Belajar di Habitat Harapan! Magang Mahasiswa FKH UGM Menghidupkan Ilmu Kedokteran Hewan di Dunia Konservasi

Share

Liburan semester kerap dimaknai sebagai jeda dari rutinitas akademik. Namun bagi empat mahasiswa semester tujuh Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada, jeda itu justru menjadi pintu masuk menuju ruang belajar yang lebih luas, ruang di mana ilmu pengetahuan diuji langsung oleh realitas lapangan, dan empati tumbuh berdampingan dengan keterampilan profesional.

Pada 19–31 Januari 2026, keempat mahasiswa tersebut menjalani magang mandiri di Unit Penyelamatan Satwa BBKSDA Jawa Timur, sebuah simpul penting dalam upaya penyelamatan dan perawatan satwa liar. Di tempat inilah teori-teori kedokteran hewan yang selama ini mereka pelajari di bangku kuliah menemukan bentuk nyatanya. Setiap kandang, setiap ruang perawatan, dan setiap satwa yang ditangani menjadi bagian dari habitat harapan, ruang belajar yang tidak hanya mengasah kompetensi teknis, tetapi juga membentuk kepekaan nurani.

Selama magang, para mahasiswa terlibat langsung dalam berbagai aktivitas konservasi yang bersifat teknis sekaligus ilmiah. Mereka mempelajari pengelolaan pakan dan kandang sesuai kebutuhan biologis satwa, melakukan pemeriksaan feses dan parasit, serta menjalankan pemeriksaan fisik untuk menilai kondisi kesehatan satwa secara menyeluruh.

Proses pemasangan microchip identifikasi memperkenalkan mereka pada pentingnya sistem penandaan sebagai dasar pengelolaan dan pelacakan satwa. Sementara praktik pembiusan dengan prosedur yang aman menuntut ketelitian tinggi, kedisiplinan, dan tanggung jawab etis.

Pengalaman lapangan semakin lengkap ketika mereka turut mendampingi proses evakuasi satwa dari masyarakat. Di titik ini, mahasiswa menyaksikan langsung kompleksitas hubungan antara manusia dan satwa liar, bahwa konservasi tidak pernah berdiri sendiri sebagai urusan medis semata. Kedokteran hewan dalam konteks konservasi adalah perpaduan antara sains, komunikasi, edukasi publik, dan pemahaman ekologi yang utuh.

Kegiatan magang ini menjadi wujud nyata kolaborasi antara perguruan tinggi dan institusi konservasi. Bersama Balai Besar KSDA Jawa Timur, Unit Penyelamatan Satwa selain sebagai tempat singgah sementara bagi satwa hasil penyelamatan, ia juga berfungsi sebagai laboratorium hidup, tempat ilmu pengetahuan dan teknologi tidak hanya diterapkan, tetapi juga diuji melalui dinamika lapangan yang sesungguhnya. Sinergi ini menegaskan peran strategis lembaga konservasi sebagai ruang pembelajaran bagi calon profesional konservasi masa depan.

Lebih dari sekadar kewajiban akademik, magang ini adalah proses pendewasaan. Para mahasiswa belajar bekerja dalam sistem, memahami standar operasional konservasi, serta menumbuhkan mental tangguh untuk menghadapi realitas lapangan yang kerap tak ideal. Langkah-langkah kecil yang mereka tempuh, membersihkan kandang, memeriksa kesehatan satwa, hingga mempresentasikan hasil pembelajaran, menjadi bekal besar bagi masa depan mereka. Dan pada saat yang sama, menjadi harapan bagi satwa liar yang keberlangsungannya bergantung pada ilmu, empati, dan dedikasi generasi penerus konservasi.

Sebagai penutup rangkaian magang, keempat mahasiswa menyusun refleksi dan evaluasi atas seluruh pengalaman lapangan yang telah mereka jalani. Hasil pembelajaran tersebut kemudian dipresentasikan secara langsung di hadapan pejabat struktural dan fungsional lingkup Balai Besar KSDA Jawa Timur. Forum ini menjadi ruang dialog ilmiah dan profesional, tempat mahasiswa tidak hanya melaporkan apa yang telah dikerjakan, tetapi juga menyampaikan pemahaman, tantangan, serta pelajaran yang mereka peroleh selama terlibat di dunia konservasi satwa liar. (dna)

Penulis : Norlaili Isnaini – PEH Ahli Pertama & Fajar Dwi Nur Aji – PEH Ahli Muda. BBKSDA Jatim
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Balai Besar KSDA Jawa Timur