Tim Matawali Resort Konservasi Wilayah (RKW) 05 Ponorogo menerima penyerahan dua ekor sanca bodo hasil evakuasi dari rumah warga di Desa Tugurejo,
Kecamatan Sawoo, dan Desa Tugurejo, Kecamatan Balong, Kabupaten Ponorogo (29/01/2026). Proses evakuasi dilakukan oleh Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI NU) Ponorogo setelah menerima laporan dari masyarakat.
Keberadaan satwa melata berukuran besar di lingkungan permukiman tentu menimbulkan kekhawatiran. Namun, di balik rasa takut tersebut, tersimpan pesan ekologis yang kerap luput disadari, Sanca Bodo bukanlah pendatang yang sengaja “mencari masalah”, melainkan satwa liar yang ruang jelajahnya kian terdesak oleh perubahan bentang alam.
Ketika Habitat Menyempit, Konflik Tak Terhindarkan
Sanca Bodo merupakan predator puncak pada ekosistem tertentu yang berperan penting dalam mengendalikan populasi mangsa, terutama hewan pengerat. Hilangnya tutupan vegetasi, fragmentasi habitat, serta perubahan tata guna lahan di sekitar kawasan hutan dan persawahan membuat satwa ini terdorong mencari tempat berlindung dan sumber pakan baru, termasuk di sekitar rumah warga.
Dalam konteks ini, kemunculan sanca di permukiman bukan semata-mata persoalan keselamatan manusia, melainkan sinyal dini bahwa keseimbangan ekosistem sedang mengalami tekanan.
Penanganan yang dilakukan Tim Matawali RKW 05 Ponorogo mencerminkan pendekatan konservasi modern yang tidak hanya berfokus pada satwa, tetapi juga pada rasa aman masyarakat. Setelah diterima secara resmi, kedua ekor Sanca Bodo tersebut dirawat sementara di kandang transit untuk memastikan kondisi kesehatan dan meminimalkan stres sebelum dilepasliarkan kembali ke habitat alaminya. Di sinilah prinsip kehati-hatian diterapkan, memastikan bahwa satwa yang dilepas benar-benar siap secara fisik dan ekologis, sekaligus mencegah risiko konflik lanjutan.
Konservasi Yang Hadir Lebih Dekat
Kasus ini menegaskan bahwa konservasi tidak selalu hadir dalam bentuk patroli di kawasan hutan atau pelepasliaran di alam liar yang jauh dari pemukiman. Konservasi juga hadir di halaman rumah warga, di gang sempit desa, dan dalam komunikasi yang menenangkan saat masyarakat dilanda kecemasan.
Kolaborasi antara masyarakat, lembaga sosial seperti LPBI NU, dan BBKSDA Jawa Timur menjadi contoh penting bagaimana upaya perlindungan keanekaragaman hayati dapat berjalan seiring dengan kepentingan keselamatan manusia.
Di tengah lanskap Jawa Timur yang terus berubah, perjumpaan manusia dan satwa liar akan semakin sering terjadi. Tantangannya bukan lagi sekadar bagaimana menjauhkan satwa dari manusia, tetapi bagaimana menjaga jarak yang seimbang, cukup aman bagi manusia, cukup lestari bagi satwa.
Peristiwa penyelamatan dua ekor sanca bodo di Ponorogo ini menjadi pengingat bahwa konservasi bukan urusan jauh di dalam hutan. Ia adalah kerja sehari-hari, hadir di tengah masyarakat, dan tumbuh dari kesadaran bersama bahwa manusia dan satwa liar berbagi ruang hidup yang sama.
Penulis : Fajar Dwi Nur Aji – PEH Ahli Muda BBKSDA Jatim
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Bidang KSDA Wilayah I Madiun