Alam Tak Pernah Diam, Begitu Pula Ancamannya
Gresik – Pagi belum sepenuhnya terang saat tim patroli mulai menapaki jalur di Blok Gunung Besar, Pulau Bawean. Tanah masih basah, dedaunan menyimpan embun, dan suara burung memecah sunyi hutan. Di tempat seperti ini, kehidupan tak pernah benar-benar berhenti. Alam terus bekerja, diam, tapi pasti.
Selama 7 hingga 15 Maret 2026, tim Resort Konservasi Wilayah (RKW) 09 Gresik–Bawean bersama Masyarakat Mitra Polhut (MMP) Bawean Lestari menyisir kawasan Suaka Alam Bawean. Mereka menempuh 15 grid patroli dengan luasan lebih dari 43 Ha, berjalan kaki menembus jalur lama dan membuka lintasan baru. Setiap temuan dicatat, setiap jejak dibaca.
Hasilnya menunjukkan dua hal yang berjalan beriringan tentang kehidupan yang masih bertahan, dan gangguan yang mulai meninggalkan tanda. Di sejumlah titik, hutan Bawean masih memperlihatkan keseimbangan yang relatif utuh. Tim mencatat keberadaan berbagai jenis satwa, dari burung-burung kanopi hingga mamalia darat.
Salah satu yang paling penting adalah Rusa Bawean (Axis kuhlii). Satwa endemik ini hanya hidup di pulau tersebut. Kehadirannya menjadi penanda bahwa habitat masih cukup mendukung. Di atasnya, elang ular Bawean sesekali terlihat melayang, mengawasi ruang yang sama yang telah mereka huni selama puluhan generasi.
Mamalia lain seperti monyet ekor panjang dan kelelawar besar juga terpantau. Di lantai hutan, jejak amfibi dan reptil ditemukan di beberapa titik. Kupu-kupu Troides helena, yang dikenal sebagai kupu-kupu raksasa, ikut memperkaya lanskap yang rapuh ini.
Vegetasi hutan pun masih beragam. Jenis-jenis seperti gondang, jati, hingga pala hutan tumbuh berdampingan. Di sela batang dan cabang, anggrek epifit menempel, sebagian sedang berbunga, sebagian lain masih menunggu musimnya. Tim bahkan mencatat dugaan jenis anggrek baru yang belum teridentifikasi. Semua ini menunjukkan satu hal bahwa Bawean masih hidup.
Namun, tidak semua yang ditemukan membawa kabar baik. Di beberapa grid patroli, tim mendapati bekas penebangan pohon. Empat pohon dari jenis berbeda tercatat telah ditebang. Tidak ada aktivitas yang terlihat saat itu, hanya sisa-sisa yang tertinggal, tunggak, potongan kayu, dan ruang terbuka kecil di antara vegetasi.
Jejak seperti ini sering kali muncul tanpa suara. Tidak mencolok, tapi cukup untuk mengubah struktur hutan dalam jangka panjang.
Temuan ini mengindikasikan bahwa masih ada oknum yang melakukan aktivitas tidak sesuai dengan prinsip perlindungan kawasan. Namun, penting untuk dicatat bahwa hal ini tidak mencerminkan masyarakat Bawean secara keseluruhan. Sebaliknya, sebagian masyarakat justru terlibat aktif dalam upaya perlindungan, termasuk melalui MMP Bawean Lestari. Yang dihadapi bukan komunitas, tetapi tindakan individu.
Selain itu, beberapa pal batas kawasan juga ditemukan dalam kondisi rusak. Dalam konteks pengelolaan kawasan, batas yang tidak jelas dapat membuka ruang tafsir, dan dalam beberapa kasus, membuka peluang pelanggaran.
Bagi petugas, patroli bukan sekadar rutinitas. Ia adalah cara membaca apa yang terjadi di dalam hutan.
Metode SMART Patrol yang digunakan memungkinkan setiap temuan dipetakan secara sistematis. Grid demi grid menjadi unit analisis yang membantu melihat pola, di mana satwa masih aktif, di mana tekanan mulai muncul. Pendekatan ini juga memperlihatkan pentingnya kerja kolaboratif.
Keterlibatan MMP Bawean Lestari menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan pengawasan. Mereka mengenal medan, memahami dinamika lokal, dan menjadi penghubung antara kawasan dan masyarakat. Dalam banyak kasus, pendekatan seperti ini lebih efektif dibandingkan pengawasan yang bersifat sepihak.
Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur, Nur Patria Kurniawan, S.Hut., M.Sc., menyebut hasil patroli ini sebagai gambaran kondisi aktual kawasan.
“Secara umum, ekosistem di Bawean masih dalam kondisi baik. Keberadaan spesies endemik dan indikator ekologis menunjukkan itu,” ujarnya.
Namun beliau tidak menutup mata terhadap temuan gangguan.
“Indikasi aktivitas ilegal tetap menjadi perhatian. Ini bukan hanya soal penegakan hukum, tetapi juga bagaimana kita membangun kesadaran bersama agar kejadian serupa tidak terulang,” tambahnya.
Beliau juga menegaskan bahwa pendekatan ke depan akan menggabungkan patroli intensif dengan edukasi kepada masyarakat sekitar.
“Konservasi tidak bisa berdiri sendiri. Ia harus tumbuh bersama masyarakat,” pungkasnya.
Sejumlah langkah tindak lanjut telah disusun, mulai dari peningkatan patroli di titik rawan hingga perbaikan sarana batas kawasan. Namun di luar itu, tantangan utama tetap sama untuk tetap menjaga keseimbangan antara perlindungan kawasan dan kebutuhan manusia di sekitarnya.
Bawean adalah ruang hidup yang kompleks. Ia bukan hanya tentang hutan dan satwa, tetapi juga tentang manusia yang hidup berdampingan dengannya. Di sinilah harapan itu diletakkan, bahwa kesadaran akan pentingnya menjaga kawasan akan terus tumbuh, dan bahwa tindakan-tindakan yang merusak tidak lagi terulang.
Hutan Bawean tidak pernah benar-benar diam. Ia selalu memberi tanda tentang apa yang masih terjaga, dan apa yang mulai berubah. Sebagian tanda itu datang dalam bentuk kehidupan seperti rusa yang melintas, burung yang bersuara, bunga yang mekar.
Sebagian lain datang sebagai peringatan dari pohon yang tumbang, batas yang hilang, jejak yang tak seharusnya ada. Di antara keduanya, manusia mengambil peran. Menentukan apakah tanda-tanda itu akan diabaikan atau dijawab.
Penulis : Fajar Dwi Nur Aji – PEH Ahli Muda BBKSDA Jatim
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik