Berita

Kerja Program Matawali Berbuah Pengakuan Dunia, USFWS Apresiasi BBKSDA Jawa Timur

Sidoarjo – Pagi itu, di kantor Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur di Perum Permata No. E-30 Sedati Kulon Wedi, Kecamatan Gedangan, Sidoarjo, tampak seperti hari-hari biasa. Tidak ada sirene, tidak ada satwa yang baru saja dievakuasi, tidak pula hiruk pikuk operasi lapangan. Namun di ruang pertemuan yang sederhana, sebuah pengakuan dari dunia internasional sedang disematkan, bukan untuk satu peristiwa besar, melainkan untuk rangkaian kerja panjang yang nyaris tak pernah terlihat.

Di tempat itu, United States Fish and Wildlife Service (USFWS) memberikan penghargaan kepada Balai Besar KSDA Jawa Timur, menandai apresiasi atas dedikasi dalam penyelamatan satwa liar serta dukungan terhadap penegakan hukum di bidang tumbuhan dan satwa liar. Penghargaan diserahkan oleh James Markley, dan diterima langsung oleh Kepala BBKSDA Jawa Timur, Ir. Nur Patria Kurniawan, S.Hut.,M.Sc. pada 31 Maret 2026.

Namun, seperti banyak kisah konservasi lainnya, inti dari penghargaan ini tidak terletak pada seremoni. Ia tersembunyi di lapangan, di hutan yang lembap, di ladang yang berbatasan dengan habitat liar, di kandang-kandang sempit tempat satwa disita, dan di perjalanan panjang menuju pelepasliaran.

Garda Depan Yang Tak Terlihat
Di Jawa Timur, penyelamatan satwa liar bukanlah peristiwa tunggal. Ia adalah rangkaian respons cepat terhadap laporan yang datang tanpa jadwal, seekor elang tersangkut kabel listrik, lutung yang masuk permukiman, trenggiling yang disita dari jaringan perdagangan, hingga rusa yang terjebak konflik dengan manusia di pulau-pulau kecil.

Di balik semua itu, ada satu nama yang jarang muncul di permukaan, namun menjadi kunci dari setiap operasi: Matawali.

Program dan gugus tugas Matawali, singkatan dari Penyelamatan Satwa Liar Kolaborasi Multipihak_ dibentuk sebagai respons atas meningkatnya kompleksitas penanganan satwa liar di lapangan. Tim ini tersebar di berbagai wilayah kerja BBKSDA Jawa Timur, siap bergerak kapan saja. Mereka adalah kombinasi dari keahlian teknis, insting lapangan, dan ketahanan mental.

Tidak ada operasi yang benar-benar sama. Dalam satu kasus, tim harus menenangkan satwa yang stres akibat konflik. Dalam kasus lain, mereka berhadapan dengan jaringan perdagangan ilegal yang terorganisir. Kadang mereka bekerja dalam sunyi, kadang dalam tekanan publik yang tinggi.

Namun satu hal yang konsisten yaitu waktu. Dalam penyelamatan satwa liar, keterlambatan sering berarti kematian.

Dari Konflik Hingga Penegakan Hukum
Dalam tiga tahun terakhir, BBKSDA Jawa Timur bersama mitra terkait mencatat penyelamatan ratusan individu satwa liar. Angka ini bukan sekadar statistik. Ia merepresentasikan titik-titik pertemuan antara manusia dan satwa, sering kali dalam kondisi yang tidak ideal.

Konflik ruang hidup menjadi salah satu pemicu utama. Perubahan lanskap, ekspansi permukiman, dan tekanan terhadap habitat alami memaksa satwa keluar dari wilayahnya. Di sisi lain, praktik perdagangan ilegal masih menjadi ancaman serius, menempatkan satwa sebagai komoditas.

Di titik inilah peran BBKSDA Jawa Timur meluas, tidak hanya sebagai penyelamat, tetapi juga sebagai bagian dari sistem penegakan hukum.

Setiap penyelamatan yang berasal dari kasus perdagangan ilegal membuka pintu pada proses hukum. Barang bukti, keterangan ahli, hingga koordinasi dengan aparat penegak hukum menjadi bagian dari pekerjaan yang sering kali tidak terlihat oleh publik.

Dalam sambutannya, Markley menegaskan bahwa penghargaan ini juga mencerminkan pentingnya kolaborasi lintas negara dalam memerangi kejahatan terhadap satwa liar. Jaringan perdagangan tidak mengenal batas administratif. Begitu pula upaya untuk menghentikannya.

Kerja Yang Dibangun Dari Kepercayaan
Sebagian besar penyelamatan satwa liar di Jawa Timur justru berawal dari masyarakat. Laporan warga, penyerahan sukarela, hingga informasi dari jaringan lokal menjadi pintu masuk bagi tim Matawali.

Ini menunjukkan satu hal penting bahwa konservasi tidak bisa berjalan tanpa kepercayaan. Kepercayaan itu dibangun perlahan, melalui edukasi, pendekatan persuasif, dan kehadiran yang konsisten di lapangan.

Dalam banyak kasus, masyarakat bukanlah pelaku utama, melainkan bagian dari sistem yang belum sepenuhnya memahami nilai ekologis satwa liar. Di sinilah pendekatan humanis menjadi penting. Setiap interaksi bukan hanya soal menyelamatkan satwa, tetapi juga membangun kesadaran.

Di Balik Penghargaan
Bagi Nur Patria Kurniawan, penghargaan ini bukanlah tujuan akhir. Ia adalah refleksi dari kerja kolektif, dari petugas lapangan, dokter hewan, penyidik, hingga masyarakat yang terlibat.

Dalam pernyataannya, ia menegaskan bahwa konservasi adalah kerja jangka panjang yang membutuhkan konsistensi. Tidak ada solusi instan untuk persoalan yang kompleks seperti konflik satwa atau perdagangan ilegal.

Namun penghargaan ini memberi satu hal yang sering kali lebih penting dari sekadar pengakuan yaitu legitimasi. Legitimasi bahwa apa yang dilakukan di tingkat lokal memiliki dampak global. Bahwa upaya penyelamatan di satu wilayah dapat menjadi bagian dari perlindungan keanekaragaman hayati dunia.

Harapan Yang Melintasi Batas Negara
Momentum ini juga membuka peluang baru dalam kerja sama internasional. Salah satu yang menjadi perhatian adalah upaya repatriasi satwa liar asal Indonesia yang berada di luar negeri.

Repatriasi bukan sekadar memindahkan satwa kembali ke tanah asalnya. Ia adalah proses panjang yang melibatkan aspek hukum, kesehatan satwa, hingga kesiapan habitat. Namun di balik kompleksitas itu, ada satu tujuan sederhana untuk mengembalikan yang seharusnya kembali.

Dukungan dari USFWS diharapkan dapat memperkuat upaya ini, sekaligus memperluas kolaborasi dalam perlindungan keanekaragaman hayati. Jika ada satu benang merah dari seluruh cerita ini, maka itu adalah kolaborasi.

Konservasi jarang hadir dalam sorotan utama. Ia tidak selalu menghasilkan berita besar. Tidak selalu terlihat dramatis. Namun justru di sanalah kekuatannya. Ia bekerja dalam konsistensi, dalam detail, dalam keputusan-keputusan kecil yang diambil setiap hari.

Seekor satwa yang berhasil diselamatkan mungkin tidak mengubah dunia secara instan. Namun ia menjaga satu bagian kecil dari keseimbangan yang lebih besar. Dan ketika kerja-kerja kecil itu dilakukan berulang, dalam skala yang luas, dampaknya menjadi nyata.

Menjaga Yang Tersisa
Di tengah tekanan terhadap lingkungan yang terus meningkat, kerja BBKSDA Jawa Timur melalui tim Matawali menjadi pengingat bahwa masih ada ruang untuk menjaga. Ruang itu mungkin semakin sempit. Tantangannya mungkin semakin kompleks. Namun selama masih ada upaya, masih ada harapan.

Penghargaan dari United States Fish and Wildlife Service bukanlah akhir dari perjalanan. Ia adalah penanda bahwa jalan yang ditempuh, meski sunyi adalah jalan yang benar.

Dan di Jawa Timur, kerja itu akan terus berlanjut. Senyap. Namun menjaga kehidupan.

Penulis : Krismanko Padang, SH., MH. – Kepala Bagian Tata Usaha & Fajar Dwi Nur Aji – PEH Ahli Muda
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Balai Besar KSDA Jawa Timur