Malaka Tumbang, Jejak Rusa Terpantau di Saobi
Share
Cagar Alam Pulau Saobi, salah satu kawasan konservasi penting di wilayah Madura Kepulauan, kembali menunjukkan dinamika alam yang terus bergerak di bawah ritme musim dan perubahan cuaca. Dalam patroli mandiri yang dilakukan oleh Masyarakat Mitra Polhut (MMP) Madura Kepulauan pada 24 dan 26 Januari 2026, tim patroli mencatat temuan pohon Malaka tumbang secara alami serta jejak rusa yang terpantau di salah satu grid patroli.
Patroli ini sekaligus menjadi langkah deteksi dini untuk memastikan kondisi kawasan tetap terkendali. Hasil penyisiran pada beberapa grid menunjukkan situasi relatif aman dan kondusif, karena tim tidak menemukan indikasi pelanggaran maupun aktivitas yang berpotensi mengganggu kelestarian habitat di Cagar Alam Pulau Saobi.
Pulau kecil kerap menyimpan cerita yang tidak selalu tampak dari kejauhan. Di kawasan konservasi seperti Pulau Saobi, perubahan cuaca dapat segera tercermin pada vegetasi, jalur jelajah satwa, hingga kondisi mikrohabitat. Inilah mengapa pemantauan lapangan, sekecil apa pun temuannya, menjadi bagian penting dari kerja konservasi.
Patroli mandiri yang dilakukan MMP Madura Kepulauan menjadi bentuk penguatan pengawasan kawasan secara partisipatif. Dua personel patroli, Feri dan Mukhlis, menyusuri sejumlah grid yang telah ditetapkan untuk memastikan kawasan berada dalam kondisi aman, sekaligus mencatat perubahan yang terjadi di lapangan sebagai bahan dokumentasi dan evaluasi pengelolaan.
Dalam patroli tersebut, tim menemukan pohon jenis Malaka dalam kondisi tumbang alami. Tumbangnya pohon setinggi kurang lebih 6 meter tersebut diduga dipengaruhi oleh cuaca ekstrem yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir di wilayah tersebut.
Temuan ini menjadi pengingat bahwa hutan merupakan sistem hidup yang dinamis. Tumbangnya satu pohon bisa terjadi sebagai konsekuensi alamiah dari proses ekologis, namun dalam situasi cuaca ekstrem, peristiwa semacam ini juga dapat menjadi indikator perubahan tekanan lingkungan di kawasan konservasi.
Di tingkat ekosistem, pohon tumbang tidak selalu berarti akhir. Kayu yang rebah akan menjadi habitat bagi serangga, jamur, dan mikroorganisme tanah, sekaligus membuka celah tajuk yang memungkinkan regenerasi alami tumbuhan lain. Akan tetapi, pencatatan yang akurat tetap diperlukan agar perubahan kondisi habitat dapat dipetakan secara berkelanjutan.
Jejak Rusa
Selain temuan pohon tumbang, patroli mandiri juga mencatat adanya perjumpaan beberapa jejak rusa. Meski tidak ditemukan perjumpaan visual langsung dengan satwa, jejak yang teridentifikasi menjadi salah satu bukti bahwa satwa liar masih memanfaatkan kawasan sebagai ruang jelajahnya.
Dalam konteks konservasi, jejak satwa adalah bahasa sunyi yang membawa banyak informasi, tentang pergerakan, aktivitas, dan kondisi habitat yang masih mampu mendukung kehidupan liar. Temuan ini menjadi kabar baik bagi upaya perlindungan kawasan, sekaligus menguatkan pentingnya monitoring berkala untuk memahami pola pemanfaatan ruang oleh satwa di Pulau Saobi.
Kehadiran rusa, baik melalui perjumpaan langsung maupun tanda-tanda seperti jejak, juga menunjukkan bahwa kawasan masih menyimpan nilai ekologis penting yang perlu dijaga dari gangguan, terutama aktivitas ilegal yang dapat menekan populasi satwa dan merusak habitat.
Patroli mandiri menjadi bagian dari strategi pencegahan. Kehadiran petugas dan mitra di lapangan berperan sebagai sistem peringatan dini untuk mengurangi risiko pelanggaran, sekaligus memastikan kawasan konservasi tidak luput dari pengawasan.
Pulau-pulau kecil di wilayah konservasi memiliki kerentanan yang khas. Cuaca ekstrem, perubahan pola angin, dan intensitas hujan dapat memberi dampak lebih cepat terhadap vegetasi dibandingkan kawasan daratan luas. Karena itu, dokumentasi seperti temuan pohon tumbang, kondisi jalur patroli, hingga jejak satwa liar menjadi sumber informasi yang penting bagi penguatan pengelolaan.
Kedepan, pengawasan kawasan akan terus dilakukan secara berkelanjutan untuk menjaga Cagar Alam Pulau Saobi dari berbagai bentuk ancaman, sekaligus memperkuat kolaborasi dengan para pihak dalam menjaga kelestarian keanekaragaman hayati dan ekosistemnya.
Penulis : Fajar Dwi Nur Aji – PEH Ahli Muda BBKSDA Jatim
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik

