nur Aji – PEH Ahli Muda
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik