Di Antara Lumpur dan Cahaya Pagi: Catatan Seorang Pengendali Ekosistem Hutan di Sudut Stadion Gelora Bung Tomo
Surabaya – Pagi baru saja membuka dirinya ketika lanskap tambak di kawasan barat Surabaya perlahan tersingkap dari sisa gelap malam. Udara masih lembap sisa hujan semalam, dengan aroma khas perairan payau yang tipis namun tegas. Di kejauhan, siluet Stadion Gelora Bung Tomo, yang secara administratif berada di Kelurahan Benowo, Kecamatan Pakal—berdiri seperti penanda zaman: modern, kokoh, dan kontras dengan hening hamparan tambak di sekitarnya (25/04/2026).
Perjalanan pagi itu sejatinya bukan untuk melakukan pengamatan. Perjalanan ini hanya bagian dari rutinitas, melintasi jalur Surabaya menuju Gresik, menyusuri batas-batas lanskap yang perlahan berubah dari kota menuju kawasan pesisir. Namun dalam pekerjaan sebagai Pengendali Ekosistem Hutan, rutinitas sering kali menjadi ruang perjumpaan yang tak terduga.
Dan pagi itu, sesuatu terjadi. Bukan suara keras. Tidak pula gerakan yang mencolok. Hanya perubahan halus dalam pola visual lanskap, titik-titik putih yang bergerak perlahan di atas permukaan tambak yang tenang. Sekilas tampak seperti bias cahaya. Namun semakin diamati, pola itu menjadi jelas, kawanan burung air sedang beraktivitas.
Langkah terhenti. Insting bekerja. Ada sesuatu yang perlu dibaca.
Di hamparan air dangkal, puluhan burung tampak berjalan dan berhenti dalam ritme yang tidak seragam, namun saling terhubung. Beberapa individu terbang rendah, berpindah dari satu petak tambak ke petak lain. Yang lain tetap diam, seolah menyatu dengan lingkungan.
Pengamatan lebih dekat mengungkap satu hal penting: mereka bukan satu jenis. Yang paling mudah dikenali adalah individu berukuran besar dengan leher panjang yang melengkung elegan. Gerakannya lambat, hampir seperti tidak tergesa. Ia berdiri diam cukup lama sebelum tiba-tiba menusukkan paruhnya ke air. Ini adalah Kuntul besar, spesies yang dikenal mengandalkan strategi berburu sit-and-wait, meminimalkan energi sambil menunggu mangsa mendekat.
Di sekelilingnya, dinamika yang berbeda berlangsung. Individu yang lebih kecil, lebih aktif, dan jauh lebih responsif terhadap perubahan di permukaan air bergerak cepat. Mereka melangkah ringan, sesekali berlari pendek, lalu berhenti secara tiba-tiba. Kaki hitam dengan jari kuning menjadi ciri khas yang kontras dengan lumpur tambak. Mereka adalah Kuntul kecil, pemburu aktif yang memanfaatkan gangguan kecil untuk memancing pergerakan mangsa.
Sedikit menjauh dari genangan utama, di bagian tambak yang relatif lebih kering, tampak kelompok lain dengan postur lebih kompak. Mereka tidak terlalu bergantung pada air dangkal. Pergerakannya lebih fleksibel, bahkan cenderung mendekati batas daratan. Spesies ini adalah Kuntul kerbau, burung yang secara ekologis dikenal memiliki rentang adaptasi luas, sering ditemukan di area persawahan hingga lingkungan yang berdekatan dengan aktivitas manusia.
Namun yang paling menarik justru hadir dalam keheningan.
Di antara tepian tambak, berdiri satu sosok yang nyaris luput dari perhatian. Warna tubuhnya coklat kusam, menyatu dengan lumpur dan vegetasi rendah di sekitarnya. Ia tidak bergerak. Tidak memberi tanda keberadaan. Hingga sesaat kemudian, ketika ia terbang, tubuhnya berubah menjadi putih kontras yang mencolok. Ia adalah Blekok sawah, spesies dengan kemampuan kamuflase tinggi, mengandalkan strategi diam untuk mendekati mangsa.
Empat spesies. Satu ruang ekologis. Empat pendekatan berbeda untuk bertahan hidup.
Dalam kajian ekologi, fenomena ini dikenal sebagai pembagian relung (niche partitioning) sebuah mekanisme alami yang memungkinkan beberapa spesies dengan kebutuhan serupa untuk hidup berdampingan tanpa kompetisi langsung yang berlebihan. Setiap spesies memanfaatkan sumber daya dengan cara yang berbeda: dari posisi berburu, teknik menangkap mangsa, hingga mikrohabitat yang digunakan.
Dan pagi itu, konsep tersebut tidak lagi sekadar teori. Ia hadir nyata, tepat di depan mata.
Kawanan burung itu tidak saling berebut. Tidak ada konflik yang terlihat. Sebaliknya, ada harmoni yang terbentuk dari perbedaan. Yang satu diam dan menunggu, yang lain bergerak aktif. Yang satu memilih air terbuka, yang lain bertahan di tepian. Yang satu mengandalkan visibilitas, yang lain mengandalkan penyamaran.
Semua bergerak menuju satu tujuan yang sama, makan. Tambak-tambak ini, yang bagi manusia adalah ruang produksi ekonomi, bagi burung-burung tersebut adalah lanskap kehidupan. Ikan kecil, udang, dan organisme akuatik lainnya menjadi sumber energi yang menopang keberlangsungan mereka.
Di sinilah narasi menjadi lebih dalam. Karena apa yang terlihat sebagai aktivitas biasa, sesungguhnya adalah indikator ekologis.
Kehadiran beberapa spesies burung air dalam jumlah signifikan mengindikasikan bahwa kawasan ini masih memiliki produktivitas biologis yang cukup tinggi. Ketersediaan pakan masih terjaga. Struktur habitat masih mampu mendukung kehidupan.
Namun, dalam perspektif yang lebih luas, ada lapisan lain yang tidak bisa diabaikan.
Tambak adalah habitat buatan. Ia bukan ekosistem alami yang terbentuk tanpa intervensi manusia. Ia adalah hasil modifikasi lanskap, ruang produksi yang secara tidak langsung menggantikan sebagian fungsi lahan basah alami yang semakin terfragmentasi di wilayah pesisir utara Jawa.
Dengan kata lain, kawasan ini berperan sebagai habitat substitusi. Dan di sinilah ambiguitas ekologis itu muncul.
Apakah keberadaan burung-burung ini menunjukkan bahwa mereka berhasil beradaptasi terhadap perubahan lanskap? Ataukah ini justru sinyal bahwa habitat asli mereka tidak lagi mampu menyediakan kebutuhan dasar kehidupan? Tidak ada jawaban tunggal.
Namun dalam praktik pengelolaan ekosistem, pertanyaan seperti ini menjadi sangat penting. Karena konservasi tidak hanya berbicara tentang melindungi apa yang tersisa, tetapi juga memahami bagaimana spesies merespons perubahan.
Pengamatan pagi itu, meskipun singkat, menjadi potongan data yang berharga.
Bukan hanya tentang jenis burung yang ditemukan, tetapi juga tentang perilaku, distribusi mikrohabitat, dan interaksi antarspesies. Semua itu adalah informasi yang, jika dikumpulkan secara sistematis, dapat memberikan gambaran lebih utuh tentang kondisi ekosistem.
Langit mulai terang sepenuhnya. Aktivitas manusia perlahan meningkat. Suara kendaraan mulai terdengar lebih jelas. Kawanan burung itu pun mulai berkurang, sebagian terbang menjauh, sebagian berpindah ke petak tambak yang lebih tenang.
Momen itu berakhir. Namun maknanya tertinggal. Perjalanan kembali dilanjutkan, tetapi dengan perspektif yang berbeda. Apa yang semula hanya lintasan biasa, berubah menjadi ruang pembacaan lanskap, tempat di mana setiap detail memiliki arti.
Sebagai Pengendali Ekosistem Hutan, peran tidak selalu hadir dalam bentuk tindakan besar. Kadang ia hadir dalam bentuk sederhana: berhenti, mengamati, dan memahami.
Karena perubahan ekologis jarang datang secara tiba-tiba. Ia bergerak perlahan. Hampir tak terlihat. Namun pasti.
Dan pagi itu, di tambak di sudut Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya, perubahan itu sedang berlangsung, tenang, teratur, dan penuh makna, bagi siapa pun yang bersedia memperhatikannya.
Penulis : Fajar Dwi Nur Aji – PEH Ahli Muda BBKSDA Jatim
Editor : Agus Irwanto