Potret Keanekaragaman Burung Air dan Pentingnya Mangrove Wonorejo

Share

Catatan Asian Waterbird Census 2026 dalam Menjaga Jalur Migrasi dan Ekosistem Lahan Basah Jawa Timur

Di hamparan lumpur Mangrove Wonorejo, Surabaya, jalur migrasi burung air dunia dijaga dalam sunyi. Pada 30 Januari 2026, tim Seksi KSDA Wilayah III Surabaya melaksanakan Asian Waterbird Census (AWC) 2026, sebuah pemantauan yang merekam denyut kehidupan burung air migran, residen, hingga endemik di salah satu ekosistem lahan basah terpenting Jawa Timur.

Kegiatan ini mencatat 14 jenis burung air yang memanfaatkan Mangrove Wonorejo sebagai tempat singgah, mencari makan, dan bertahan hidup. Di hari yang sama, disaat sebagian personel mengevakuasi satwa konflik dari permukiman warga, tim lainnya berdiri di lumpur pesisir—menegaskan bahwa konservasi hadir di lebih dari satu medan tugas. Menyelamatkan satwa dan menjaga jalur migrasi yang senyap namun vital.

Membaca Jejak Migrasi di Lahan Basah Pesisir
Hasil pengamatan AWC menunjukkan keberadaan burung migran penuh, migran sebagian, residen, hingga endemik Jawa. Dari kelompok migran penuh tercatat Trinil Pantai (Actitis hypoleucos), Trinil Semak (Tringa glareola), Kedidi Leher Merah (Calidris ruficollis), Dara Laut Aleutian (Onychoprion aleuticus), dan Blekok Cina (Ardeola bacchus). Kehadiran mereka menegaskan peran Mangrove Wonorejo sebagai titik persinggahan penting di lintasan migrasi Asia–Australasia.

Kelompok migran sebagian seperti Cangak Merah (Ardea purpurea), Kirik-Kirik Laut (Merops philippinus), Kokokan Laut (Butorides striata), serta Dara Laut Tengkuk Hitam (Sterna sumatrana) memperlihatkan fleksibilitas penggunaan habitat pesisir yang dinamis, bergantung musim, pasang surut, dan ketersediaan pakan. Sementara itu, burung residen seperti Pecuk Padi Asia (Phalacrocorax sulcirostris), Kuntul Kecil (Egretta garzetta), Blekok Sawah (Ardeola speciosa), dan Kowak Malam Kelabu (Nycticorax nycticorax) menandai fungsi mangrove sebagai rumah yang menetap.

Yang paling istimewa, Cerek Jawa (Anarhynchus javanicus), burung endemik Pulau Jawa, juga tercatat. Kehadirannya menjadi pengingat bahwa perlindungan lahan basah pesisir bukan sekadar isu migrasi global, tetapi juga tanggung jawab menjaga warisan hayati Nusantara.

Empat Jenis Dilindungi, Satu Ekosistem Kunci
Mengacu pada Permen LHK Nomor P.106, setidaknya empat jenis burung berstatus dilindungi tercatat selama pengamatan mulai dari dara laut tengkuk hitam, dara laut aleutian, cerek jawa, dan blekok cina. Data ini memperkuat urgensi pengelolaan Mangrove Wonorejo sebagai habitat kunci, bukan hanya benteng ekologis pesisir, tetapi juga simpul keselamatan spesies.

Mangrove menyediakan kombinasi unik: substrat berlumpur kaya organisme, perairan dangkal produktif, serta kanopi pelindung dari gangguan. Di sinilah burung-burung air memulihkan energi setelah ribuan kilometer terbang, sebelum melanjutkan perjalanan lintas benua.

Konservasi di Dua Medan
AWC 2026 Part I juga mencerminkan realitas kerja konservasi, serentak dan tak selalu terlihat. Pada hari yang sama, personel Seksi KSDA Wilayah III Surabaya menjalankan tugas berbeda di lokasi berbeda, menangani konflik satwa di permukiman, sekaligus menjaga jalur migrasi di pesisir. Dua medan, satu tujuan, memastikan manusia dan satwa dapat berbagi ruang hidup secara aman.

Lebih dari sekadar angka, hasil AWC menjadi dasar pengambilan kebijakan, menilai kesehatan ekosistem lahan basah, memetakan ancaman, dan merancang langkah pengelolaan adaptif. Di tengah tekanan urbanisasi pesisir, data lapangan yang konsisten adalah kompas agar pembangunan tidak memutus nadi migrasi burung air.

Menjaga yang Senyap namun Vital
Mangrove Wonorejo mungkin tidak selalu menjadi panggung utama, tetapi ia bekerja tanpa henti, menahan abrasi, menyaring polutan, dan memberi ruang hidup bagi ratusan spesies. AWC 2026 mengingatkan kita bahwa konservasi bukan peristiwa sesaat, melainkan proses panjang yang membutuhkan kehadiran, ketekunan, dan data.

Di lumpur yang sunyi itu, negara hadir. Menjaga jalur migrasi dunia, sambil merawat ekosistem lahan basah Jawa Timur agar tetap bernapas, hari ini dan esok.

Penulis : Fajar Dwi Nur Aji – PEH Ahli Muda BBKSDA Jatim
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik