Type to search

Berita

Di Pantai Pacar, 50 Tukik Penyu Hijau Menyusuri Kembali Jalan Pulang ke Samudra

Share

Mendung tipis yang menggantung rendah di langit Pantai Pancar tidak mengurangi khidmat sebuah perjalanan hidup yang dimulai kembali. Tepat pukul 11.22 WIB, lima puluh tukik Penyu Hijau (Chelonia mydas) merayap pelan menuju ombak pertama yang memanggil mereka pulang. Garis-garis kecil yang mereka tinggalkan di pasir adalah rekaman dari harapan yang baru saja dilepaskan ke samudra.

Tim Seksi KSDA Wilayah I Kediri, BBKSDA Jawa Timur hadir memenuhi undangan Badan Perencanaan Daerah Tulungagung bersama Forum Geopark Jawa Timur dan Pokdarwis Pantai Sanggar (27/11/2025). Sejumlah pejabat daerah turut menyaksikan momen ini. Meski kegiatan berlangsung singkat, hanya lima menit, tersapu laju pasang yang cepat, kehangatannya terasa panjang, mengalir jauh melampaui batas garis pantai.

Penyu Hijau, sebagai penjaga padang lamun dan keseimbangan ekosistem laut, kini berada di bawah perlindungan yang semakin teguh. Regulasi terbaru, termasuk Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2024 yang memperbarui kerangka konservasi nasional, memberikan penegasan terhadap pengelolaan konservasi di wilayah laut dan pesisir.

Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 66 Tahun 2025 juga memasukkan seluruh jenis penyu sebagai jenis ikan yang dilindungi sepenuhnya. Namun di balik semua pengaturan itu, terdapat satu hal yang tidak berubah, bahwa penyu adalah satwa yang hidup dalam dua dunia, dan konservasinya adalah jembatan yang menghubungkan keduanya.

Dalam konteks inilah, kehadiran BBKSDA Jawa Timur tetap menjadi bagian penting dari perjalanan konservasi penyu di wilayah pesisir. Pendampingan terhadap masyarakat, edukasi konservasi, serta pelibatan dalam kegiatan pelepasliaran adalah bagian dari upaya menjaga harmoni antara manusia, pesisir, dan kehidupan laut. Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci, dan setiap pihak bergerak dalam irama yang saling menguatkan.

Setiap tukik yang kembali ke laut adalah pesan bahwa kita tidak bekerja sendiri. Konservasi adalah ruang kolaborasi yang luas, tempat semua pihak saling menopang demi keberlanjutan kehidupan. Laut dan pesisir tidak dapat dipisahkan, begitu pula peran-peran yang mengelilinginya. Pelepasliaran hari ini adalah wujud kebersamaan kita dalam menjaga warisan alam untuk generasi berikutnya.

Suara ombak perlahan menelan jejak terakhir para tukik. Mungkin hanya satu dari mereka yang akan kembali, bertahun-tahun mendatang, untuk meneruskan siklus yang sama. Tetapi satu penyu dewasa saja cukup untuk menghidupkan kembali harapan yang dilepas hari itu, bahwa manusia, ketika bergerak bersama alam, mampu menjaga kehidupan yang lebih besar dari dirinya sendiri. (dna)

Sumber: Bidang KSDA Wilayah 1 Madiun – Balai Besar KSDA Jawa Timur

Tags:

You Might also Like