Berita

Hari Bakti Rimbawan 2026: Dari Jawa Timur, Komitmen Menjaga Hutan dan Keanekaragaman Hayati Diteguhkan

Sidoarjo – Pagi datang perlahan di bentang alam Jawa Timur. Kabut tipis menggantung di antara tajuk pepohonan, embun menempel di helai daun, dan suara burung liar memecah sunyi yang purba. Di tempat-tempat seperti inilah kehidupan sesungguhnya dirawat, bukan dengan gemuruh, melainkan dengan ketekunan yang nyaris tak terdengar.

Pada 16 Maret 2026, semangat itu kembali diteguhkan melalui peringatan Hari Bakti Rimbawan ke-43. Tahun ini, Hari Bakti Rimbawan mengusung tema “Kerja Ikhlas, Tata Kelola Berkualitas: Rimbawan Membangun Kehidupan Berkelanjutan.”

Di Jawa Timur, tema tersebut bukan sekadar semboyan. Ia menjadi cermin dari ikhtiar panjang insan kehutanan dalam menjaga hutan, merawat keanekaragaman hayati, dan memastikan bahwa alam tetap memiliki kesempatan untuk bertahan di tengah perubahan zaman.

Bagi Balai Besar KSDA Jawa Timur, Hari Bakti Rimbawan bukan hanya penanda sejarah pengabdian insan kehutanan, melainkan momentum refleksi atas tugas yang tak pernah benar-benar selesai. Sebab konservasi selalu bergerak di antara tantangan yang nyata, bergerak dalam tekanan terhadap habitat, fragmentasi bentang alam, peredaran tumbuhan dan satwa liar, konflik antara manusia dan satwa, hingga ancaman yang datang pelan namun pasti.

Karena itu, peringatan Hari Bakti Rimbawan 2026 dimaknai sebagai penguatan kembali nilai dasar pengabdian rimbawan untuk bekerja dengan ketulusan, melayani dengan integritas, dan menghadirkan tata kelola yang mampu menjawab kebutuhan konservasi secara nyata. Kerja ikhlas menjadi fondasi moral, sementara tata kelola berkualitas menjadi jalan agar setiap langkah perlindungan, pengawetan, dan pemanfaatan secara lestari benar-benar memberi hasil yang terukur.

Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur, Ir. Nur Patria Kurniawan, S.Hut., M.Sc., menegaskan bahwa Hari Bakti Rimbawan harus dibaca sebagai panggilan moral sekaligus profesional bagi seluruh insan kehutanan, untuk terus memperkuat peran konservasi di tengah tantangan yang semakin dinamis.

“Hari Bakti Rimbawan ke-43 adalah momentum untuk meneguhkan kembali bahwa pengabdian rimbawan bukan sekadar tugas administratif, melainkan tanggung jawab peradaban. Tema tahun ini, ‘Kerja Ikhlas, Tata Kelola Berkualitas: Rimbawan Membangun Kehidupan Berkelanjutan’, mengingatkan kita bahwa hutan, tumbuhan, satwa liar, dan seluruh ekosistem yang kita jaga adalah fondasi kehidupan. Karena itu, kerja-kerja konservasi harus dijalankan dengan ketulusan, profesionalisme, disiplin, dan tata kelola yang akuntabel agar manfaatnya benar-benar dirasakan, bukan hanya hari ini, tetapi juga oleh generasi yang akan datang,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa di Jawa Timur, komitmen tersebut diterjemahkan melalui penguatan perlindungan kawasan, penyelamatan keanekaragaman hayati, dan peningkatan kualitas pelayanan konservasi. Serta, penguatan sinergi dengan masyarakat, pemerintah daerah, aparat penegak hukum, lembaga konservasi, mitra teknis, dan seluruh elemen yang memiliki kepedulian terhadap kelestarian alam.

“Konservasi tidak dapat berdiri sendiri. Ia memerlukan kolaborasi, kepercayaan, dan kesadaran bersama bahwa menjaga alam berarti menjaga kehidupan. Dari Jawa Timur, kami ingin menegaskan bahwa komitmen menjaga hutan dan keanekaragaman hayati harus terus dirawat dengan semangat kerja ikhlas dan tata kelola berkualitas. Inilah bentuk bakti rimbawan untuk bangsa, untuk lingkungan, dan untuk masa depan yang berkelanjutan,” tegas Nur Patria.

Pernyataan tersebut menegaskan satu hal penting, bahwa konservasi hari ini tidak lagi cukup hanya dijalankan dengan semangat, tetapi juga harus dikelola dengan mutu kelembagaan yang kuat. Di tengah tuntutan pelayanan publik yang semakin tinggi, pengelolaan kawasan konservasi dan perlindungan keanekaragaman hayati harus dijalankan secara adaptif, responsif, transparan, dan berbasis hasil.

Inilah makna tata kelola berkualitas yang sesungguhnya, bahwa pengabdian kepada alam harus bersanding dengan kapasitas institusi yang mampu bekerja secara efektif dan terpercaya.

Di saat yang sama, Hari Bakti Rimbawan juga menjadi ruang penghormatan bagi seluruh jejak pengabdian para rimbawan, baik yang bekerja di lapangan, di kantor, di jalur pengawasan, di titik penyelamatan satwa, di pusat edukasi, maupun di wilayah-wilayah sunyi tempat alam dipertahankan dari ancaman kerusakan. Mereka mungkin tidak selalu hadir dalam sorotan, tetapi hasil kerja merekalah yang memungkinkan ekosistem tetap bernapas.

Hari Bakti Rimbawan 2026 pada akhirnya bukan hanya peringatan tahunan. Ia adalah penegasan bahwa perjuangan menjaga hutan dan keanekaragaman hayati harus terus dilanjutkan, bahkan ketika tantangan semakin berat dan lanskap semakin berubah. Dari Jawa Timur, pesan itu kembali diperdengarkan dengan jernih, bahwa hutan bukan ruang kosong, satwa liar bukan sekadar penghuni bentang alam, dan konservasi bukan pekerjaan pinggiran. Semuanya adalah inti dari upaya menjaga keseimbangan hidup.

Sebab ketika rimbawan menjaga hutan, yang sesungguhnya sedang dijaga adalah masa depan kehidupan itu sendiri. Di balik rimba, di garis sunyi kawasan konservasi, di jalur patroli yang panjang, di pesisir yang rapuh, dan di habitat satwa liar yang terus terdesak, para rimbawan bekerja menjaga sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri, tentang keberlanjutan kehidupan.

Penulis : Fajar Dwi Nur Aji – PEH Ahli Muda
Editor : Agus Irwanto