Artikel

Kamera Jebak Bongkar Kehidupan Satwa di Hutan Kota Trenggalek

Trenggalek, 31 Maret 2026 – Hutan Kota Trenggalek kerap dipromosikan sebagai ruang hijau penyangga kehidupan urban. Namun rekaman kamera jebak terbaru justru memunculkan pertanyaan mendasar, apakah kawasan ini benar-benar menjadi habitat yang aman, atau sekadar ruang tersisa bagi satwa liar yang terdesak?

Pemasangan dua unit kamera jebak oleh petugas Resort Konservasi Wilayah (RKW) 02 Blitar pada Maret 2026 awalnya ditujukan untuk mendokumentasikan keberadaan burung-burung target, seperti Cekakak Jawa, Paok Pancawarna, dan Paok Hujan. Kamera dipasang di titik strategis, dekat lubang sarang dan jalur lintasan satwa yang diinformasikan pengelola kawasan.

Namun hasilnya berbicara lain.

Alih-alih menemukan burung-burung target dalam jumlah signifikan, kamera justru lebih banyak merekam burung dan satwa lainnya, seperti sepasang Pelanduk-Topi Jawa, Pelanduk Semak, seekor Wiwik Kelabu remaja, hingga Biawak Air. Kehadiran Pelanduk-Topi Jawa, spesies endemik yang dikenal sensitif terhadap gangguan yang memang menjadi temuan penting. Tetapi di sisi lain, dominasi rekaman satwa tertentu dapat dibaca sebagai indikator terbatasnya kualitas habitat.

Dua jenis burung yang menjadi target utama, Paok Pancawarna dan Paok Hujan, tidak terekam sama sekali. Padahal, salah satunya merupakan burung migran yang seharusnya melintasi atau singgah di kawasan ini. Ketiadaan data visual tersebut menimbulkan dugaan, apakah ruang yang tersedia sudah tidak lagi memenuhi kebutuhan ekologis spesies tersebut?

Fenomena ini tidak bisa dilepaskan dari karakter hutan kota itu sendiri. Berbeda dengan kawasan konservasi yang memiliki perlindungan ketat, hutan kota berada dalam tekanan langsung aktivitas manusia, mulai dari fragmentasi habitat, kebisingan, hingga interaksi yang tidak terkendali. Dalam kondisi seperti ini, hanya jenis-jenis tertentu yang mampu beradaptasi, sementara spesies lain perlahan menghilang tanpa terdeteksi.

Rekaman kamera jebak menjadi bukti diam dari proses tersebut. Satwa yang tertangkap kamera bukan hanya menunjukkan keberadaan, tetapi juga menyiratkan pola adaptasi, pergeseran perilaku, hingga potensi tekanan ekologis yang tidak terlihat secara kasat mata.

Analisis lanjutan terhadap waktu kemunculan dan aktivitas satwa kini menjadi kunci. Apakah satwa lebih aktif pada malam hari untuk menghindari manusia? Apakah jalur lintasan mereka semakin sempit? Atau justru kawasan ini hanya menjadi koridor sementara, bukan habitat permanen?

Hutan Kota Trenggalek, dalam konteks ini, tidak lagi sekadar ruang hijau. Ia menjadi cermin tentang bagaimana kota memperlakukan ruang hidup lain di luar manusia. Kamera jebak hanya membuka sebagian kecil dari kenyataan itu.

Pertanyaannya, apakah kita siap membaca dan menindaklanjutinya?

Penulis : Fajar Dwi Nur Aji, PEH Ahli Muda
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Bidang KSDA Wilayah I Madiun