AWC 2026 Dimulai, KSDA Jatim Perkuat Pemantauan Burung Air dan Ekosistem Lahan Basah
Share
Sidoarjo, 28 Januari 2026. Pemantauan burung air kembali digelar secara serentak di berbagai wilayah Indonesia. Tahun ini, Asian Waterbird Census (AWC) 2026 resmi dimulai sebagai bagian dari komitmen global dalam menjaga keberlanjutan ekosistem lahan basah dan jalur migrasi burung air.
Bagi Jawa Timur, kegiatan ini menjadi momentum penting untuk memperbarui data populasi burung air sekaligus membaca kondisi habitat lahan basah yang terus menghadapi tekanan perubahan lingkungan dan aktivitas manusia.
Balai Besar KSDA Jawa Timur berperan aktif dalam pelaksanaan AWC 2026 dengan memperkuat koordinasi pemantauan di wilayah kerja masing-masing. Kegiatan ini merupakan agenda rutin tahunan yang telah berjalan sejak lama dan menjadi rujukan ilmiah penting dalam pengelolaan konservasi burung air serta ekosistem lahan basah, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur, Nur Patria Kurniawan menegaskan bahwa AWC memiliki peran strategis sebagai dasar pengambilan kebijakan konservasi.
“Asian Waterbird Census bukan sekadar kegiatan pendataan, tetapi instrumen ilmiah untuk membaca kesehatan ekosistem. Burung air adalah indikator ekologis yang sangat sensitif. Perubahan pada populasi dan sebarannya sering kali menjadi sinyal awal adanya gangguan pada lahan basah,” jelasnya.
Asian Waterbird Census merupakan bagian dari International Waterbird Census (IWC), sebuah program pemantauan global yang dilaksanakan secara serentak setiap tahun dengan melibatkan jejaring relawan, peneliti, dan otoritas konservasi di berbagai negara. Di Indonesia, kegiatan ini dikoordinasikan oleh Direktorat Jenderal KSDAE dan menjadi bagian dari kemitraan jalur migrasi East Asian–Australasian Flyway (EAAF).
Lebih lanjut, Nur Patria menekankan bahwa keberhasilan AWC tidak lepas dari kolaborasi multipihak dan peran masyarakat.
“Kami mendorong keterlibatan berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, perguruan tinggi, mitra konservasi, hingga komunitas pengamat burung. Partisipasi ini tidak hanya memperkuat kualitas data, tetapi juga menumbuhkan kesadaran bersama bahwa menjaga burung air berarti menjaga sistem kehidupan lahan basah itu sendiri,” tambahnya.
Pelaksanaan AWC 2026 bertujuan untuk memperoleh informasi terkini mengenai populasi burung air di lokasi-lokasi singgah dan habitat penting. Data tersebut digunakan sebagai dasar evaluasi lokasi, pemantauan tren populasi, serta penilaian status dan kondisi lahan basah secara berkala. Informasi ini menjadi instrumen penting dalam mendeteksi dini degradasi habitat dan merumuskan langkah-langkah pengelolaan konservasi yang lebih adaptif.
Hasil pemantauan AWC 2026 selanjutnya akan disusun dalam laporan nasional Indonesia dan menjadi bagian dari kontribusi global dalam jejaring EAAF. Melalui kegiatan ini, Balai Besar KSDA Jawa Timur menegaskan komitmennya untuk menjaga kesinambungan ekosistem lahan basah dan memastikan jalur migrasi burung air tetap lestari bagi generasi mendatang.
Penulis : Fajar Dwi Nur Aji – PEH Ahli Muda BBKSDA Jatim
Editor : Agus Irwanto

