
Warga Kampung Inggris Serahkan Elang
Balai Besar KSDA Jawa Timur (BBKSDA Jatim) kembali menerima penyerahan beberapa satwa liar yang dilindungi pada 4 Mei 2017 yang lalu melalui Resort Konservasi Wilayah 01 Kediri. Adalah Puthut Susilo
Temukan informasi terbaru, kegiatan konservasi, dan edukasi seputar keanekaragaman hayati di Jawa Timur.
Menampilkan hasil untuk: di kategori Berita(1249 artikel ditemukan)

Balai Besar KSDA Jawa Timur (BBKSDA Jatim) kembali menerima penyerahan beberapa satwa liar yang dilindungi pada 4 Mei 2017 yang lalu melalui Resort Konservasi Wilayah 01 Kediri. Adalah Puthut Susilo

[caption id="attachment_3763" align="aligncenter" width="1181"] Foto : Agus Irwanto[/caption] Kandang satwa hibah dari Jatim Park II, yang berupa kandang gantung dan berukuran 10,5 x 3 x 3 meter terse

[caption id="attachment_3759" align="aligncenter" width="721"] sumber foto: ppid.dephut.go.id[/caption] Pengamat burung Wonorejo, Iwan Febrianto atau lebih dikenal dengan Iwan Londo menyayangkan acara

Wilayah Indonesia berada pada posisi strategis, terletak di daerah tropis, diantara Benua Asia dan Australia, diantara Samudera Pasifik dan Samudera Hindia, serta dilalui garis katulistiwa, terdiri d

[caption id="attachment_3699" align="aligncenter" width="1023"] Wakil Presiden Jusuf Kalla menandatangani prasasti peresmian Pusat Daur Ulang Sampah Jambangan saat menghadiri peringatan Hari Peduli Sa

Kamis, 23 Februari 2016, Kantor Seksi Konservasi Wilayah (SKW) III Surabaya resmi diresmikan. Hal ini terkait pemugaran yang dilakukan terhadap kantor yang terletak di Jalan Kutisari Selatan, Suraba

[caption id="attachment_3676" align="aligncenter" width="666"] Sumber Foto : florafaunaofindonesia.wordpress.com[/caption] Edelweiss (Anaphalis Javanica) atau yang populer disebut oleh kaum pendaki s

[caption id="attachment_3657" align="aligncenter" width="674"] penyerahan Merak Hijau (foto : agus irwanto)[/caption] Rabu, 25 Januari 2017, Balai Besar KSDA Jawa Timur menerima penyerahan satwa liar

Sekitar 60 persen spesies primata terancam punah, sebagian besar karena aktivitas manusia menurut satu studi. "Sekarang sungguh saat-saat terakhir bagi banyak makhluk ini," kata profesor antropologi