Berita

Mata Air Bubulan dan Tantangan Degradasi Hulu

Upaya menjaga keberlanjutan sumber air kembali dilakukan di hulu. Pada 16 Februari 2026, Seksi KSDA Wilayah II Bojonegoro menghadiri kegiatan penanaman bibit jenis Ficus di sekitar Mata Air Bubulan, Desa Kesamben, Kecamatan Plumpang, Kabupaten Tuban. Kegiatan ini digagas oleh Masyarakat Ficus Tuban sebagai bagian dari ikhtiar bersama merawat kawasan tangkapan air.

Penanaman dilakukan secara kolaboratif bersama sejumlah instansi dan unsur masyarakat, antara lain CDK. Bojonegoro, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Tuban, BPBD Kabupaten Tuban, Perum Perhutani KPH Tuban, PT Trans-Pacific Petrochemical Indotama (TPPI) Tuban, unsur Kecamatan Plumpang, Koramil, Polsek, serta Pemerintah Desa Kesamben. Keterlibatan lintas sektor ini menegaskan bahwa perlindungan sumber air merupakan kepentingan bersama.

Secara ekologis, kawasan hulu memiliki peran penting sebagai daerah resapan. Tutupan vegetasi yang memadai membantu meningkatkan infiltrasi air hujan ke dalam tanah, mengurangi limpasan permukaan, serta menekan risiko erosi dan sedimentasi. Dalam konteks inilah, degradasi tutupan lahan di sekitar sumber air berpotensi menurunkan daya dukung hidrologis kawasan.

Pemilihan jenis Ficus bukan tanpa alasan. Kelompok tumbuhan ini dikenal memiliki sistem perakaran yang kuat dan menyebar, sehingga efektif membantu stabilisasi tanah dan meningkatkan kapasitas serapan air. Selain itu, Ficus juga berfungsi sebagai penyedia pakan bagi berbagai jenis satwa liar, sehingga berkontribusi pada keseimbangan ekosistem di sekitar mata air.

Penanaman vegetasi di sekitar mata air merupakan langkah preventif dalam pengelolaan sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Upaya ini sejalan dengan prinsip konservasi yang menekankan perlindungan sistem penyangga kehidupan, termasuk ketersediaan air sebagai kebutuhan dasar masyarakat.

Dalam berbagai wilayah, penurunan kualitas dan kuantitas sumber air kerap dikaitkan dengan perubahan tutupan lahan di hulu. Oleh karena itu, penguatan vegetasi melalui penanaman spesies yang sesuai tapak menjadi salah satu strategi adaptif menghadapi tekanan lingkungan, termasuk variabilitas iklim.

Kegiatan di Mata Air Bubulan menunjukkan bahwa konservasi tidak dapat berjalan sendiri. Sinergi antara pemerintah, masyarakat, dunia usaha, dan aparat kewilayahan menjadi faktor penting dalam memastikan keberlanjutan program. Partisipasi aktif masyarakat lokal juga menjadi fondasi dalam menjaga kawasan secara berkelanjutan.

Ke depan, keberhasilan penanaman tidak hanya diukur dari jumlah bibit yang tertanam, tetapi dari tingkat hidup tanaman, perawatan pascatanam, serta konsistensi perlindungan kawasan hulu. Tantangan degradasi tidak selesai dalam satu kegiatan, melainkan membutuhkan komitmen jangka panjang.

Mata Air Bubulan hari ini masih mengalir. Namun keberlanjutannya akan sangat ditentukan oleh bagaimana kawasan hulunya dijaga, akar demi akar, pohon demi pohon.

Penulis : Fajar Dwi Nur Aji – PEH Ahli Muda BBKSDA Jatim
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Bidang KSDA Wilayah I Madiun