Type to search

Berita

Konservasi Penyu di Pacitan

Share
Desa Hadiwarno, Ngadirojo, Pacitan, memiliki sebuah pantai bernama Pantai Taman yang telah lama menjadi kawasan untuk bertelur Penyu. Sejak dulu masyarakat desa ini tidak memiliki wawasan mengenai penyu, sehingga ketika ada penyu yang mendarat untuk bertelur langsung di tangkap dan diperjualbelikan. Meski tidak sampai dijadikan bahan pangan, karena masyarakat setempat percaya bahwa satwa ini memiliki nilai mistis.
 
Mengingat makin turunnya populasi dan penangkapan penyu yang tinggi di pantai taman ria, Tim Ekspedisi Biokonservasi (TEB) – Pusat Studi Lingkungan dan Kependudukan (LPSK) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengadakan sosialisasi program konservasi penyu untuk wisata pada masyarakat Dusu Taman Desa Hadiwarno pada 1 Desember 2012. Pada saat itu pula disepakati pembentukan Kelompok Masyarakat Penyelamat Penyu untuk Wisata (KMKPW) “Taman Ria” yang beranggotakan 31 orang masyarakat setempat. Bapak Wahyu adalah dosen penelitian hewan langka UMM, melihat adanya penyu yang mendarat di pantai tersebut maka berinisiatif melakukan upaya penyadaran konservasi terhadap masyarakat, sehingga pada tanggal 1 Desember 2012, masyarakat diundang untuk bermusyawarah untuk melekukan upaya konservasi dengan melakukan penetasan dan pembesaran telur penyu. Sejak saat itu kegiatan konservasi penyu mulai digalakkan oleh kelompok ini dengan mengembalikan induk penyu bertelur di kawasan pesisir pantai, mengumpulkan telur penyu, penetasan telur, memelihara tukik-tukik, dan melepaskan kembali ke habitatnya.
 
Beberapa jenis penyu seperti Penyu Hijau, Penyu Pipih, Penyu Sisik, dan Penyu Belimbing, sering mendarat di pantai Taman Ria. Penyu Hijau biasa bertelur,  pada bulan Maret hingga September kemarin sebanyak 22 induk penyu hijau bertelur. Sedangkan penyu pipih hanya sesekali mendarat, dan Penyu Belimbing tercatat 5 tahun sekali mendarat untuk bertelur. Hingga kini, kelompok ini berhasil menetaskan telur penyu sebanyak 300 buah, dan telah melepaskan tukik sebanyak 200 ekor dengan umur pembesaran 3 bulan, sedangkan sisanya masih di dalam pembesaran yang direncanakan hingga umur 6 bulan. 
 
Saat ini kegiatan konsevasi penyu ini dibuka untuk khalayak umum yang ingin melihat lokasi konservasi penyu, dengan penarikan retribusi masuk sebesar 2000 rupiah guna membantu dalam pembelian pakan penyu. Harapan dari masyarakat dan pengelola khususnya, adanya perhatian dari instansi terkait untuk mendukung pengembangan konservasi penyu yang telah dilakukan ke depannya.
 
Teks : Suyitno, PEH di Bidang KSDA Madiun
Editor : Agus Irwanto

Leave a Comment