Duri yang Tertinggal di Tanah Lembap Berbatu, Membuka Tabir Misteri Mamalia Rimba Bawean 2026
Bawean – Di lereng berbatu dengan kemiringan sekitar 35 derajat di Blok Gunung Besar, langkah tim SMART Patrol pembuka 2026 terhenti pada sebuah detail kecil, sebatang duri hitam-putih tergeletak di tanah lembap, di antara batu vulkanik dan akar yang mencengkeram lereng (17/02/26). Temuan itu sederhana, namun bermakna. Ia diduga kuat berasal dari Hystrix javanica atau landak Jawa, mamalia nokturnal yang selama ini lebih sering terekam daripada terlihat langsung di Rimba Bawean.
Temuan fisik ini menjadi penguat terbaru atas indikasi keberadaan landak di Suaka Alam Pulau Bawean, sekaligus membuka bab awal konservasi 2026 dengan pendekatan berbasis data.
Rangkaian Bukti: 2023–2025 hingga Konfirmasi Lapangan 2026
Indikasi kehadiran Landak di Blok Gunung Besar bukanlah peristiwa tunggal. Sejak 2023, kamera trap yang dipasang di kawasan tersebut merekam sosok mamalia berduri yang aktif pada malam hari. Rekaman serupa kembali muncul pada 2024 dan terakhir pada 2025, di titik yang masih berada dalam lanskap Blok Gunung Besar.
Secara kronologis, tiga tahun berturut-turut rekaman kamera trap itu menunjukkan pola konsisten dengan aktivitas dominan pada malam hari, pergerakan lambat menyusuri jalur bawah kanopi serta profil tubuh membulat dengan tonjolan duri yang khas.
Dalam metodologi pemantauan satwa liar, rekaman berulang dalam rentang waktu berbeda pada lokasi yang relatif sama memperkuat dugaan keberadaan populasi yang menetap, bukan sekadar individu jelajah sesaat.
Namun, rekaman visual tetap memerlukan penguatan bukti biologis. Duri yang ditemukan pada awal 2026 di lereng terjal Gunung Besar menjadi bukti fisik pertama yang teridentifikasi langsung di lapangan. Secara morfologi, duri Hystrix javanica memiliki pola cincin hitam-putih dan struktur keratin keras yang berfungsi sebagai pertahanan diri. Duri dapat terlepas akibat gesekan vegetasi atau respons terhadap ancaman predator.
Lanskap Gunung Besar: Habitat yang Mendukung
Secara geografis, Pulau Bawean merupakan pulau vulkanik seluas ±196 km² di Laut Jawa, dengan topografi perbukitan dan lereng curam. Blok Gunung Besar dikenal memiliki substrat berbatu dan tutupan vegetasi yang relatif rapat.
Kemiringan sekitar 35 derajat di lokasi temuan bukan sekadar angka. Lereng seperti ini relatif minim gangguan manusia dan menyediakan celah batu alami yang potensial menjadi tempat berlindung atau sarang. Landak dikenal memanfaatkan liang tanah maupun celah batu untuk bersembunyi pada siang hari.
Sebagai herbivora nokturnal, landak memakan umbi, akar, dan buah hutan. Keberadaannya mencerminkan ketersediaan sumber pakan dan struktur vegetasi yang masih berfungsi secara ekologis.
Dalam konteks pulau kecil seperti Bawean—yang secara teori biogeografi memiliki jumlah spesies terbatas akibat isolasi—setiap tambahan bukti keberadaan mamalia berukuran sedang memiliki arti signifikan bagi pemahaman struktur komunitas satwa.
Antara Misteri dan Kehati-hatian Ilmiah
Rangkaian rekaman kamera trap 2023, 2024, dan 2025 yang terpusat di Blok Gunung Besar, ditambah temuan duri pada awal 2026, membentuk satu alur data yang semakin kuat. Meski demikian, Balai Besar KSDA Jawa Timur tetap menempatkan proses verifikasi sebagai prioritas.
Langkah tindak lanjut meliputi analisis morfologi duri secara detail dan pembandingan referensi taksonomi, intensifikasi kamera trap di radius sekitar titik temuan, survei jejak tambahan dan identifikasi kemungkinan lokasi sarang serta pemetaan spasial untuk memahami pola jelajah. Pendekatan ini memastikan bahwa setiap simpulan berdiri di atas validasi ilmiah yang terukur.
Di tanah lembap berbatu lereng Gunung Besar, duri kecil itu menjadi simbol kesinambungan data dari jejak digital kamera jebak tiga tahun berturut-turut hingga bukti biologis langsung di awal 2026. Ia bukan sensasi. Ia adalah akumulasi ketekunan pemantauan.
Jika konfirmasi lanjutan menguatkan keberadaan populasi menetap, maka Blok Gunung Besar akan tercatat sebagai salah satu habitat penting mamalia nokturnal di Bawean. Dan dari duri yang tertinggal itu, tabir misteri mamalia Rimba Bawean perlahan berubah menjadi pengetahuan, tentang pulau kecil yang tetap menyimpan denyut kehidupan di balik lereng-lereng terjalnya.
Penulis : Fajar Dwi Nur Aji – PEH Ahli Muda Pada BBKSDA Jatim
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Tim Smart Patrol Seksi KSDA Wilayah III Surabaya