Lahan Basah Jawa Timur, Ruang Hidup Satwa, Sumber Air, dan Warisan Budaya yang Harus Dijaga Bersama
Share
Sidoarjo, 3 Februari 2026. Lahan basah di Jawa Timur bukan sekadar bentang alam berair yang membentang di pesisir, rawa, muara sungai, dan dataran banjir. Ia adalah ruang hidup bagi ribuan spesies tumbuhan dan satwa liar, penyangga utama ketersediaan air, sekaligus lanskap budaya tempat pengetahuan manusia tumbuh dan diwariskan lintas generasi.
Di tengah laju pembangunan dan perubahan iklim yang kian terasa, lahan basah menjadi simpul penting yang menentukan keseimbangan ekosistem dan keberlanjutan kehidupan.
“Konservasi lahan basah bukan hanya tentang melindungi ekosistem, tetapi tentang menjaga keseimbangan antara manusia, keanekaragaman hayati, dan warisan budaya yang tumbuh bersamanya,” ujar Nur Patria Kurniawan, Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur.
Ekosistem Air sebagai Penyangga Kehidupan
Secara ekologis, lahan basah dikenal sebagai salah satu ekosistem paling produktif di dunia. Kawasan ini menyediakan habitat penting bagi burung air, ikan, amfibi, reptil, hingga mamalia, sekaligus menjadi tempat tumbuh beragam vegetasi khas perairan dan pesisir. Banyak spesies satwa liar menggantungkan seluruh siklus hidupnya, mulai dari berkembang biak hingga mencari makan, pada kesehatan lahan basah.
Di Jawa Timur, peran lahan basah juga sangat krusial sebagai benteng alami terhadap bencana. Rawa, mangrove, dan dataran banjir bekerja menyerap limpasan air hujan, meredam banjir, menahan intrusi air laut, serta menjaga kualitas air tawar. Ketika lahan basah terdegradasi, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh satwa liar, tetapi juga oleh manusia yang hidup di sekitarnya.
Ruang Budaya dan Ingatan Ekologis
Namun nilai lahan basah tidak berhenti pada fungsi ekologis. Bagi banyak komunitas di Jawa Timur, lahan basah telah lama menjadi bagian dari identitas budaya. Pola tanam yang menyesuaikan musim, cara menangkap ikan secara tradisional, hingga larangan adat terhadap eksploitasi berlebihan merupakan bentuk pengetahuan ekologis yang lahir dari interaksi panjang manusia dengan alam.
Pengetahuan ini diwariskan secara lisan, melalui praktik sehari-hari, cerita, dan kebiasaan yang menjaga keseimbangan pemanfaatan sumber daya. Di sinilah lahan basah berfungsi sebagai ruang ingatan ekologis, tempat manusia belajar membaca tanda-tanda alam dan hidup selaras dengannya. Ketika lahan basah rusak, yang hilang bukan hanya habitat dan sumber air, tetapi juga sistem pengetahuan yang telah menjaga alam selama berabad-abad.
Tema 2026: Rawat Tradisi, Lahan Basah Lestari
Makna inilah yang sejalan dengan tema Hari Lahan Basah Sedunia 2026, “Wetlands and Traditional Knowledge: Celebrating Cultural Heritage”, yang di Indonesia diadaptasi menjadi “Rawat Tradisi, Lahan Basah Lestari”. Tema ini menegaskan bahwa konservasi lahan basah tidak dapat dilepaskan dari pengetahuan tradisional dan praktik budaya masyarakat yang hidup berdampingan dengan ekosistem tersebut.
Bagi Jawa Timur, tema ini bukan sekadar slogan global, melainkan cermin dari realitas di lapangan. Banyak kawasan lahan basah di provinsi ini bertahan karena adanya praktik lokal yang menghormati siklus alam, mulai dari pengaturan waktu pemanfaatan, pembagian ruang, hingga nilai-nilai kearifan yang mencegah eksploitasi berlebihan. Pengetahuan tradisional ini menjadi fondasi penting dalam menjaga keberlanjutan ekosistem di tengah perubahan zaman.
“Tema Hari Lahan Basah Sedunia 2026 mengingatkan kita bahwa konservasi yang kuat adalah konservasi yang berakar. Pengetahuan tradisional masyarakat Jawa Timur telah lama menjadi bagian dari mekanisme alam dalam menjaga keseimbangan lahan basah,” jelas Nur Patria.
Tantangan di Tengah Perubahan
Meski memiliki nilai ekologis dan budaya yang tinggi, lahan basah Jawa Timur menghadapi tekanan yang semakin besar. Alih fungsi lahan, pencemaran, fragmentasi habitat, dan eksploitasi berlebihan perlahan menggerus daya dukung ekosistem. Tantangan ini sering kali terjadi secara bertahap dan kurang disadari, namun dampaknya nyata dalam jangka panjang.
Balai Besar KSDA Jawa Timur menilai bahwa perlindungan lahan basah tidak dapat dilakukan secara parsial. Diperlukan pendekatan terpadu yang menggabungkan kebijakan konservasi, ilmu pengetahuan, serta keterlibatan aktif masyarakat. Integrasi pengetahuan tradisional ke dalam pengelolaan modern menjadi kunci untuk memastikan konservasi yang inklusif dan berkelanjutan.
Menjaga Bersama, untuk Masa Depan
Konservasi lahan basah pada akhirnya adalah tanggung jawab bersama. Pemerintah memiliki peran strategis dalam penguatan regulasi dan pengelolaan kawasan, sementara masyarakat menjadi penjaga nilai dan praktik yang memastikan keberlanjutan di tingkat tapak.
“Lahan basah adalah warisan bersama. Menjaganya berarti memastikan ruang hidup satwa liar tetap lestari, sumber air tetap terjaga, dan nilai-nilai budaya tetap hidup di tengah perubahan,” tegas Kepala BBKSDA Jawa Timur.
Di tengah krisis iklim dan hilangnya keanekaragaman hayati secara global, lahan basah Jawa Timur berdiri sebagai pengingat bahwa masa depan tidak bisa dipisahkan dari masa lalu. Merawat tradisi berarti merawat ekosistem. Menjaga lahan basah hari ini adalah investasi bagi keselamatan manusia, keberlanjutan alam, dan generasi yang akan datang.
Penulis : Fajar Dwi Nur Aji – PEH Ahli Muda BBKSDA Jatim
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Nur Patria Kurniawan

