Antara Insting dan Ketakutan, Saat Monyet Ekor Panjang Masuk Kampung Warga Gresik
Gresik – Di sebuah sudut perkampungan Dusun Pareng Wetan, Desa Melirang, Kecamatan Bungah, Kabupaten Gresik, ketegangan sempat mengendap di antara warga. Seekor primata liar, Monyet Ekor Panjang tertangkap setelah beberapa waktu terakhir terlihat berkeliaran di sekitar permukiman, memicu kekhawatiran akan potensi gangguan dan konflik.
Pada Kamis, 2 April 2026, laporan masyarakat tersebut segera direspons oleh Tim Matawali Bidang KSDA Wilayah II Gresik. Respons cepat ini menjadi bagian dari komitmen menjaga keseimbangan antara keselamatan manusia dan kelestarian satwa liar, dua hal yang kerap berada dalam garis tipis ketika ruang hidup saling bersinggungan.
Informasi awal diterima dari seorang warga bernama Nurul, yang melaporkan keberadaan satwa tersebut setelah akhirnya berhasil diamankan oleh masyarakat. Kekhawatiran warga bukan tanpa alasan. Dalam kondisi terdesak atau stres, satwa liar dapat menunjukkan perilaku defensif yang berisiko melukai manusia. Di sisi lain, keberadaan satwa ini di luar habitat alaminya juga menjadi indikator adanya tekanan ekologis atau intervensi manusia di masa sebelumnya.
Tim yang digawangi Andik Sumarsono, Zainal Syaifulloh, dan Budi Al Katif segera bergerak ke lokasi. Proses evakuasi dilakukan secara hati-hati untuk meminimalisir stres pada satwa sekaligus memastikan keamanan warga sekitar. Seekor Monyet Ekor Panjang tersebut berhasil dievakuasi dalam kondisi hidup.
Meski tidak termasuk satwa yang dilindungi secara nasional, keberadaannya tetap memiliki peran ekologis penting, terutama sebagai penyebar biji di ekosistem hutan tropis. Namun, saat satwa diduga berasal dari peliharaan yang lepas, dinamika menjadi lebih kompleks. Satwa yang terbiasa berinteraksi dengan manusia cenderung kehilangan naluri alaminya, sehingga lebih rentan memasuki permukiman dan memicu konflik.
Pasca evakuasi, satwa tersebut kemudian dibawa ke kandang transit Unit Penyelamatan Satwa (UPS) BBKSDA Jawa Timur untuk penanganan lebih lanjut. Tahapan ini penting untuk observasi kondisi kesehatan, perilaku, serta menentukan langkah terbaik berikutnya, apakah memungkinkan untuk dilepasliarkan kembali atau memerlukan penanganan khusus.
Peristiwa ini bukan sekadar kisah tentang satu individu satwa yang tersesat di ruang manusia. Ia adalah fragmen kecil dari narasi yang lebih besar, tentang bagaimana batas antara habitat alami dan ruang hidup manusia kian kabur. Alih fungsi lahan, fragmentasi habitat, hingga praktik pemeliharaan satwa liar menjadi faktor yang saling terkait dalam membentuk pola konflik yang semakin sering terjadi.
Di tengah situasi tersebut, kehadiran negara melalui Balai Besar KSDA Jawa Timur menjadi penyeimbang. Tidak hanya sebagai responden cepat terhadap laporan masyarakat, tetapi juga sebagai penjaga nilai bahwa setiap satwa, dilindungi atau tidak, tetap bagian dari jejaring kehidupan yang harus dijaga.
Karena pada akhirnya, konservasi bukan hanya tentang melindungi satwa di hutan, melainkan juga tentang bagaimana manusia belajar berbagi ruang, memahami batas, dan merawat harmoni yang kian rapuh.
Penulis : Fajar Dwi Nur Aji, PEH Ahli Muda
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik